Sabtu, 07 Februari 2015

EXTRAORDENAIRY

TEMA : PEMANASAN GLOBAL

PEMANASAN GLOBAL DAN EMISI KARBON
AKIBAT PEMBUKAAN HUTAN YANG TIDAK BIJAK

1. Efek Rumah Kaca
Efek rumah caca dapat divisualisasikan sebagai sebuah proses. Pada kenyataannya, di lapisan atmosfer terdapat selimut gas. Rumah kaca adalah analogi atas bumi yang dikelilingi gelas kaca. Panas matahari masuk ke bumi dengan menembus gelas kaca tersebut berupa radiasi gelombang pendek. Sebagian diserap oleh bumi dan sisanya dipantulkan kembali ke angkasa sebagai radiasi gelombang panjang. Namun, panas yang seharusnya dapat dipantulkan kembali ke angkasa menyentuh permukaan gelas kaca dan terperangkap di dalam bumi. Layaknya proses dalam rumah kaca di pertanian dan perkebunan, gelas kaca memang berfungsi menahan panas untuk menghangatkan rumah kaca. Masalah timbul ketika aktivitas manusia menyebabkan peningkatan konsentrasi selimut gas di atmosfer (gas rumah kaca) sehingga melebihi konsentrasi yang seharusnya. Maka, panas matahari yang tidak dapat dipantulkan ke angkasa akan meningkat pula. Semua proses tersebut disebut efek rumah kaca. Pemanasan global dan perubahan iklim merupakan dampak dari efek rumah kaca.
Efek rumah kaca terjadi alami karena memungkinkan kelangsungan hidup semua makhluk di bumi. Tanpa adanya gas rumah kaca, seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), atau dinitro oksida (N2O), suhu permukaan bumi akan 33 derajat celcius lebih dingin. Sejak awal jaman industrialisasi, awal akhir abad ke-17, konsentrasi gas rumah kaca meningkat drastis. Di perkirakan pada tahun 1880 temperatur rata-rata bumi meningkat 0.5 – 0.6 derajat celcius akibat emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari aktivitas manusia.
Yang termasuk dalam kelompok gas rumah kaca adalah karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitro oksida (N2O), hidrofluorokarbon (HFC), perfluorokarbon (PFC), sampai sulfur heksafluorida (SF6). Jenis GRK yang memberikan sumbangan paling besar bagi emisi gas rumah kaca adalah karbondioksida, metana, dan dinitro oksida. Sebagian besar dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara) di sektor energi dan transport, penggundulan hutan, dan pertanian. Sementara, untuk gas rumah kaca lainnya (HFC, PFC, SF6 hanya menyumbang kurang dari 1%.


Sumber-sumber emisi karbondioksida secara global dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara):
· 36% dari industri energi (pembangkit listrik/kilang minyak, dll)
· 27% dari sektor transportasi
· 21% dari sektor industri
· 15% dari sektor rumah tangga & jasa
· 1% dari sektor lain-lain.

2. Pemanasan Global
Pemanasan global adalah meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi akibat peningkatan jumlah emisi gas rumah kaca di atmosfer. Pemanasan global akan diikuti dengan perubahan iklim, seperti meningkatnya curah hujan di beberapa belahan dunia sehingga menimbulkan banjir dan erosi. Sedangkan, di belahan bumi lain akan mengalami musim kering yang berkepanjangan disebabkan kenaikan suhu.
Pemanasan global dan perubahan iklim terjadi akibat aktivitas manusia, terutama yang berhubungan dengan penggunaan bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara) serta kegiatan lain yang berhubungan dengan hutan, pertanian, dan peternakan. Aktivitas manusia di kegiatan-kegiatan tersebut secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan perubahan komposisi alami atmosfer, yaitu peningkatan jumlah gas rumah kaca secara global, salah satunya gas karbon.
Akan tetapi sesungguhnya, gas karbon dioksida bukanlah suatu masalah. Gas karbon dioksida adalah salah satu yang menunjang kehidupan di atas bumi. Tanpa gas karbon dioksida didalam atmospir, bumi tidak bisa mendukung kehidupan sebab temperatur bumi akan terlalu dingin dan semua air akan membeku. Gas karbon dioksida adalah suatu peredam kuat sinar inframerah, gas karbon dioksida akan menyerap panas yang dipancarkan bumi dan dipantulkan kembali. Ini adalah sebagai efek rumah kaca. Proses tersebut merupakan suatu proses alami yang sangat penting bagi terbentuknya kehidupan di bumi. Bagaimanapun, ketika ada terlalu banyak gas karbon dioksida didalam atmospir, efek rumah kaca diintensifkan, hal tersebut akan menyebabkan suatu masalah bagi lingkungan. Sebelum masa revolusi industri, konsentrasi gas karbon dioksida didalam atmospir adalah 280 ppm. Sejak tahun 1880, akibat dari peningkatan pembakaran bahan bakar fosil sebagai suatu sumber energi, konsentrasi CO2 telah dengan mantap bangkit sebanyak kira-kira 1,5 ppm/tahun sehingga kandungan gas karbon dioksida dalam atmosfir pada saat ini mencapai 365 ppm.
Konsentrasi gas karbon dioksida akan terus meningkat kecuali jika emisi/pancaran dari bahan bakar fosil dibatasi atau dihentikan bersama-sama. Sedangkan emisi karbon dioksida umumnya berasal dari minyak bumi, terutama dari gas alam, minyak bumi dan batubara, dari tahun ke tahun sebagai penyumbang terbanyak emisi gas CO2 dimuka bumi ini.
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) memperkirakan konsentrasi gas karbon dioksida didalam atmosfir akan naik menjadi sekitar 540 - 940 ppm pada tahun 2100. Kenaikan rata-rata konsentrasi gas CO2 akan mengakibatkan kenaikan suhu rata-rata di bumi, hal tersebut mengakibatkan efek pemanasan global, yang akan mempengaruhi perubahan iklim setempat di bumi, pada akhirnya tentu akan mempengaruhi kehidupan di bumi.
Kenaikan suhu bumi rata-rata secara global akan mempengaruhi cuaca dan iklim setempat di bumi yang mengakibatkan kenaikan suhu ekstrim di wilayah tertentu, dampaknya tentu terhadap kehidupan di wilayah tersebut.
Efek rumah kaca adalah penyebab, sementara pemanasan global dan perubahan iklim adalah akibat. Efek rumah kaca menyebabkan terjadinya akumulasi panas (atau energi) di atmosfer bumi. Dengan adanya akumulasi yang berlebihan tersebut, iklim global melakukan penyesuaian. Penyesuaian yang dimaksud salah satunya peningkatan temperatur bumi, kemudian disebut pemanasan global dan berubahnya iklim regional, pola curah hujan, penguapan, pembentukan awan disebut perubahan iklim.
Adapun dampak yang dapat ditimbulkan akibat perubahan iklim secara global adalah sebagai berikut:
·         Musnahnya berbagai jenis keanekragaman hayati
·         Meningkatnya frekuensi dan intensitas hujan badai, angin topan, dan banjir
·         Mencairnya es dan glasier di kutub
·         Meningkatnya jumlah tanah kering yang potensial menjadi gurun karena kekeringan yang berkepanjangan
·         Kenaikan permukaan laut hingga menyebabkan banjir yang luas. Pada tahun 2100 diperkirakan permukaan air laut naik hingga 15 - 95 cm.
·         Kenaikan suhu air laut menyebabkan terjadinya coral bleaching dan kerusakan terumbu karang di seluruh dunia
·         Meningkatnya frekuensi kebakaran hutan
·         Menyebarnya penyakit-penyakit tropis, seperti malaria, ke daerah-daerah baru karena bertambahnya populasi serangga (nyamuk)
·         Daerah-daerah tertentu menjadi padat dan sesak karena terjadi arus pengungsian.
Pada tahun 1988, Badan PBB untuk lingkungan (United Nations Enviroment Programme) dan organisasi meteorologi dunia (World Meteorology Organization) mendirikan sebuah panel antar pemerintah untuk perubahan iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC) yang terdiri atas 300 lebih pakar Perubahan Iklim dari seluruh dunia. Pada tahun 1990 dan 1992, IPCC menyimpulkan bahwa penggandaan jumlah gas rumah kaca di atmosfer mengarah pada konsekuensi serius bagi masalah sosial, ekonomi, dan sistem alam di dunia. Selain itu, IPCC menyimpulkan bahwa emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari aktivitas manusia juga memberikan kontribusi pada gas rumah kaca alami dan akan menyebabkan atmosfer bertambah panas. IPCC memperkirakan penggandaan emisi gas rumah kaca akan menyebabkan pemanasan global sebesar 1,5 – 4,5 derajat celcius.
El Nino adalah fenomena alami yang telah terjadi sejak berabad-abad yang lalu, walaupun tidak selalu dengan pola yang sama. El Nino merupakan gelombang panas di garis ekuator Samudera Pasifik. Kini, El Nino muncul setiap 2 – 7 tahun, lebih kuat dan berkontribusi pada peningkatan temperatur bumi. Dampaknya dapat dirasakan di seluruh dunia dan menunjukkan bahwa iklim di bumi benarbenar berhubungan. Para ilmuwan menguji bagaimana pemanasan global yang diakibatkan oleh aktivitas manusia dapat mempengaruhi El Nino: akumulasi gas rumah kaca di atmosfer “membantu” menyuntikkan panas ke Samudera Pasifik. Oleh karena itu, El Nino muncul lebih sering dan lebih ganas dari sebelumnya.
Masalah lingkungan dan kesehatan manusia yang terkait dengan penipisan lapisan ozon sesungguhnya berbeda dengan resiko yang dihadapi manusia dari akibat pemansan global. Walaupun begitu, kedua fenomena tersebut saling berhubungan. Beberapa polutan (zat pencemar) memberikan kontribusi yang sama terhadap penipisan lapisan ozon dan pemansan global. Penipisan lapisan ozon mengakibatkan masuknya lebih banyak radiasi sinar ultraviolet (UV) yang berbahaya masuk ke permukaan bumi. Namun, meningkatnya radiasi sinar UV bukanlah penyebab terjadinya pemansan global, melainkan kanker kulit, penyakit katarak, menurunnya kekebalan tubuh manusia, dan menurunnya hasil panen. Penipisan lapisan ozon terutama disebabkan oleh chlorofluorcarbon (CFC). Saat ini negara-negara industri sudah tidak memproduksi dan menggunakan CFC lagi. Dan, dalam waktu dekat, CFC akan benar-benar dihapus di seluruh dunia. Seperti halnya karbondioksida, CFC juga merupakan Gas rumah kaca dan berpotensi terhadap pemansan global jauh lebih tinggi dibanding karbondioksida sehingga dampak akumulasi CFC di atmosfer mempercepat laju pemansan global. CFC akan tetap berada di atmosfer dalam waktu sangat lama, berabad-abad. Artinya, kontribusi CFC terhadap penipisan lapisan ozon dan perubahan iklim akan berlangsung dalam waktu sangat lama.

3. Pemanasan Global , Emisi Karbon Dan Perubahan Iklim
Pemanasan global terjadi ketika ada konsentrasi gas-gas tertentu yang dikenal dengan gas rumah kaca, yg terus bertambah di udara, Hal tersebut disebabkan oleh tindakan manusia, kegiatan industri, khususnya CO2 dan chlorofluorocarbon. Yang terutama adalah karbon dioksida, yang umumnya dihasilkan oleh penggunaan batubara, minyak bumi, gas dan penggundulan hutan serta pembakaran hutan. Asam nitrat dihasilkan oleh kendaraan dan emisi industri, sedangkan emisi metan disebabkan oleh aktivitas industri dan pertanian.
Chlorofluorocarbon (CFC) merusak lapisan ozon seperti juga gas rumah kaca menyebabkan pemanasan global, tetapi sekarang dihapus dalam Protokol Montreal. Karbon dioksida, chlorofluorocarbon, metan, asam nitrat adalah gas-gas polutif yang terakumulasi di udara dan menyaring banyak panas dari matahari. Sementara lautan dan vegetasi menangkap banyak CO2, kemampuannya untuk menjadi “atap” sekarang berlebihan akibat emisi. Ini berarti bahwa setiap tahun, jumlah akumulatif dari gas rumah kaca yang berada di udara bertambah dan itu berarti mempercepat pemanasan global.
Sepanjang seratus tahun ini konsumsi energi dunia bertambah secara spektakuler. Sekitar 70% energi dipakai oleh negara-negara maju; dan 78% dari energi tersebut berasal dari bahan bakar fosil. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan yang mengakibatkan sejumlah wilayah terkuras habis dan yang lainnya mereguk keuntungan. Sementara itu, jumlah dana untuk pemanfaatan energi yang tak dapat habis (matahari, angin, biogas, air, khususnya hidro mini dan makro), yang dapat mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, baik di negara maju maupun miskin tetaplah rendah, dalam perbandingan dengan bantuan keuangan dan investasi yang dialokasikan untuk bahan bakar fosil dan energi nuklir. Penggundulan hutan yang mengurangi penyerapan karbon oleh pohon, menyebabkan emisi karbon bertambah sebesar 20%, dan mengubah iklim mikro lokal dan siklus hidrologis, sehingga mempengaruhi kesuburan tanah.
Pencegahan perubahan iklim yang merusak membutuhkan tindakan nyata untuk menstabilkan tingkat gas rumah kaca sekarang di udara sesegera mungkin; dengan mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 50%, demikian Panel Inter Pemerintah. Jika tidak melakukan apa-apa maka hal-hal berikut akan membawa dampak yang merusak.
Sejumlah konsekuensi pun akan dapat kita rasakan akibat pemanasan global tersebut. Adapun konsekuensinya adalah seperti berikut :
·         Kenaikan permukaan laut yang membawa dampak luas bagi manusia; terutama bagi penduduk yang tinggal di dataran rendah, di daerah pantai yang padat penduduk di banyak negara dan di delta-delta sungai. Negara-negara miskin akan dilanda kekeringan dan banjir. Salah satu perkiraan adalah bahwa sekitar tahun 2020 sekitar _ penduduk dunia terancam bahaya kekeringan dan banjir. Negara-negara miskin akan menderita luar biasa akibat perubahan iklim – sebagian karena letak geografisnya dan juga karena kekurangan sumber alam untuk penyesuaian dengan perubahan dan melawan dampaknya.
·         Manusia dan spesies lainnya di planet sudah menderita akibat perubahan iklim. Proyeksi ilmiah menunjukkan adanya peluasan dan peningkatan penderitaan, misalnya, tekanan panas, bertambahnya dan berkembangnya serangga yang menyebabkan penyakit tropis baik di utara maupun selatan katulistiwa. Juga adanya rawan pangan yang makin menignkat.
·         Biaya tahunan untuk menangkal pemanasan global dapat mencapai 300 miliar dollar, 50 tahun ke depan jika tidak diambil tidakan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Jika pemimpin politik kita dan pembuat kebijaksanaan politik tidak bertindak cepat, dunia ekonomi akan menderita kemunduran serius. Selama dekade lalu bencana alam telah mengeruk dana sebesar 608 milliar dollar.
·         Wakil PBB untuk Program Lingkungan Hidup mengemukakan pada Konvensi Kerangka Kerja PBB pada Konferensi Perubahan Iklim ke-7 di Maroko November 2001 bahwa panen makanan pokok seperti gandum, beras dan jagung dapat merosot sampai 30% seratus tahun mendatang akibat pemanasan global. Mereka cemas bahwa para petani akan beralih tempat olahan ke pegunungan yang lebih sejuk, menyebabkan terdesaknya hutan dan terancamnya kehidupan di hutan dan terancamnya mutu serta jumlah suplai air. Penemuan baru ini menunjukkan bahwa sebagian besar dari rakyat pedesaan di negara berkembang sudah mengalami dan menderita kelaparan dan gizi buruk tersebut.

4. Hubungan Kebakaran Hutan, Emisi Karbon, Pemanasan Global dan Perubahan Iklim
Di saat kompleksitas ekosistem global sedikit demi sedikit dimengerti, interaksi antara satu kejadian alam dengan yang lainnya menjadi lebih jelas. Hal ini berlaku pada fenomena perubahan iklim global dengan penyebab sekaligus dampak yang menyertainya di Indonesia, yaitu kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran hutan dan lahan seakan sudah menjadi tradisi tahunan di Indonesia, terutama setiap kali musim kemarau datang. Pada kejadian kebakaran berskala besar di tahun 1997-98, diestimasi sekitar 10 juta hektar lahan yang rusak atau terbakar, dengan kerugian untuk Indonesia terhitung 3 milyar dollar Amerika. Kejadian ini sekaligus melepaskan emisi gas rumah kaca (GRK) sebanyak 0,81-2,57 Gigaton karbon ke atmosfer (setara dengan 13-40% total emisi karbon dunia yang dihasilkan dari bahan baker fosil per tahunnya) yang berarti menambah kontribusi terhadap perubahan iklim dan pemanasan global.
Dampak penting dari kebakaran hutan dan lahan sangat dirasakan terutama oleh masyarakat yang menggantungkan hidupnya kepada hutan, satwa liar (seperti gajah, harimau, dan orang utan) yang kehilangan habitatnya, sektor transportasi karena terganggunya jadwal penerbangan, dan juga masyarakat secara keseluruhan yang terganggu kesehatannya karena terpapar polusi asap dari kebakaran. Tercatat sekitar 70 juta orang di enam negara di ASEAN terganggu kesehatannya karena menghirup asap dari kebakaran di Indonesia pada tahun 1997-1998. Seperti terdapat dalam satu lingkaran, selain berkontribusi terhadap akumulasi GRK di atmosfer dengan bertambahnya emisi karbon dunia, kebakaran hutan dan lahan juga dipicu oleh meningkatnya pemanasan global itu sendiri – dengan penyebab utama tetap merupakan akibat ulah manusia yang melakukan pembakaran dalam upaya pembukaan hutan dan lahan untuk hutan tanaman industri/HTI, perkebunan, pertanian, dll (lihat Gambar 1). Kemarau ekstrim, yang seringkali dikaitkan dengan pengaruh iklim El NiƱo, memberikan kondisi ideal terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Setiap tahunnya dalam musim kemarau, hampir berturut-turut, kejadian kebakaran hutan dan lahan berulang dengan berbagai tingkatan. Pada tahun 2002 dan 2005, kebakaran hutan dan lahan terjadi kembali dengan skala yang cukup besar terutama diakibatkan oleh konversi hutan di lahan gambut. Dari data yang terkumpul terhitung sejak 1997-1998, rata-rata 80% kebakaran hutan dan lahan terjadi di lahan gambut. Data yang dianalisis WWF-Indonesia menunjukkan bahwa di Provinsi Kalimantan Tengah mayoritas kejadian kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2002-2003 terjadi di lahan gambut. Sedangkan, di Provinsi Riau dalam periode tahun 2001-2006, sekitar 67% kebakaran terjadi di lahan gambut (CRISP, 2005).
Hutan pada lahan gambut mempunyai peranan penting dalam penyimpanan karbon (30% kapasitas penyimpanan karbon global dalam tanah) dan moderasi iklim sekaligus memberikan manfaat keanekaragaman hayati, pengatur tata air, dan pendukung kehidupan masyarakat. Indonesia memiliki 20 juta hektar lahan gambut yang terutama terletak di Sumatera (Riau memiliki 4 juta hektar) dan Kalimantan. Pondasi utama dari lahan gambut yang baik adalah air. Bila terjadi pembukaan hutan gambut maka hal ini akan mempengaruhi unit hidrologinya. Dengan sifat gambut yang seperti spons (menyerap air), maka pada saat pohon ditebang, akan terjadi subsidensi sehingga tanah gambut yang sifatnya hidropobik tidak akan dapat lagi menyerap air dan kemudian mengering. Dalam proses ini, terjadilah pelepasan karbon dan sekaligus mengakibatkan lahan gambut rentan terhadap kebakaran yang pada gilirannya dapat menyumbangkan pelepasan emisi karbon lebih lanjut.
Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup, diperkirakan lahan gambut di Riau saja menyimpan kandungan karbon sebesar 14.605 juta ton. Bila pembukaan lahan gambut dibiarkan, apalagi diikuti dengan pembakaran hutan dan lahan, maka dapat dibayangkan berapa banyak karbon yang terlepas ke atmosfer dan pemanasan global ataupun perubahan iklim menjadi lebih cepat terjadi, sekaligus dampak ikutan seperti asap dan lainnya akan terus dirasakan oleh masyarakat setiap tahunnya.
Untuk itu, pihak pemerintah, swasta dan masyarakat luas bersama-sama harus dapat mencegah kejadian kebakaran hutan dan lahan terutama:
·         Pembukaan lahan gambut harus dihentikan dan semua lahan gambut harus dilindungi dan dikelola secara seksama dengan memperhatikan tata hidrologi secara makro dan potensi lepasnya emisi karbon ke atmosfer.
·         Sektor swasta harus menerapkan praktek pengelolaan lestari dan bertanggung jawab, termasuk meniadakan pembakaran lahan dan melindungi daerah-daerah yang memiliki keanekaragaman hayati di sekitar konsesi mereka.
·         Harus ada mekanisme terpadu untuk mengkoordinasi pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan, mensinergikan dan menerapkan peraturan terutama terkait perlindungan lingkungan.
·         Masyarakat setempat harus diberdayakan oleh pemerintah dan sektor swasta dalam pengelolaan lahan yang lestari, terutama membantu petani/ pekebun skala kecil dalam proses transfer ilmu dan teknologi untuk menerapkan pembukaan lahan tanpa bakar.

5. Peran Hutan Dalam Pengendalian Pemanasan Global
Beberapa tahun terakhir ini penjarahan hutan atau penebangan liar di kawasan hutan makin marak terjadi dimana-mana seakan-akan tidak terkendali. Ancaman kerusakan hutan ini jelas akan menimbulkan dampak negatif yang luar biasa besarnya karena adanya efek domino dari hilangnya hutan, terutama pada kawasan-kawasan yang mempunyai nilai fungsi ekologis dan biodiversitas besar. Badan Planologi Departemen Kehutanan melalui citra satelit menunjukkan luas lahan yang masih berhutan atau yang masih ditutupi pepohonan di Pulau Jawa tahun 1999/2000 hanya tinggal empat persen saja. Kawasan ini sebagian besar merupakan wilayah tangkapan air pada daerah aliran sungai (DAS). Akibat dari kejadian ini tidak saja hilangnya suatu kawasan hutan yang tadinya dapat mendukung kehidupan manusia dalam berbagai aspek misal kebutuhan akan air, oksigen, kenyamanan (iklim mikro), keindahan (wisata), penghasilan (hasil hutan non kayu dan kayu), penyerapan carbon (carbon sink), pangan dan obat-obatan akan tetapi juga hilanglah biodiversity titipan generasi mendatang. Saat ini di dunia internasional telah berkembang trend baru melalui perdagangan karbon (CO2).
Perdagangan karbon diawali dengan disepakatinya Kyoto Protocol bahwa negara-negara penghasil emisi karbon harus menurunkan tingkat emisinya dengan menerapkan teknologi tinggi dan juga menyalurkan dana kepada negara-negara yang memiliki potensi sumberdaya alam untuk mampu menyerap emisi karbon secara alami misalnya melalui vegetasi (hutan). Indonesia dengan luas hutan tersebar ketiga di dunia, bisa berperan penting untuk mengurangi emisi dunia melalui carbon sink. Hal ini bisa terjadi jika hutan yang ada dijaga kelestariannya dan melakukan penanaman (afforestasi) pada kawasan bukan hutan (degraded land). Serta melakukan perbaikan kawasan hutan yang rusak (degraded forest) dengan cara penghutanan kembali (reforestasi).
Hutan Pinus di Indonesia sebagai salah satu hutan tanaman yang memiliki nilai ekonomi strategis dan persebarannya yang cukup luas saat ini diandalkan sebagai penghasil produk hasil hutan non kayu melalui produksi getahnya. Nilai ekonomi hutan Pinus dianggap masih rendah apabila hanya dihitung dari nilai getah dan kayunya saja, sudah saatnya dilakukan upaya penghitungan manfaat hutan sebagai penyedia jasa lingkungan yang diharapkan mampu memberikan nilai ekonomi lebih tinggi dengan mengetahui berbagai kemampuannya dalam menyediakan sumberdaya air, penyerap karbon, penghasil oksigen, jasa wisata alam, satwa, biodiversitas dan sebagainya.
Hutan dengan penyebarannya yang luas, dengan struktur dan komposisinya yang beragam diharapkan mampu menyediakan manfaat lingkungan yang amat besar bagi kehidupan manusia antara lain jasa peredaman terhadap banjir, erosi dan sedimentasi serta jasa pengendalian daur air. Peran hutan dalam pengendalian daur air dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Sebagai pengurang atau pembuang cadangan air di bumi melalui proses :
a) Evapotranspirasi
b) Pemakaian air konsumtif untuk pembentukan jaringan tubuh vegetasi.
2. Menambah titik-titik air di atmosfer.
3. Sebagai penghalang untuk sampainya air di bumi melalui proses intersepsi.
4. Sebagai pengurang atau peredam energi kinetik aliran air lewat :
a) Tahanan permukaan dari bagian batang di permukaan
b) Tahanan aliran air permukaan karena adanya seresah di permukaan.
5. Sebagai pendorong ke arah perbaikan kemampuan watak fisik tanah untuk memasukkan air lewat sistem perakaran, penambahan bahan organik ataupun adanya kenaikan kegiatan biologik di dalam tanah.
Siklus karbon di dalam biosfer meliputi dua bagian siklus penting, di darat dan di laut. Keduanya dihubungkan oleh atmosfer yang berfungsi sebagai fase antara. Siklus karbon global melibatkan transfer karbon dari berbagai reservoir. Jika dibandingkan dengan sumber karbon yang tidak reaktif, biosfer mengandung karbon yang lebih sedikit, namun demikian siklus yang terjadi sangat dinamik di alam (Vlek, 1997).
Sejumlah besar kalsium karbonat dalam lebih dari 10 juta tahun yang lalu telah terlarut dan tercuci dari permukaan daratan. Sebaliknya, dalam jumlah yang sama telah terpresipitasi dari air laut ke dalam lantai dasar laut. Waktu tinggal (residence time) karbon di dalam atmosfer dalam pertukarannya dengan hidrosfer berkisar antara 5 – 10 tahun, sedangkan dalam pertukarannya dengan sel tanaman dan binatang sekitar 300 tahun. Hal ini berbeda dalam skala waktu dibandingkan dengan residence time untuk karbon terlarut (ribuan tahun) dan karbon dalam sedimen dan bahan bakar fosil (jutaan tahun) (Vlek, 1997 dalam Herman Widjaja, 2002). Dari hasil inventarisasi gas-gas rumah kaca di Indonesia dengan menggunakan metoda IPCC 1996, diketahui bahwa pada tahun 1994 emisi total CO2 adalah 748,607 Gg (Giga gram), CH4 sebanyak 6,409 Gg, N2O sekitar 61 Gg, NOX sebanyak 928 Gg dan CO sebanyak 11,966 Gg. Adapun penyerapan CO2 oleh hutan kurang lebih sebanyak 364,726 Gg, dengan demikian untuk tahun 1994 tingkat emisi CO2 di Indonesia sudah lebih tinggi dari tingkat penyerapannya. Indonesia sudah menjadi net emitter, sekitar 383,881 Gg pada tahun 1994. Hasil perhitungan sebelumnya, pada tahun 1990, Indonesia masih sebagai net sink atau tingkat penyerapan lebih tinggi dari tingkat emisi. Berapapun kecilnya Indonesia sudah memberikan kontribusi bagi meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca secara global di atmosfer (Widjaja, 2002).
Banyak pihak yang beranggapan bahwa melakukan mitigasi secara permanen melalui penghematan pemanfaatan bahan bakar fosil, teknologi bersih, dan penggunaan energi terbarukan, lebih penting daripada melalui carbon sink. Hal ini dikarenakan hutan hanya menyimpan karbon untuk waktu yang terbatas (stock). Ketika terjadi penebangan hutan, kebakaran atau perubahan tata guna lahan, karbon tersebut akan dilepaskan kembali ke atmosfer (Rusmantoro, 2003).
Carbon sink adalah istilah yang kerap digunakan di bidang perubahan iklim. Istilah ini berkaitan dengan fungsi hutan sebagai penyerap (sink) dan penyimpan (reservoir) karbon. Emisi karbon ini umumnya dihasilkan dari kegiatan pembakaran bahan bakar fosil pada sektor industri, transportasi dan rumah tangga. Pada kawasan hutan Pinus di DTA Rahtawu dengan umur tegakan 30 tahun mempunyai potensi penyimpanan karbon sebesar 147,84 ton/ha dengan prosentase penyimpanan terbesar pada bagian batang (73,46%), kemudian cabang (16,14%), kulit (6,99%), daun (3,17%) dan bunga-buah (0,24%). Dari data diatas dapat diprediksi kemampuan hutan pinus dalam menyimpan karbon melalui pendekatan kandungan C-organik dalam biomas memiliki potensi penyimpanan mencapai 44% dari total biomasnya. Sehingga DTA Rahtawu dengan luasan 101,79 ha memiliki potensi penyimpanan karbon dalam tegakan sebesar 15.048,5 ton, penyimpanan karbon dalam seresah sebesar 510 ton dan dalam tumbuhan bawah sebesar 91 ton karbon. (Suryatmojo, H., 2004)




TEMA : GULMA
1.      Pengertian Gulma
Menurut Sukman (2002) gulma merupakan tumbuhan yang tumbuh pada waktu, tempat, dan kondisi yang tidak diinginkan manusia. Gulma yang tumbuh pada tempat tanaman berasal dari biji gulma itu sendiri yang ada di tanah. Jenis-jenis gulma yang mengganggu pertanaman tanaman perlu diketahui untuk menentukan cara pengendalian yang sesuai. Selain jenis gulma, persaingan antara tanaman dan gulma perlu pula dipahami, terutama dalam kaitan dengan waktu pengendalian yang tepat. Jenis gulma tertentu juga perlu diperhatikan karena dapat mengeluarkan senyawa allelopati yang meracuni tanaman (Monaco, 2002).
Gulma adalah  suatu tumbuhan lain yang tumbuh pada lahan tanaman budidaya, tumbuhan yang tumbuh disekitar tanaman pokok (tanaman yang sengaja ditanam) atau semua tumbuhan yang tumbuh pada tempat (area) yang tidak diinginkan oleh sipenanam sehingga kehadirannya dapat merugikan tanaman lain yang ada di dekat  atau disekitar tanaman pokok tersebut (Ashton, 1991).  Pendapat para ahli gulma yang lain  ada yang mengatakan  bahwa gulma disebut juga sebagai tumbuhan pengganggu  atau tumbuhan yang belum diketahui manfaatnya, tidak diinginkan dan menimbulkan kerugian.
2.      Klasifikasi Gulma
Pengklasifikasian gulma dapat digunakan untuk membantu manusia mengenal dan mengetahui jenis gulma rumputan, daun lebar, dan tekian, melakukan analisis vegetasi gulma, dan dapat melakukan aplikasi herbisida secara tepat. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, berdasarkan morfologi dan botaninya, gulma dapat diklasifikasikan menjadi:
a.       Golongan rumput (grasses)
Gulma golongan rumput termasuk dalam familia Gramineae/Poaceae dengan ciri batang bulat atau agak pipih, kebanyakan berongga, daun-daun soliter pada buku-buku, tersusun dalam dua deret, umumnya bertulang daun sejajar, terdiri atas dua bagian yaitu pelepah daun dan helaian daun. Daun biasanya berbentuk garis (linier), tepi daun rata, lidah-lidah daun sering kelihatan jelas pada batas antara pelepah daun dan helaian daun. Dasar karangan bunga satuannya anak bulir (spikelet) yang dapat bertangkai atau tidak (sessilis). Masing-masing anak bulir tersusun atas satu atau lebih bunga kecil (floret), di mana tiap-tiap bunga kecil biasanya dikelilingi oleh sepasang daun pelindung (bractea) yang tidak sama besarnya, yang besar disebut lemna dan yang kecil disebut palea. Buah disebut caryopsis atau grain. Gulma dalam kelompok ini berdaun sempit seperti teki tetapi menghasilkan stolon. Stolon ini di dalam tanah berbentuk jaringan rumit yang sulit diatasi secara mekanik. Contohnya yaitu:
1.      Cynodon dactylon (L.) Pers. (kakawatan, gigi rintingan, suket grinting).
2.      Eleusine indica (L.) Gaena (rumput kelulang, cerulang, jukut jampang).
3.      Imperata cylindrica (L.) Beauv (alang-alang, carulang, jukut jampang).
4.      Echinochloa crus-galli (L.) Cerv(jajagoan).
5.      Echinochloa colanum (L.) Cerv (jajagoan leutik).
6.      Panicum repens L. (lulampuyangan, jajahean).
b.      Golongan teki (sedges)
Gulma golongan teki termasuk dalam familia Cyperaceae. Batang umumnya berbentuk segitiga, kadang-kadang jaga bulat dan biasanya tidak berongga. Daun tersusun dalam tiga deretan tidak memiliki lidah-lidah daun (ligula). Ibu tangkai karangan bunga tidak berbuku-buku. Bunga sering dalam bulir (spica) atau anak bulir, biasanya dilindungi oleh suatu daun pelindung. Buahnya tidak membuka. Kelompok teki-tekian memiliki daya tahan luar biasa terhadap pengendalian mekanis, karena memiliki umbi batang di dalam tanah yang mampu bertahan berbulan-bulan. Contohnya adalah:
1.       Cyperus berviplius (jukut pendul).
2.       Cyperus rotundus L (teki).
3.       Cyperus difformia L (jukut papayungan).
4.       Cyperus hal Pan L. (papayungan).
5.       Cyperus iria L. (jekeng, lingih alit).
6.       Cyperus kyllingia Endl .(jukut pendul bodas, teki, tekibodot, teki pendul).
7.       Fimbristylis littoralis geidlah (F.Miliacea (L) Cahl (panon munding, tumbaran).
8.       Scirpus grossius L.F (waligi, wlingen, lingi. mensing).
c.       Golongan berdaun lebar (broad leaves)
Gulma berdaun lebar umumnya termasuk Dicotyledonea dan Pteridophyta daun lebar dengan tulang daun berbentuk jala. Gulma ini biasanya tumbuh pada akhir masa budidaya. Kompetisi terhadap tanaman utama berupa kompetisi cahaya. Contohnya yaitu:
1.      Salvinia molesta D. S Mit het (kimbang, kayambang janji, lukut cai, lukut)
2.       Marsilea crenata presl(semangi, samanggen).
3.      Azolla pinnata R. Br (kaya apu dadak).
4.      Limnocharis flava(L. Buch (genjer, centong).
5.      Ageratum conyzoides L. (bebadotan, wedusan).
6.      Borreria alata (Aubl. DC (kabumpang lemah, goletrak, letah hayam, rumput setawar).
7.      Stachyarpheta indica(L.) Vahl (jarong, gajhan).
8.      Amaranthus spinosus L (bayamduri, bayemeri, senggang cucuk).
9.      Synedrella nodiflora(L) Gaentn. (babadotan lalakina. jotang, jotang kuda).

3. Perbanyakan Gulma
a.       Secara generatif
1.      Biji: Echinochloa colonum, Cyperus compressus, Amaranthus spinosus
2.      Spora: Marsilea quadrifolia, Dryopteris aridus
b.      Secara vegetatif
1.      Stolon: batang menjalar di  permukaan tanah, pada setiap buku/ruas dapat tumbuh tunas dan akar  menjadi individu baru. Contoh: Cynodon dactylon & Centrosema pubescens
2.      Rimpang: batang menjalar dalam tanah, pada setiap buku/ruas dapat tumbuh tunas dan akar menjadi       individu baru. Contoh: Imperata cyllindrica, Scirpus grossus
3.      Stem Tuber/umbi batang: Pangkal batang membesar terdapat cadangan makanan dan tunas. Contoh: Typhonium trillobatum.
4.      Root Tuber/umbi akar: pembesaran akar terdapat makanan cadangan dan calon tunas. Contoh: Cyperus rotundus.
5.      Bulbus/Umbi lapis: Pelepah daun yang menebal dan berlapis-lapis, di antara lapisan terdapat tunas. Contoh: Allium veneale
6.      Corm: Batang yang gemuk pendek berdaging dilapisi daun-daun yang meredusir seperti sisik. Contoh: Ranunculus bulbosus
7.      Runner: Stolon yang internodianya sangat panjang pada ujungnya tumbuh tunas. Contoh: Pistia stratiotes, Elephantopus scaber, dan Eichhornia crassipes.

4. Penyebaran Gulma
a.       Autochory:
1.     Letusan/ledakan buah: Euphorbia geniculata dan Impatien balsamina.
2.  Polong tua pecah: Calopogonium mucunoides, Crotalaria incana, C. retusa (Leguminoceae)
b.   Anemochory: Biji dilengkapi kabu-kabu atau parasut: Imperata cyllindrica, Chromolaena odorata, Erectites valerianifolia, Erigeron sumatrensis

c.       Hydrochory:
1.      Biji tipis dan ringan: Limnocharis flava
2.      Fragmentasi batang: Salvinia molesta dan Pistia stratiotes
d.   Ornithochory: Daging buah manis dan lekat:  Loranthus pentapetales dan Ficus benghalensis
e.       Zoochory:
1.   Endozoochory: biji tidak bisa dicerna Ć  Paspalum conjugatum, Hypericum perforatum, dan Cynodon dactylon
2.      Extozoochory: biji ada alat pengait Ć  Andropogon aciculatus,  Tryumfetta laputa, dan Desmodium heterophyllum
f.       Anthropochory:
1.      Kesengajaan manusia: Lantana camara,  Eichhornia crassipes, Salvinia molesta, dan Mimosa invisa
2.      Biji ada alat pengait: Stachytarfetta indica

5. Pengendalian Gulma
Gulma yang selalu tumbuh di sekitar pertanaman mengakibatkan penurunan laju pertumbuhan serta hasil akhir. Adanya gulma tersebut membahayakan bagi kelangsungan pertumbuhan dan menghalangi tercapainya sasaran produksi pertanaman pada umumnya. Pengendalian gulma hendaknya dilaksanakan jika kita telah memiliki pengetahuan tentang gulma itu. Dengan pengalaman pengetahuan tersebut, pengendailan gulma dapat dibagi menjadi beberapa golongan, yaitu dengan cara mekanik, kimiawi, biologis, preventif, kultur teknis, ekologis, dan terpadu (Moenandir, 1988).
a.       Pengendalian secara kimiawi
Pengendalian gulma secara kimia dilakukan dengan penggunaan herbisida. Zat kimia untuk mengendalikan gulma disebut herbisida. Herbisida berasal dari kata herba (gulma) dan sida (membunuh). Dari kata tersebut dapat diartikan bahwa herbisida adalah zat kimia yang dapat menekan pertumbuhan gulma dan bahkan dapat mematikannya. Herbisida digunakan sebagai salah satu sarana pengendalian tumbuhan “asing” ini.
Menurut Purba (2009) cara kerja herbisida terbagi atas: herbisida kontak, herbisida sistemik atau ditranslokasikan, dan sterilan tanah. Pemberian herbisida dapat dibedakan menjadi: perlakuan merata (broadcast treatment dan blanket spray), perlakuan jalur (band treatment), penyemprotan terarah (directed spray), dan perlakuan setempat (spot treatment).
1.      Herbisida Kontak
Herbisida kontak adalah herbisida yang langsung mematikan jaringan-jaringan atau bagian gulma yang terkena larutan herbisida ini, terutama bagian gulma yang berwarna hijau. Herbisida jenis ini bereaksi sangat cepat dan efektif jika digunakan untuk memberantas gulma yang masih hijau, serta gulma yang masih memiliki sistem perakaran tidak meluas. Contoh-contoh herbisida kontak pada umumnya yang digunakan adalah sebagai berikut: Gramoxone, Herbatop dan Paracol.
2.      Herbisida Sistemik
Herbisida sistemik adalah herbisida yang cara kerjanya ditranslokasikan ke seluruh tubuh atau bagian jaringan gulma, mulai dari daun sampai keperakaran atau sebaliknya. Cara kerja herbisida ini membutuhkan waktu 1-2 hari untuk membunuh tanaman pengganggu tanaman budidaya (gulma) karena tidak langsung mematikan jaringan tanaman yang terkena, namun bekerja dengan cara menganggu proses fisiologi jaringan tersebut lalu dialirkan ke dalam jaringan tanaman gulma dan mematikan jaringan sasarannya seperti daun, titik tumbuh, tunas sampai ke perakarannya. Contoh-contoh herbisida sistemik pada umumnya yang digunakan adalah sebagai berikut: Glifosat, Sulfosat, Polaris, Round up, Touch Down, dan lain-lain.
3.      Sterilan tanah
Sterilan Tanah merupakan zat yang berfungsi untuk mensterilkan tanah dari jasad renik atau biji gulma.
b.      Pengendalian secara mekanis
Pengendalian mekanis merupakan usaha menekan pertumbuhan gulma dengan cara merusak bagian-bagian sehingga gulma tersebut mati atau pertumbuhannya terhambat. Teknik pengendalian ini hanya mengandalkan kekuatan fisik atau mekanik. Cara ini umumnya cukup baik dilakukan pada berbagai jenis gulma setahun, tetapi pada kondisi tertentu juga efektif bagi gulma-gulma tahunan (Sukman dan Yakup, 1991).
1.      Manual
Cara manual maksudnya adalah pencabutan dengan tangan atau disebut penyiangan dengan tangan merupakan cara yang praktis, efesien, dan terutama murah jika diterapkan pada suatu area yang tidak luas, seperti di halaman, dalam barisan dan guludan di mana alat besar sulit untuk mencapainya dan di daerah yang cukup banyak tenaga kerja.
2.      Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah dengan menggunakan alat-alat seperti cangkul, garu, bajak, traktor dan sebagainya pada umumnya juga berfungsi untuk memberantas gulma.
3.      Pembabatan (Pemangkasan)
Pembabatan umumnya hanya efektif untuk mematikan gulma setahun dan relatif kurang efektif untuk gulma tahunan. Efektivitas cara ini tergantung pada waktu pemangkasan, interval (ulangan) dan sebagainya.
4.      Penggenangan
Penggenangan efektif untuk memberantas gulma tahunan. Caranya dengan menggenangi sedalam 15 cm - 25 cm selama 3 minggu hingga 8 minggu. Gulma yang digenangi harus cukup terendam, karena bila sebagian daunnya muncul di atas air maka gulma tersebut umumnya masih dapat hidup.
5.      Pembakaran
Suhu kritis yang menyebabkan kematian pada kebanyakan sel adalah 450C-550C, tetapi biji-biji yang kering lebih tahan daripada tumbuhannya yang hidup. Kematian dari sel-sel yang hidup pada suhu di atas disebabkan oleh koagulasi pada proto plasmanya.
6.      Mulsa (Penutup Seresah)
Penggunaan mulsa dimaksudkan untuk mencegah cahaya mata hari sampai ke gulma, sehingga gulma tidak dapat melakukan fotosintesis, akhirnya akan mati dan pertumbuhan yang baru (perkecambahan) dapat dicegah. Bahan-bahan yang dapat digunakan untuk mulsa antara lain jerami, pupuk hijau, sekam, serbuk gergaji, kertas, dan plastik.


c.       Preventif (Pencegahan)
Pengendalian gulma secara preventif dapat dilakukan melalui mencegah invasi gulma mencegah menetapnya gulma, dan/atau mencegah menyebarnya suatu species gulma ke suatu daerah yang sebelumnya tidak perbah ditumbuhi gulma tersebut.
·         Tindakan preventif :
Ƙ  Menanam benih bebas dari biji gulma
Ƙ  Menggunakan pupuk kandang yang bebas gulma
Ƙ  Menggunakan alat panen yang bersih dan bebas gulma
Ƙ  Memberantas gulma yang tumbuh dan menyebar di sekitar daerah irigasi dan areal tanam.
·         Semua tindakan diatas akan lebih efektif bila diikuti oleh:
Ƙ  Program pendidikan
Ƙ  Penelitian
Ƙ  Regulasi dan/atau karantina


d.      Pengendalian gulma secara terpadu  
Yang dimaksud dengan pengendalian gulma secara terpadu yaitu pengendalian gulma dengan menggunakan beberapa cara secara bersamaan dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya.
Walaupun telah dikenal beberapa cara pengendalian gulma antara lain secara budidaya, fisik, biologis dan kimiawi serta preventif, tetapi tidak satupun cara-cara tersebut dapat mengendalikan gulma secara tuntas. Untuk dapat mengendalikan suatu species gulma yang menimbulkan masalah ternyata dibutuhkan lebih dari satu cara pengendalian. Cara-cara yang dikombinasikan dalam cara pengendalian secara terpadu ini tergantung pada situasi, kondisi dan tujuan masing-masing, tetapi umumnya diarahkan agar mendapatkan interaksi yang positif, misalnya paduan antara pengolahan tanah dengan pemakaian herbisida, jarak tanam dengan penyiangan, pemupukan dengan herbisida dan sebagainya, di samping cara-cara pengelolaan pertanaman yang lain.
e.       Pengendalian gulma secara biologis/ hayati.
Pengendalian dengan cara hayati ini merpkn suatu cara pengendalian gulma dengan mempergunakanorganisme hidup, yang berupa tumbuhan,serangga/binatang, ikan, dll.

f.       Pengendalian gulma secara kultur teknis.
Pengendalian gulma secara kultur teknis merupakan tindakan yang didasarkan pada segiekologis tanaman dan gulma. Tujuannya adalah membuat lingkungan yang menguntungkan bagipertumbuhan tanaman sehingga tanaman dapat bersaing dengan gulma, di lain pihak tindakanyang diterapkan tersebut dapat mengurangi atau menekan pertumbuhan gulma menjadiseminimum mungkin. Pengendalian secara kultur teknis merupakan cara yang efektif dan efisiendi negara sedang berkembang yang belum menggunakan herbisida secara meluas karena harga herbisida relatif mahal.


























TEMA :KEPUNAHAN HEWAN
Secara garis besar, ada dua opini utama tentang penyebab kepunahan hewan di muka bumi. Yang pertama yaitu karena adanya perubahan iklim, sedangkan yang kedua karena ulah manusia (overkill-perburuan yang tidak terkendali). Pendukung teori perubahan iklim percaya bahwa kepunahan adalah akibat dari perubahan iklim yang dramatis—terkait dengan zaman es yang terakhir. Namun, pendukung teori overkill berargumen bahwa manusialah penyebab kepunahan hewan di muka bumi.
Pendukung teori overkill, Prof. Paul Martin, mengemukakan hipotesis Blitzkrieg yang menyatakan bahwa kepunahan terjadi nyaris bersamaan dengan kedatangan manusia di wilayah tersebut. Alasannya adalah bahwa hewan besar dan burung yang tidak dapat terbang merupakan target perburuan yang mudah karena tidak menganggap manusia sebagai predator mereka.
Selain dua teori tersebut, ada teori ketiga yang muncul belakangan, yaitu teori yang menggabungkan keduanya. Teori penengah ini percaya bahwa bersamaan dengan saat manusia mulai memburu hewan, iklim di bumi mulai berubah sedemikian rupa sehingga hewan-hewan tidak bisa bertahan. Akan tetapi teori ini memiliki celah yang diperdebatkan karena ada yang menganggap bahwa teori ini tidak jauh beda dengan teori kepunahan yang disebabkan oleh manusia.
Terlepas dari adanya teori penengah tersebut, hipotesis bahwa iklimlah penyebab kepunahan masih merupakan topik debat yang tidak kunjung usai. Hipotesis ini tergantung pada asumsi bahwa perubahan di zaman es terjadi sangat cepat yang membuat air di muka bumi berubah menjadi es secara simultan. Hal inilah yang menyebabkan banyak area mengalami kekeringan. Selain itu, temperatur pun menurun drastis dan cenderung kering. Dengan minimnya air dan suhu yang sangat rendah, tidak banyak vegetasi yang sanggup bertahan. Kekeringan pulalah yang menyebabkan hewan besar—yang diasumsikan memerlukan asupan air yang sangat banyak—tidak bisa bertahan. Selain itu, perubahan iklim yang sangat cepat memungkinkan hewan tidak sempat beradaptasi, begitu pula tanaman.
Akan tetapi, asumsi-asumsi tersebut dinilai memiliki banyak kelemahan. Pertama, 16 dari 17 zaman es di muka bumi terjadi tanpa kepunahan massal, jadi zaman es yang ke-17 pun memiliki kemungkinan yang sama dengan 16 zaman es sebelumnya. Kedua, waktu kepunahan hewan tersebut meleset dari zaman es dan tidak terjadi secara bersamaan. Puncak zaman es terjadi sekitar 25.000-15.000 tahun yang lalu, tetapi ada kepunahan yang terjadi sejak 35.000 tahun yang lalu bahkan terjadi “baru” pada abad ke-12 sampai abad ke-16 Masehi. Ketiga, ada spesies yang secara teori seharusnya tidak terpengaruh ternyata punah, dan spesies yang seharusnya punah ternyata bertahan. Dengan adanya tiga lubang besar tersebut, Tim Flanery berusaha membuktikan bahwa hipotesis kedualah, kepunahan karena ulah manusia, yang lebih masuk akal.
Pada dasarnya, hipotesis bahwa punahnya hewan disebabkan oleh manusia mendapat sandungan yaitu asumsi bahwa perilaku hewan liar saat ini sama persis dengan perilaku hewan liar zaman dulu. Akan tetapi, asumsi ini dapat dipatahkan dengan fakta-fakta yang menunjukkan bahwa perilaku hewan liar zaman dulu sangat berbeda dengan hewan liar saat ini.
Pertama, catatan Charles Darwin tentang hewan-hewan di Pulau Galapagos—yang pada saat itu belum dirambah manusia—menunjukkan adanya dua kura-kura Galapagos yang tidak takut dengan dirinya. Kedua, Cowley menyatakan bahwa merpati di Galapagos berani hinggap di lengan atau topi pengunjung. Ketiga, di Pulau Kangaroo dan Pulau King tahun 1801-1803, FranƧois PĆ©ron menyatakan bahwa saat itu wombat berani dekat dengan manusia, padahal saat ini wombat dikenal sebagai binatang pemalu yang saat didekati pun akan kabur. Contoh lain yang disebutkan FranƧois PĆ©ron adalah gajah laut yang sangat mudah didekati bahkan dibunuh. Keempat, Matthew Flinders menulis bahwa kangguru di Pulau Kangaroo sangat jinak bahkan dapat dibunuh hanya dengan menggunakan tongkat.
Mudahnya hewan liar didekati terjadi karena secara fisik manusia tidak menunjukkan ciri-ciri ataupun perilaku predator sehingga hewan-hewan tersebut tidak merasa takut atau terancam. Bahkan, proses inisiasi “manusia adalah predator” pada spesies tersebut mungkin sangat sulit terjadi, khususnya di Australia, mengingat predator di Australia rata-rata reptil yang jelas-jelas sangat berbeda dari manusia. Selain itu, tidak diketahui berapa lama waktu yang diperlukan bagi suatu spesies untuk belajar menghindari manusia. Oleh karena itu, hewan liar zaman dulu lebih mudah dekat dengan manusia sehingga lebih mudah diburu.
Selain bukti tertulis tersebut, juga ada bukti arkeologis yaitu situs “dapur” bangsa Maori yang dipenuhi sisa-sisa moa. Situs semacam ini sangat banyak ditemukan, diantaranya adalah situs Kaupokonui.
Di situs yang terdapat di gurun pasir Kaupokonui, Distrik Taranaki, ditemukan sisa-sisa paling tidak 3 spesies moa dan 55 spesies burung. Sementara di satu situs dekat Wairau Bar, diperkirakan sekitar 9.000 moa terbunuh dan sekitar 2.400 butir telur diperkirakan dikonsumsi. Angka tersebut belum seberapa jika dibandingkan dengan situs Waitaki Mouth di Distrik Otago. Di situs ini moa yang terbunuh diperkirakan antara 30.000-90.000 ekor.

Dari situs-situs tersebut dapat diperkirakan bahwa banyaknya daging moa yang terbuang percuma—mencapai sepertiganya—menunjukkan bahwa moa mudah diburu, karena jika sulit diburu maka pasti akan dimanfaatkan sebaik mungkin. Selain itu, semakin banyak jumlah moa yang terbunuh di suatu situs menunjukkan bahwa tempat itu tadinya dihuni banyak orang, yang diperkirakan menyusut seiring dengan punahnya moa. Moa punah sekitar 300-400 tahun sejak kedatangan bangsa Maori. Katakanlah bangsa Maori yang pertama datang hanya beberapa ratus orang. Dengan pertumbuhan konstan 1% per tahun misalnya, maka dalam waktu 400 tahun akan berkembang menjadi puluhan ribu, dan hal ini sebanding dengan tahun punahnya moa.
Fakta-fakta tersebut semuanya mengacu pada kepunahan hewan besar (megafauna). Tetapi, selain kepunahan megafauna, kepunahan mamalia berukuran sedang di Australia yang terjadi sekitar 30-40 tahun belakangan ini juga menarik perhatian. Ada asumsi bahwa hewan tersebut punah karena keberadaan predator alami (rubah, kucing) atau kalah bersaing dengan herbivora lain (kelinci), yang dua-duanya dibawa oleh bangsa Eropa. Akan tetapi, spesies yang punah hanya yang berbobot antara 50 gram sampai 5 kilogram dan berhabitat di daerah kering, itu pun setengahnya adalah spesies pengerat yang dikenal mudah beradaptasi. Selain itu, kepunahan tidak berpengaruh terhadap hewan yang berukuran sama di daerah hutan atau basah, mamalia yang lebih besar atau kecil di daerah kering, serta burung, reptil, dan katak.
Baru-baru ini, berdasar riset Dr. Ken Johnson dan Dave Gibson, diketahui bahwa kepunahan tersebut terjadi sekitar tahun 1960an, mengikuti kepergian suku Aborigin dari daerah tersebut. Mereka menyebutkan bahwa pertanian dengan sistem patch burning (pembakaran sebagian) yang dilakukan oleh bangsa Aboriginlah yang menjaga keberadaan spesies mamalia berukuran sedang tersebut.
Sistem patch burning hanya membakar sebagian kecil dari suatu wilayah. Hal ini memberi keuntungan bagi mamalia ukuran sedang. Area yang tidak dibakar bisa menjadi tempat berlindung, dan tempat yang dibakar kaya akan makanan. Diperkirakan sistem ini muncul untuk mencegah kebakaran alami yang biasanya bersifat luas dan periodik. Ada asumsi bahwa mungkin dulu pernah terjadi kebakaran liar yang memunahkan spesies yang ada dan berpengaruh pada suku Aborigin yang bergantung pada spesies tersebut. Saat suku tersebut pergi, kebakaran alami bisa terjadi dengan mudah, terutama di daerah kering karena tidak ada penghalang api yang menjalar. Tetapi, masalah justru terjadi pasca-kebakaran. Mamalia mencari makan di daerah bekas terbakar yang terbuka, dan hal ini menarik perhatian predator. Dengan adanya area yang tidak terbakar, predator mudah untuk bersembunyi.

Dari uraian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa Flanery mendukung pendapat bahwa kepunahan terjadi akibat ulah manusia. Data yang disajikan pun dapat mengungkapkan alasan kepunahan yang tidak terjadi secara bersamaan, yaitu karena kedatangan manusia tidak terjadi secara serentak. Namun, di sisi lain, ada juga upaya Aborigin untuk melindungi spesies tertentu walau itu demi keuntungan mereka, dan justru dengan kepergian merekalah kepunahan terjadi.

FOSIL
Pengertian fosil adalah sisa-sisa tumbuhan, hewan, dan bekas kerangka manusia yang sudah membatu. Fosil sangat berfungsi bagi sejarah peradaban manusia dan seluruh kehidupan dibumi ini, karna dengan kita mendapatkan atau menemukan fosil-fosil hewan, tumbuhan dan kerangka manusia membuat kita mengetahui asal usul kehidupan dibumi ini, dan proses terbentuknya bumi ini. Fosil juga berfungsi memperkirakan kehidupan manusia purba tersebut, fosil memberi petunjuk tentang keadaan dan kehidupan manusia purba sering disebut dengan fosil pandu atau leitfosil. Di Indonesia banyak ditemukan fosil-fosil kerangka manusia purba, dimana kepulauan indonesia banyak dikunjungi oleh para ahli untuk menyelidiki keadaan manusia purba. beberapa ahli yang meneliti fosil-fosil manusia purba seperti, Von, Rietschoten, Eugene Dubois, Cokrohandoyo, Ter haar dan Oppennorth, dari penemuan-penemuan dari para ahli tersebut telah menjadi sejarah bagi peradaban manusia sampai sekarang ini, dan banyak pula penemuan-penemuan tentang jenis-jenis manusia purba, dan berkat penemuan-penemuan yang menemukan tentang hewan-hewan purba yang membuat sejarah peradaban hewan dibumi.



TEMA : KEBAKARAN HUTAN
Prinsip Dasar Kebakaran Hutan Dan Lahan
Faktor-faktor terjadinya suatu kebakaran hutan dan lahan adalah karena adanya unsur panas, bahan bakar dan udara/oksigen. Ketiga unsur ini dapat digambarkan dalam bentuk segitiga api. Pada prinsipnya, pengendalian kebakaran hutan dan lahan adalah menghilangkan salah satu atau lebih dari unsur tersebut.
Penyebaran api bergantung kepada bahan bakar dan cuaca. Bahan bakar berat seperti log, tonggak dan cabang-cabang kayu dalam keadaan kering bisa terbakar, meski lambat tetapi menghasilkan panas yang tinggi. Bahan bakar ringan seperti rumput dan resam kering, daun-daun pinus dan serasah, mudah terbakar dan cepat menyebar, yang selanjutnya dapat menyebabkan kebakaran hutan/lahan yang besar.
Unsur-unsur cuaca yang penting dalam kebakaran hutan dan lahan adalah angin, kelembaban dan suhu. Angin yang bertiup kencang meningkatkan pasokan udara sehingga mempercepat penyebaran api. Pada kasus kebakaran besar, angin bersifat simultan. Semakin besar kebakaran, tiupan angin semakin kencang akibat perpindahan massa udara padat di sekitar kebakaran ke ruang udara renggang di tempat kebakaran.
Kadar air/kelembaban bahan bakar juga penting untuk dipertimbangkan dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Pada keadaan normal, api menyala perlahan pada malam hari karena kelembaban udara diserap oleh bahan bakar. Udara yang lebih kering pada siang hari dapat menyebabkan kebakaran yang cepat. Oleh sebab itu, secara teknis pada malam hari akan lebih mudah mengendalikan kebakaran hutan/lahan daripada siang hari. Namun demikian tidak lantas berarti, bahwa pengendalian kebakaran secara serius tidak dilakukan pada siang hari. Kenyataannya karena berbagai pertimbangan, kebakaran lebih banyak ditanggulangi pada siang hari. Suhu udara juga mempengaruhi para pemadam kebakaran, dalam keadaan udara yang panas, daya tahan dan kemampuan kerja pemadam kebakaran menurun.

Dampak Kebakaran Hutan Dan Lahan
Dampak Terhadap Bio-Fisik
Dampak buruk dari kebakaran hutan dan lahan sangat banyak. Kerusakan dapat berkisar dari gangguan luka-luka bakar pada pangkal batang pohon/tanaman sampai dengan hancurnya pepohonan/tanaman secara keseluruhan berikut vegetasi lainnya. Dengan hancurnya vegetasi, yang paling dikhawatirkan adalah hilangnya plasma nutfah (sumber daya genetik pembawa sifat keturunan) seiring dengan hancurnya vegetasi tersebut. Selain itu kebakaran dapat melemahkan daya tahan tegakan terhadap serangan hama dan penyakit. Batang pohon yang menderita luka bakar meskipun tidak mati, seringkali pada akhirnya terkena serangan penyakit/pembusukan atau menjadi merana.
Kebakaran hutan juga dapat mengurangi kepadatan tegakan dan merusak hijauan yang bermanfaat bagi hewan serta mengganggu habitat satwa liar. Rusaknya suatu generasi tegakan hutan oleh kebakaran, berarti hilangnya pengorbanan dan waktu yang diperlukan untuk mencapai taraf pembentukan tegakan tersebut.
Kebakaran hutan dan lahan dapat merusak sifat fisik tanah akibat hilangnya humus dan bahan-bahan organik tanah, dan pada gilirannya tanah menjadi terbuka terhadap pengaruh panas matahari dan aliran air permukaan. Tanah menjadi mudah tererosi, perkolasi dan tingkat air tanah menurun. Kebakaran yang berulang-ulang di kawasan yang sama dapat menghabiskan lapisan serasah dan mematikan mikroorganisme/jasad renik yang sangat berguna bagi kesuburan tanah.
Dampak lainnya dari kebakaran hutan adalah rusaknya permukaan tanah dan meningkatnya erosi. Kawasan yang terbakar di lereng-lereng di daerah hulu DAS cenderung menurunkan kapasitas penyimpanan air di daerah-daerah di bawahnya. Dari hasil pengamatan menunjukkan bahwa penurunan mutu kawasan karena kebakaran yang berulang-ulang menyebabkan erosi tanah dan banjir, yang menimbulkan dampak lanjutan berupa pendangkalan terhadap saluran air, sungai, danau dan bendungan.
Dampak Terhadap Sosial Ekonomi
Perubahan bio-fisik terhadap sumber daya alam dan lingkungan akibat kebakaran hutan dan lahan, mengakibatkan penurunan daya dukung dan produktivitas hutan dan lahan. Pada keadaan serupa ini akan menurunkan pendapatan masyarakat dan negara dari sektor kehutanan, pertanian, perindustrian, perdagangan, jasa wisata dan lainnya yang terkait dengan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungannya.
Dampak Terhadap Lingkungan
Di samping dapat menimbulkan kerugian material, kebakaran hutan dan lahan juga menimbulkan akumulasi asap yang besar. Kebakaran hutan dan lahan pada tahun 1994 dan tahun 1997 telah menarik perhatian dunia, karena adanya suatu kondisi cuaca tertentu yaitu asap dari kebakaran hutan dan lahan terperangkap di bawah suatu lapisan udara dingin atmosfir di atas wilayah Indonesia dan negara tetangga, menyebabkan penurunan visibilitas (daya tembus pandang) sehingga mengganggu kelancaran transportasi darat, laut dan udara.


Sumber Api Kebakaran Hutan Dan Lahan
Kejadian kebakaran hutan dan lahan di Indonesia meningkat selama dekade terakhir ini. Sebagian besar kebakaran tersebut disebabkan oleh kelalaian manusia. Di samping itu, meningkatnya masalah kebakaran hutan juga akibat adanya kondisi sangat kering yang secara periodik terjadi oleh pengaruh perubahan iklim global/makro yang melanda beberapa daerah di Indonesia.
Kebakaran hutan bisa terjadi karena ketidaksengajaan maupun karena kesengajaan. Beberapa di antara penyebab dari ketidaksengajaan adalah kelengahan dari para perokok, wisatawan, petualang, pekerja di hutan dan para pengumpul hasil hutan. Dalam banyak kasus, kebakaran hutan berawal dari kesengajaan menggunakan api oleh pembangunan HTI, pembangunan perkebunan, perambah hutan dan peladang yang mempersiapkan lahannya, pengembala/pemburu yang ingin merangsang pertumbuhan rerumputan, pemburu yang menggiring satwa buruan, pengumpul madu yang mengusir lebah dari sarangnya, dan sebagainya.
Kegiatan budidaya dan faktor lainnya yang dapat menjadi sumber api kebakaran hutan dan lahan adalah sebagai berikut:

Pertanian
Sebagian besar kebakaran hutan dan lahan berasal dari kegiatan pembakaran pada sistem pengolahan lahan di pedesaan. Pembukaan kawasan hutan untuk membuka suatu areal baru bagi tanaman pangan sudah lama berlangsung. Setelah 2 atau 3 tahun ditanami tanaman pangan, lahan tersebut biasanya menjadi miskin hara dan ditinggalkan. Selanjutnya pembukaan kawasan hutan yang lainnya terjadi lagi untuk maksud yang sama. Demikian terus-menerus, bahkan meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk. Pembakaran juga dilakukan pada lahan pertanian menetap untuk menghilangkan sisa-sisa panenan, serta pada lahan calon perkebunan dalam kegiatan persiapan lahan tanam. Karena kebakaran biasanya dilakukan pada musim kemarau dan tidak atau kurang diawasi, maka api dengan mudah merambat kekawasan hutan/lahan di sekitarnya dan menyebabkan kebakaran hutan/lahan yang merugikan secara ekonomis dan ekologis.

Pembuatan Tanaman Hutan
Dalam kegiatan penanaman hutan terutama dengan sistem tebang habis permudaan buatan atau bahkan kegiatan reboisasi, api digunakan untuk pembersihan pada persiapan lahan tanam. Seringkali karena keteledoran, api merambat ke kawasan hutan dan lahan di sekitarnya dan menyebabkan kebakaran hutan.
Pembalakan/logging
Kebakaran hutan akibat pembalakan/logging biasanya diakibatkan oleh kelalaian dari para pembalak pada musim kering. Sebagai contoh percikan api dari saluran gas buangan/knalpot chain saw jatuh mengenai bahan kering menimbulkan bara, selanjutnya menjadi nyala api yang merembet pada bahan-bahan lain di lantai hutan.
Api Batubara
Kebakaran batubara merupakan suatu masalah unik seperti yang terjadi di Kalimantan Timur. Lapisan batubara yang terbakar akibat kebakaran hebat pada tahun 1993 masih membara di bawah tanah. Pada musim penghujan keadaan ini hampir tidak ada masalah, karena bara tersembunyi di bawah permukaan tanah. Tetapi pada musim kemarau kadar air tanah turun menyebabkan tanah kering dan retak-retak merekah. Demikian pula karena kebakaran lapisan batubara terus berlangsung menyebabkan longsoran-longsoran pada bibir lubang/sumur api. Akibat rekahan dan longsoran ini api batubara menyentuh bahan bakar dari vegetasi yang telah kering (terlebih dahulu mati akibat panas api batubara) selanjutnya merembet ke segala jurusan di lantai hutan.
Saat ini masih terdapat banyak titik-titik api batubara yang membara dan sangat potensial sebagai penyebab kebakaran hutan di Kalimantan Timur. Keadaan serupa itu dapat pula terjadi di tempat-tempat lain yang mempunyai lapisan batubara dangkal di bawah permukaan tanah.
Kejadian Alam
Sumber api kebakaran hutan dan lahan yang berasal dari kejadian alam, walaupun jarang terjadi tetapi kemungkinan tetap ada yaitu dari halilintar/petir. Karena terjadinya pada musim penghujan, biasanya hanya berakibat kecil dan kurang berarti. Tetapi apabila petir menyambar pohon dengan tajuk yang mudah terbakar dalam keadaan basah (pinus), hal ini akan menimbulkan kebakaran tajuk yang hebat pada hutan pinus.



TEMA : SUSU
Susu didefinisikan sebagai sekresi normal kelenjar mamari/ambing mamalia, atau cairan yang diperoleh dari pemerahan ambing sapi sehat tanpa dikurangi atau ditambah sesuatu (Soeparno, 1992; Syarief dan Irawati, 1988). Susu adalah hasil ekskresi kelenjar susu binatang menyusui, yang dipandang dari segi gizi merupakan bahan makanan yang hampir sempurna (Buckel et al., 1987). Definisi susu menurut Hadiwiyoto (1983) adalah hasil pemerahan sapi atau hewan menyusui lainnya yang dapat dimakan atau dapat digunakan sebagai bahan makanan yang aman dan sehat serta tidak dikurangi komponen-komponennya atau ditambahkan bahan-bahan lain.
Komponen-komponen Susu
Komponen susu selain air merupakan total solid (TS) dan total solid tanpa komponen lemak atau solid non fat (SNF). Total Solid (TS) yang terkandung dalam susu rata-rata 13% dan solid non fat (SNF) rata-rata 9,5%  (Rahman et al., 1992). Menurut Adnan (1984), zat-zat yang ada di dalam air susu seperti air, lemak, protein, gula dan   mineral berada dalam tiga keadaan yang berbeda: 1) sebagai larutan sejati, misalnya: hidrat arang, garam-garam organik, vitamin dan senyawa-senyawa nitrogen bukan protein; 2) sebagai larutan koloidal, terutama partikel-partikel yang besar yang dapat memberikan efek Tyndal, dalam golongan ini termasuk protein dan enzim; 3) sebagai emulsi, seperti: lemak dan senyawa-senyawa yang mengandung lemak yang terdapat sebagai emulsi berbentuk globula-globula.
Air. Air merupakan komponen terbanyak dalam susu. Jumlahnya mencapai 84-89%. Air merupakan tempat terdispersinya komponen-komponen susu yang lain. Komponen-komponen  yang terdispersi secara molekuler adalah laktosa, garam-garam mineral dan beberapa vitamin. Protein-protein kasein, laktoglobulin dan albumin terdispersi secara koloidal, sedangkan lemak merupakan emulsi (Hadiwiyoto, 1994).
Karbohidrat. Laktosa merupakan karbohidrat yang menyebabkan susu berasa manis. Kandungan laktosa dalam susu adalah 4,5%  (Rutgers dan Ebing, 1992). Hadiwiyoto (1994),  menjelaskan  bahwa k omposisi susu sangat lengkap seperti karbohidrat, laktosa, protein, lemak, vitamin dan   air terdapat dalam susu. 
Lemak. Air susu merupakan suatu emulsi lemak dalam air yang di dalamnya terkandung gula, garam-garam mineral dan protein dalam bentuk suspensi koloidal (Varnam dan Sutherland, 1994). Lemak susu terdapat di dalam susu dalam bentuk jutaan bola kecil berdiameter antara 1-20 μm dengan garis tengah rata-rata 3 μm                            (Buckle et al., 1987).
Protein. Susu merupakan salah satu sumber protein hewani yang memiliki daya cerna tinggi dan kaya akan protein, laktosa, mineral dan vitamin (Buckle et al,. 1987; Varnam dan Sutherland, 1994). Protein susu terdiri atas kasein, laktalbumin dan laktoglobulin. Kasein merupakan protein yang terbanyak jumlahnya daripada laktalbumin dan laktoglobulin. Namun di samping ketiga jenis protein tersebut terdapat pula protein lainnya sebagai enzim dan immunoglobulin (Hadiwiyoto, 1994). Protein dalam susu dapat dibedakan menjadi dua kelompok utama yaitu kasein (protein yang dapat diendapkan oleh asam dan enzim rennin) dan protein whey (protein yang dapat terdenaturasi oleh panas dengan suhu sekitar 650C) (Buckle et al,. 1987).
Enzim. Susu mengandung beberapa enzim diantaranya : lipase, fosfatase, peroksidase, katalase, galaktose, dehidrogenase dan   lactose (Hadiwiyoto, 1994). Enzim utama yang normal terdapat di dalam susu adalah: laktoperoksidase, ribonuklease, antinoksidase, katalase, aldolase, laktase dan   kelompok fosfatase, lipase, esterase, protease, amilase dan   oksidase (Daulay, 1990). Enzim-enzim yang berfungsi sebagai indikator panas adalah fosfatase dan peroksidase dan   enzim yang menyebabkan kerusakan adalah lipase (Buckle et al., 1987).
Vitamin. Umumnya vitamin yang terdapat dalam susu adalah vitamin yang larut dalam lemak seperti vitamin A, D, E, K dan vitamin yang larut dalam air seperti vitamin B dan C (Daulay, 1990).  Susu, tinggi akan kandungan vitamin A yang terlarut dalam lemak (Winarno, 1993).
Komponen susu sapi
Nutrisi dalam susu sapi memang didesain untuk kebutuhan anak sapi. Di dunia alami, setiap bayi spesies mamalia menyusu kepada induknya sendiri, minum susu spesiesnya sendiri, karena susu itu pasti cocok dengan kebutuhan tumbuh kembangnya. Inilah cara kerja alam. Hanya manusia yang dengan sengaja mengambil susu dari spesies lain, mengolahnya, dan meminumnya. Padahal, yang penting bagi pertumbuhan anak sapi belum tentu berguna bagi manusia. Ini bertentangan dengan hukum alam.
Secara umum, jenis nutrisi susu sapi dengan ASI sepertinya mirip. Ada protein, lemak, laktosa, zat besi, kalsium, fosfor, natrium, kalium, dan vitamin. Namun, kualitas dan jumlah nutrisi keduanya sangat berbeda. Misalnya saja, kandungan laktoferinnya. Zat antioksidan ini berguna untuk memperkuat fungsi sistem kekebalan tubuh, terdapat baik dalam susu sapi maupun ASI. Namun, rasio laktoferin dalam ASI adalah 0,15% sementara laktoferin susu sapi hanya 0,01%. Contoh lain, kandungan laktosa dalam ASI sekitar 7%, sementara dalam susu sapi hanya 4,5%. Tampaknya bayi-bayi yang baru lahir dari spesies yang berbeda membutuhkan jumlah dan rasio nutrisi yang berbeda pula.

Susu Sapi Sulit Dicerna Manusia
Karena bentuknya cair, orang-orang sering meminum susu bagaikan air saat mereka haus. Ini sebuah kesalahan besar. Komponen protein utama (sekitar 80%) susu sapi bernama kasein. Protein ini langsung menggumpal menjadi satu begitu memasuki lambung manusia, jadi sangat sulit dicerna oleh sistem pencernaan kita.
Kandungan susu sapi akan semakin sulit dicerna oleh manusia yang sudah dewasa. Memang di alam bebas, hewan yang minum susu hanyalah bayi yang baru lahir. Bahkan, ASI dari spesies manusia pun sebetulnya tidak didesain untuk konsumsi manusia dewasa. Laktoferin, contohnya. Zat ini akan terurai begitu terkena asam lambung. Bayi dapat mengkonsumsi banyak nutrisi laktoferin karena lambungnya belum sempurna dan produksi asam lambungnya baru sedikit.
Contoh lain adalah laktosa, zat gula yang terdapat dalam susu mamalia. Untuk mencerna laktosa, kita butuh enzim laktase. Enzim ini banyak dimiliki oleh tubuh bayi, namun jumlah enzim ini akan berkurang seiring usia. Jika setelah minum susu kita merasakan gejala perut bergemuruh atau diare, itu adalah akibat ketidakmampuan tubuh kita mencerna laktosa. Menghilangnya enzim laktosa saat kita beranjak dewasa merupakan cara alam untuk mengatakan bahwa susu bukanlah untuk diminum orang dewasa.

Susu Sapi Komersial Buruk Bagi Tubuh
Susu sapi dalam bentuknya yang segar saja sudah sulit dicerna manusia, apalagi setelah menjadi susu sapi komersial. Proses pengolahan susu sapi komersial membuat susu sapi bukan hanya sulit dicerna, tapi bahkan berbahaya dan berdampak buruk bagi tubuh.
Pertama, susu sapi komersial mengalami proses homogenisasi. Jika susu sapi segar dibiarkan, lemaknya lama-kelamaan akan mengapung di permukaan. Di pabrik, lemak ini diaduk dengan mesin sampai kadarnya merata di seluruh susu, tidak akan terpisah lagi seperti saat masih segar. Dampak proses ini adalah terjadi perikatan lemak susu dengan oksigen menjadi lemak teroksidasi (terhidrogenisasi). Jika diminum, susu homogen ini mengacaukan lingkungan dalam usus, meningkatkan jumlah bakteri jahat dan merusak keseimbangan flora usus kita. Akibatnya, racun-racun seperti radikal bebas, hidrogen sulfida, dan amonia terproduksi.
Kedua, setelah dihomogenisasi, susu sapi komersial masih melewati proses pasteurisasi. Proses ini tujuannya menekan perkembangbiakan berbagai kuman dan bakteri. Metode yang paling banyak digunakan adalah pasteurisasi suhu tinggi waktu singkat (HTST: lebih dari 72◦C selama 15 detik lebih) atau suhu sangat tinggi waktu singkat (UHT: lebih dari 120-130◦C selama 2 detik atau sampai dengan 150◦C selama 1 detik). Enzim-enzim yang berharga dalam susu mulai terurai pada suhu 48◦C dan pada suhu 115◦C sudah hancur seluruhnya. Oleh karena itu, terlepas dari lama waktu pemrosesan, pada suhu pasteurisasi mencapai 130◦C, enzim telah hampir seluruhnya rusak. Susu itu menjadi makanan yang mati, tidak mempunyai daya hidup lagi. Selain itu, efek samping pasteurisasi suhu tinggi adalah meningkatknya kadar lemak teroksidasi serta berubahnya kualitas protein susu. Laktoferin, yang sensitif terhadap panas, juga rusak. Itu sebabnya Dokter Shinya menegaskan: “Susu sapi yang dijual di supermarket seluruh dunia tidak baik bagi Anda.”
Minum Susu Terlalu Banyak Menyebabkan Osteoporosis
Anggapan bahwa minum susu dapat mencegah osteoporosis adalah suatu miskonsepsi alias mitos! Kadar kalsium dalam darah manusia biasanya terpatok pada 9-10 mg. Saat minum susu, konsentrasi kalsium dalam darah tiba-tiba meningkat. Tubuh berusaha mengembalikan keadaan abnormal ini menjadi normal kembali dengan membuang kalsium dari ginjal melalui urine. Dengan kata lain, kalau kita minum susu dengan harapan mendapatkan kalsium, hasilnya justru berkebalikan: jumlah total kalsium dalam tubuh kita justru menurun. Tak heran, dari empat negara peminum susu terbesar (Amerika-Swedia-Denmark-Finlandia), ditemukan banyak sekali kasus retak tulang panggul dan osteoporosis. Sebaliknya, hampir tidak ada kasus osteoporosis di Jepang semasa rakyat Jepang tidak minum susu. Konsumsi kalsium yang mereka peroleh dari ikan-ikan kecil dan rumput laut yang walaupun tidak cepat terserap dalam darah ternyata dalam jangka panjang justru berdampak baik.
Risiko-risiko Lain Minum Susu Sapi
Dokter Shinya sendiri menyaksikan dampak buruk konsumsi susu sapi dan produk-produk susu pada anak-anaknya semasa mereka masih kecil. Yang sulung menderita dermatitis atopik (ruam kulit parah), yang kecil mengalami gejala-gejala awal kolitis ulserativa (radang parah dengan tukak di dalam usus besar) seperti diare dan kotoran berdarah. Namun, setelah konsumsi dihentikan, semua penyakit itu menghilang dengan sendirinya. Secara medis, sudah banyak laporan yang menguatkan pendapat Dokter Shinya bahwa konsumsi susu sapi dan produk-produk susu bisa memicu berbagai jenis alergi dan penyakit gaya hidup, termasuk diabetes, pada anak. Jika wanita hamil minum susu, anak-anak yang ia lahirkan juga lebih mudah terjangkit alergi-alergi itu.

Pengaruh Suhu Dan Waktu Pasteurisasi  Terhadap Mutu Susu Selama Penyimpanan
Dapat disimpulkan bahwa susu pasteurisasi baik dengan metode HTST maupun LTLT masih baik dikonsumsi sampai umur penyimpanan 15-21 jam pada suhu penyimpanan 27,5 C (suhu kamar). Kadar air susu pasteurisasi tidak dipengaruhi oleh metode pasteurisasi, tapi dipengaruhi oleh lama waktu penyimpanan. Kadar lemak susu tidak dipengaruhi oleh lama penyimpanan pada metode pasteurisasi LTLT, tetapi dipengaruhi pada metode HTST. Masa simpan susu lebih lama pada pasteurisasi dengan HTST, namun kadar protein lebih tinggi pada pasteurisasi dengan LTLT (suhu 65C).



TEMA : ANTIBIOTIKA
Penyakit infeksi bisa disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, atau parasit. Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk mengobati penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Jika digunakan secara tepat, antibiotik dapat menyelamatkan banyak nyawa. Namun, jika digunakan secara tidak tepat (tidak rasional), antibiotik akan menyebabkan bakteri menjadi resisten atau kebal terhadap antibiotik tersebut. Akibatnya, hal tersebut akan memperlama waktu sakit, meningkatkan biaya kesehatan, angka kesakitan, dan angka kematian.
Bakteri yang resisten terhadap antibiotik adalah bakteri yang bermutasi atau berubah menjadi kebal terhadap antibiotik sehingga antibiotik tidak mampu lagi menghambat pertumbuhan bakteri ataupun mematikannya. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang resisten ini lebih sulit disembuhkan karena bakteri ini menghasilkan enzim atau protein yang bisa menghancurkan antibotik.
Proses resistensi antibiotik sebenarnya merupakan proses normal. Artinya, jika antibiotik digunakan secara terus menerus, bakteri akan melakukan upaya untuk mempertahankan diri sehingga lama kelamaan mempunyai kemampuan untuk kebal terhadap antibiotik tersebut. Namun, proses resistensi ini bisa dipercepat apabila antibiotik digunakan secara tidak tepat alias berlebihan.
Contoh penggunaan antibiotik yang tidak tepat adalah antibiotik digunakan pada kondisi yang seharusnya tidak memerlukan antibiotik. Hal ini sering terjadi pada penyakit infeksi yang disebabkan virus. Harap diingat kembali bahwa antibiotik adalah obat untuk mengobati infeksi karena bakteri. Virus berbeda dengan bakteri. Penyakit infeksi virus adalah self-limited disease, yakni infeksi ini bisa sembuh sendiri dan tidak memerlukan antibiotik.
Contoh lain penggunaan antibiotik yang tidak tepat adalah saat antibiotik memang diperlukan, tetapi dipakai secara tidak tepat. Misalnya, kita menghentikan pemakaian antibiotik saat merasa penyakit sudah membaik tanpa menghabiskannya sesuai anjuran dokter. Bisa juga kita membeli antibiotik sendiri tanpa resep dokter (over the counter/otc), meminum antibiotik dengan dosis yang tidak tepat, menyimpan antibiotik untuk persediaan bila sakit, atau memakai resep orang lain untuk membeli antibiotik tanpa konsultasi dengan dokter.

Mengapa penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan masalah?
Penggunaan antibiotik yang tidak tepat akan menyebabkan antibiotik menjadi kurang efektif dan mungkin tidak akan bekerja saat Anda menggunakannya lagi. Selain itu, apabila tidak digunakan dengan tepat, antibiotik dapat memperbanyak munculnya bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Bakteri yang resisten ini bisa menyebar dari satu orang ke orang yang lain yang pada akhirnya menyebar ke masyarakat.
Bakteri yang resisten ini lebih sulit dimatikan dan biasanya memerlukan antibiotik yang lebih kuat untuk membunuhnya. Bahkan pada kasus yang ekstrem akan terjadi bakteri yang resisten terhadap bermacam-macam antibiotik (bakteri yang multiresisten terhadap antibiotik), yang menyebabkan semakin sulitnya mengatasi penyakit infeksi akibat bakteri ini. Infeksi akibat bakteri yang resisten ini bisa menyerang siapa saja dan fenomena ini umum terjadi.

Apa penyakit-penyakit di masyarakat yang umumnya diobati dengan antibiotik?

1. Infeksi saluran pernapasan akut bagian atas (selanjutnya disingkat ISPA)
Contoh ISPA adalah flu atau infeksi batuk pilek biasa yang disertai demam (sering disebut radang tenggorokan). Infeksi ini sering sekali diberikan antibiotik. Banyak yang beranggapan setiap ada gejala demam harus meminum antibiotik. Padahal dikatakan dalam penelitian bahwa penyebab terbanyak ISPA adalah akibat virus. Terutama pada anak-anak di bawah usia 8 tahun, dikatakan 80% penyebabnya adalah virus.
Jika infeksi ini ditandai dengan gejala demam, batuk, pilek dengan ingus yang encer, dan di sekitar orang sakit tersebut banyak yang menderita sakit serupa, sangat mungkin infeksi ini adalah akibat virus yang bisa sembuh sendiri sehingga tidak memerlukan pengobatan antibiotik. Pada infeksi saluran napas akibat virus, antibiotik tidak mengurangi lama sakit dan tidak mengurangi gejala. Gejala akan sembuh sendiri apabila kekebalan tubuh sudah membunuh virus tersebut.
Orang yang sakit ISPA memerlukan lebih banyak minum dan istirahat, bukan antibiotik. Minum perlu diperbanyak karena pada saat demam (suhu tubuh lebih dari {\rm 37,5}^\circ{\rm C}) banyak cairan tubuh yang menguap. Selain itu, dengan banyak minum, lendir di saluran napas menjadi lebih encer sehingga mudah diserap oleh tubuh. Akhirnya, batuk akan lebih cepat reda.
Berdasarkan hal tersebut, hal yang paling penting adalah biarkan dokter yang memutuskan apakah infeksi saluran napas yang diderita disebabkan oleh virus atau bakteri, serta kapan orang sakit memerlukan antibiotik untuk penyakitnya. Antibiotik juga tidak berguna untuk mencegah penularan penyakit karena infeksi virus biasanya menyebar dari satu orang ke orang yang lain mulai sejak belum munculnya gejala, yaitu sebelum orang tersebut merasa bahwa dirinya sakit.
3.      Diare
Virus adalah penyebab diare karena infeksi yang paling sering. Infeksi tersebut ditandai dengan adanya berak atau feses yang konsistensinya lebih encer dan lebih sering dari biasanya serta berak tanpa disertai darah. Lagi-lagi, antibiotik tidak diperlukan pada kasus ini. Pemberian antibiotik malah bisa menyebabkan matinya kuman baik atau flora normal di usus sehingga kuman yang tidak baik akan bisa berkembang biak dengan leluasa. Ini akan membuat diare makin parah dan lama sembuh.
Hal-hal yang perlu dilakukan pada diare adalah minum yang cukup untuk mencegah terjadinya dehidrasi atau kurangnya cairan, makan diteruskan untuk mengganti sel mukosa usus yang rusak, pemberian mikronutrien seng (zink), dan menjaga kehigienisan (harus mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir atau alkohol sebelum dan setelah berhubungan dengan feses penderita). Antibiotik hanya diperlukan pada kasus diare yang disertai dengan darah.

Antibiosis dan Antibiogram
Antibiosis adalah interaksi antarorganisme dimana salah satu organisme menghasilkan zat antibiotik atau racun yang berbahaya bagi organisme lainnya,Misalnya interaksi antara jamur Penicillium dengan jenis mikroorganisme lain,jamur Penicillium mengeluarkan antibiotik yang dapat menghambat atau mematikan mikroorganisme lain yang hidup di sekitarnya.
Untuk memilih antibiotika yang baik dan tepat adalah dengan mengetahui bakteri penyebab infeksi dan juga berdasarkan hasil uji sensitivitas Antibakteri. Sehingga dalam terpai pengobatan terbagi ke dalam dua bagian, yaitu secara empiris dan secara klinis. Arti empiris adalah dengan mengamati diagnosa ppenyakit dan tanda gejala yang mucul, kemudian ditentukan diagnosa penyakit kemungkinan disebabkan oleh bakteri apa. Misalnya saja pasien mengalami gejala di bawah ini:
Pilek yang berlangsung lama.
kepala terasa sangat  sakit, terutama jika sedang menunduk.
Kadang pendengaran berkurang dan badan meriang, sementara ingus terus mengalir.
Kehilangan nafsu makan dan indera penciuman menjadi lemah.
Beberapa gejala ini , yang diungkapkan oleh pasien, bisa jadi didiagnosis sinusitis, dan biasanya diakibatkan oleh Streptococcus pneumoniae dan Haemo philus influenzae yang ditemukan hampir pada 70 % kasus. Sehingga dokter akan memberikan antibiotika berdasarkan data empiris dari hasil  gejala pasien, dan memberikan obat sesuai dengan Antibiogram.

https://mulyanipharmaco.files.wordpress.com/2012/10/www-nchmd-org-documents-antibiogram-pdf.png?w=529&h=202


Kalau dilihat dari Antibiogram di atas, pada pasien  normal, dewasa, maka dokter akan memilih obat yang memiliki nilai sensitivitas yang tinggi seperti tertera diatas, Contoh Levofloksasin atau tetracycline. Selain itu, Dokter akan menentukan AB pilihan tergantung dari beberapa faktor seperti umur pasien , alergi obat , kombinasi dengan penyakit lain dan  terapi terapi obat yang sedang dilalui.
Dapat disimpulkan dengan Antibiogram merupakan salah satu cara untuk memilih  antibiotik secara empiris. Dan dari Antibogram pula kita mengetahui dengan jelas, tidak bisa satu AB membunuh semua bakteri patogen, karena AB memiliki sifat dan kekhasannya sendiri untuk membunuh bakteri yang mana.


TEMA : PERCOBAAN ABIOGENESIS
Lazzaro Spallanzani (1768), pada percobaannya menggunakan air rebusan dari daging (air kaldu).  Air kaldu tersebut dimasukkan ke dalam dua labu, kemudian dipanaskan. Setelah dipanaskan, labu I dibiarkan terbuka. Sementara itu, setelah air kaldu dalam labu II dipanaskan, labu kemudian ditutup rapat menggunakan gabus.
Setelah beberapa hari, air kaldu dalam labu I menjadi keruh dan berbau busuk yang disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme. Mikroorganisme tersebut berasal dari udara bebas yang masuk ke labu I karena tidak ditutup. Pada labu II, ternyata tidak ada perbedaan dari sebelumnya. Air kaldu tetap jernih. Jernihnya air kaldu ini disebabkan tidak adanya udara yang masuk ke dalam labu. Percobaan Spallanzani menunjukkan bahwa pada labu terbuka terdapat kehidupan yang berasal dari mikroorganisme yang ada di udara. Pada labu yang ditutup tidak terdapat kehidupan. Berdasarkan hal tersebut, Spallanzani berkesimpulan bahwa kehidupan bukan berasal dari air kaldu, tetapi berasal dari makhluk hidup lainnya. Akan tetapi, para penganut abiogenesis menyanggah penelitian ini dan mengatakan bahwa mikroorganisme tidak tumbuh karena tidak terdapat udara. Udara dibutuhkan untuk menyokong kehidupan.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg_4ZY06XA8BJNOc2IbFytwk_194S_2tmPHfr2B1NOHe-MlkHVPd-g2QLFqILy3DQMIVE7z0XtpJ1uZ7zLApIQzJpZNtKz711hnHrhGc0jBB3buH_SPawFirTYVkuXAGXC-RgDMeTInWYnb/s1600/index2.jpg


TEMA : POPULASI BURUNG
POPULASI BURUNG MERAK HIJAU (Pavo muticus Linnaeus, 1766) DI EKOSISTEM SAVANA, TAMAN NASIONAL BALURAN, JAWA TIMUR
(Population Phoenix Birds (Pavo muticus Linnaeus, 1766) in Savanna Ecosystem, Baluran National Park, East Java)*)

Data
Tabel 4 menunjukkan bahwa sex ratio burung merak hijau di TN Baluran cenderung memiliki sistem perkawinan yang monogami, padahal secara naluri sistem perkawinan burung merak hijau poligami yang berarti satu ekor jantan dapat melayani 4-5 ekor betina (Hernowo, 1995).  Hal ini memberi indikasi bahwa populasi burung merak hijau di TN Baluran kurang sehat, karena populasi burung merak hijau betina sangat kurang apabila dibandingkan dengan burung merak hijau jantan, sehingga akan berpengaruh terhadap pola reproduksi karena ada burung merak hijau jantan yang tidak mendapat pasangan.
Hal ini menyebabkan burung merak hijau jantan yang tidak mendapat pasangan akan mengganggu telur-telur burung merak hijau dalam sarang, bahkan dapat memecahkan telur-telur tersebut, sehingga pada akhirnya penetasan telur berkurang.  Selain itu, apabila burung merak hijau betina terlalu sedikit, maka burung merak hijau jantan akan saling berkelahi untuk memperebutkan burung merak hijau betina, sehingga burung merak hijau betina tidak sempat dikawini tetapi bisa bertelur dan telur yang dihasilkan t idak dibuahi (infertile).  Namun sex ratio dan struktur umur dapat pula dipengaruhi oleh gangguan seperti penangkapan atau perburuan terhadap burung merak hijau betina.
Populasi burung merak hijau menurun dari tahun ke tahun, baik pada habitat savana Bekol maupun Bama.  Banyak faktor yang mempengaruhi penurunan populasi tersebut, antara lain meningkatnya perburuan dan predator serta kerusakan habitat yang merupakan tempat makan, bersarang, dan tidur bagi burung merak hijau.  Selama pengamatan berlangsung, terlihat masyarakat bebas memasuki kawasan melalui pintu masuk savanna Bekol dan pantai Bama dengan tujuan mencari kayu bakar dan menangkap ikan.  Terlihat truk yang keluar-masuk di dalam kawasan sebanyak 9-12 buah dalam sehari mengangkut kayu Acacia nilotica untuk dijadikan sebagai kayu bakar dan arang.  Hal ini akan memudahkan masyarakat melakukan aktivitas lain di luar tujuan semula termasuk berburu rusa, burung merak dewasa, telur dan anaknya (piyik) apabila tanpa pengawasan ketat.  Hernawan (2003) menyebutkan, keberadaan burung merak hijau sangat terancam dengan adanya penangkapan anakan yang dijual sebagai burung piaraan (pet).  Hal ini terjadi karena faktor fisik (aksesibilitas), faktor ekonomi (harga jualnya sangat tinggi), dan faktor budaya.
Keberadaan populasi burung merak hijau di savana Bekol dan Bama juga terancam dengan adanya predator, seperti biawak (Varanus salvator), ular sanca atau phyton (Pyton raticulatus), ganggarangan (Herpestes javanicus), dan babi hutan (Sus scrofa) yang dapat memangsa burung dewasa, muda bahkan anak dan telur burung merak hijau. Tingginya tingkat kehilangan telur dan anak merak hijau dari habitat dapat menyebabkan berkurangnya merak muda.
Data pada Tabel 4 dan Tabel 5 menunjukkan bahwa burung merak hijau paling banyak ditemukan yakni di savana Bekol.  Hal ini disebabkan di savana Bekol merupakan tempat burung merak hijau mencari pakan dan melakukan aktivitas lain, seperti kawin dan mandi abu.  Selain di savana, burung merak hijau juga ditemukan di pohon kesambi (S. oleosa),  gebang (C. utan), dan walikukun (S. ovata). Di Bama, lebih banyak dijadikan sebagai tempat tidur, bersarang, dan berkembangbiak.
Tabel 6 menggambarkan bahwa berdasarkan uji F pada t ingkat 5% populasi burung merak hijau di savana Bekol tidak berpengaruh nyata terhadap populasi di Bama (Fhit<F).  Penurunan populasi burung merak hijau secara keseluruhan juga disebabkan oleh adanya invasi A. nilotica, sehingga  tumbuhan bawah di sekitarnya sulit tumbuh sedangkan tumbuhan bawah tersebut merupakan pakan dan sebagai tempat hidup serta berkembangbiaknya burung merak hijau.  Tingginya tingkat penangkapan atau perburuan, predator, dan kerusakan habitat burung merak hijau menyebabkan keberadaan populasinya di TN Baluran mengalami gangguan, bahkan dapat menyebabkan kepunahan apabila t idak segera diatasi.
Pemanfaatan waktu sesuai dengan perjumpaan burung merak hijau dan aktivitas harian yang dilakukannya adalah pagi hari (pukul 05.00-10.00) berkokok, mencari makan, dan minum; siang hari (pukul 10.00-14.00) istirahat atau bertengger, mandi abu, kawin; sore hari (pukul 15.00-18.00) kembali mencari makan dan minum sebentar; dan malam hari (18.00-05.00) berkokok mencari tempat tidur dan tidur di dahan pohon.

 C. Sistem Pengelolaan
Savana merupakan habitat yang disukai burung merak hijau sebagai tempat mencari makan dan melakukan beberapa aktivitas.  Namun habitat ini sudah terinvasi ± 90% oleh spesies A. nilotica, sehingga rumput-rumput dan tumbuhan bawah lainnya yang menjadi sumber pakan burung merak hijau, pertumbuhannya menjadi terhambat.
Sistem pengelolaan terhadap perkembangan pertumbuhan invasif spesies A. nilotica yang dilakukan oleh pihak pengelola TN Baluran adalah melalui kerjasama dengan masyarakat lokal. Masyarakat diperbolehkan untuk menebang, membakar, dan memanfaatkan sebagai arang dan kayu bakar.  A.nilotica ditebang hingga ke pangkal, ranting-rant ingnya yang berukuran kecil dibakar di lokasi kemudian batang-batang berukuran 10-20 cm dijadikan arang. Sistem pengelolaan terhadap kawasan yang dilakukan oleh TN Baluran merupakan upaya untuk mempertahankan keaslian ekosistem dengan menjaga kelestarian keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya tetapi dengan memperhatikan kebutuhan hidup masyarakat lokal di sekitarnya.




TEMA : BAKTERI DALAM SUSU

Pertumbuhan merupakan proses perubahan bentuk yang semula kecil kemudian menjadi besar. Pertumbuhan menyangkut pertambahan volume dari individu itu sendiri. Pertumbuhan pada umumnya tergantung pada kondisi bahan makanan dan juga lingkungan. Apabila kondisi makanan dan lingkungan cocok untuk mikroorganisme tersebut, maka mikroorganisme akan tumbuh dengan waktu yang relatif singkat dan sempurna.
Pertumbuhan mikroorganisme yang bersel satu berbeda dengan mikroorganisme yang bersel banyak (multiseluler). Pada mikroorganisme yang bersel satu (uniseluler) pertumbuhan ditandai dengan bertambahnya sel tersebut. Setiap sel tunggal setelah mencapai ukuran tertentu akan membelah menjadi mikroorganisme yang lengkap, mempunyai bentuk dan
sifat fisiologis yang sama. Pertumbuhan jasad hidup, dapat ditinjau dari dua segi, yaitu pertumbuhan sei secara individu dan pertumbuhan kelompok sebagai satu populasi.
Pertumbuhan sel diartikan sebagai adanya penambahan volume serta bagian-bagian sel lainnya, yang diartikan pula sebagai penambahan kuantiatas isi dan kandungan didalam selnya. Pertumbuhan populasi merupakan akibat dari adanya pertumbuhan individu, misal dari satu sel menjadi dua, dari dua menjadi empat ,empat menjadi delapan, dan seterusnya hingga berjumlah banyak.
Pada mikroorganisme, pertumbuhan individu (sel) dapat berubah langsung menjadi pertumbuhan populasi. Sehingga batas antara pertumbuhan sel sebagai individu serta satu kesatuan populasi yang kemudian terjadi kadang-kadang karena terlalu cepat perubahannya, sulit untuk diamati dan dibedakan. Pada pertumbuhan populasi bakteri misalnya, merupakan penggambaran jumlah sel atau massa sel yang terjadi pada saat tertentu. Kadang-kadang didapatkan bahwa konsentrasi sel sesuai dengan jumlah sel perunit volume, sedang kerapatan sel adalah jumlah materi perunit volume.
Penambahan dan pertumbuhan jumlah sel mikroorganisme pada umumnya dapat digambarkan dalam bentuk kurva pertumbuhan. Kurva tersebut merupakan penjabaran dari penambahan jumlah sel dalam waktu tertentu, misal bernilai b, maka:
a. Pada generasi pertama, b = 1×2
b. Pada generasi kedua,b = 1×22
c. Pada generasi ke-n,b = 1x2n sehingga akhirnya: b=a x 2n
Dengan perhitungan logaritma, persamaan dapat dituliskan menjadi :
Log b = log 10a + alog 102
= log 10a + 0,301 n
= log 10b – log 10a
atau n = 0,301
Pertumbuhan bakteri dalam biak statik akan mengikuti kurva pertumbuhan. Jika bakteri ditanam dalam suatu larutan biak, maka bakteri akan terus tumbuh sampai salah satu faktor mencapai minimum dan pertumbuhan menjadi terbatas. Pertumbuhan biak bakteri dengan mudah dapat dinyatakan secara grafik dengan logaritme jumlah sel hidup terhadap waktu. Suatu kurva pertumbuhan punya bentuk sigmoid dan dapat dibedakan dalam beberapa tahap pertumbuhan. Ada beberepa tahap pertumbuhan yaitu : terdapat kurva pertumbuhan atau gambar.
Tahap ancang-ancang yang mencakup interval waktu antara saat penanaman dan saat tercapainya kecepatan pembelahan maksimum, lamanya tahap ancang-ancang ini terutama tergantung dari biak wal, umur bahan yang ditanam dan juga dari sifat larutan biak.
·        Tahap eksponensial; Pada tahap pertumbuhan eksponensial terciri oleh kecepatan pembelahan maksimum yang konstan kecepatan pembelahan diri sepanjang tahap log bersifat spesifik untuk tiap jenis bakteri dan tergantung lingkungan.
·        Tahap stationer; Tahap ini dimulai kalau sel-sel sudah tidak tumbuh lagi. Kecepatan pertumbuhan tergantung dari kadar substrat, menurunnya kecepatan pertumbuhan sudah terjadi ketika kadar subtrat berkurang sebelum subtrat habis terpakai. Massa bakteri yang dicapai pada tahap stationer dinamakan hasil atau keuntungan.
·        Tahap kematian; Pada tahap kematian dan sebab-sebab kematian sel bakteri dalam larutan biak normal masih kurang diteliti. Ada kemungkinan bahwa sel-sel dihancurkan oleh pengaruh enzim asal sel sendiri (otolisis)
Pertumbuhan bakteri dalam biak sinambung tidak akan mengikuti kurva pertumbuhan. Dalam pertumbuhan bakteri ini terdapat prosedur yang menjadi dasar biak sinambung yang dilakukan dalam kemostat dan turbidostat
1. Pertumbuhan dalam kemostat
Kemostat terdiri dari bejana biak yang dimasuki larutan biak dari bejana persediaan dengan kecepatan aliran tetap. Diusahakan dalam bejana biak terdapat pemasokan O2 secara optimum dan supaya selekas mungkin terjadi distribusi merata dari nutrien yang dialirkan masuk sebagai larutan biak. Kecepatan pertambahan dinyatakan sebagai μx = dx/dt dan kerapatan bakteri meningkat dengan x = x0 e μ/t. Biak dalam kemostat dikendalikan subtrat. Stabilitas sistem ini berlandaskan keterbatasan kecepatan tumbuh oleh konsentrasi subtrat yang diperlukan pertumbuhan (donor H, sumber N, Sumber S, atau sumber P).
2. Pertumbuhan dalam turbidostat
Sistem ini didasarkan pada kerapatan bakteri tertentu atau kekeruhan tertentu yang dipertahankan konstan. Ada perbedaan mendasar antara biak statik klasik dengan biak sinambung dalam kemostat biak static harus dilihat sebagai sistem tertutup (boleh disamakan dengan organisme sial, tahap stationer dan tahap kematian. Kalau pada biak sinambung merupakan sistem terbuka yang mengupayakan keseimbangan aliran untuk organisme selalu terdapat kondisi lingkungan yang sama.
Dalam pertumbuhan sinkron akan terjadi sinkronisasi pembelahan sel. Hal ini dimaksudkan agar proses metabolisme siklus pembelahan bakteri dapat dipelajari disperlukan suspensi sel yang mengalami pembelahan sel dalam waktu sama yaitu sinkron. Sinkronisasi populasi sel dapat dicapai dengan berbagai tindakan buatan antara lain dengan merubah suhu rangsangan cahaya, pembatasan nutrien atau menyaring untuk memperoleh sel-sel yang sama ukurannya. Sinkronisasi pertumbuhan ini juga dimaksudkan untuk menyediakan stater dengan usia yang sama.
Gambaran pertumbuhan mikroorganisme seringkali tidak sesuai seperti yang sudah diterangkan kalau faktor-faktor lingkungan yang menyertainya tidak memenuhi persyaratan. Beberapa penyimpangan yang sering terjadi pada gambaran kurva tersebut dapat diterangkan sebagai berikut :
Pengaruh lingkungan terhadap kurva pertumbuhan
1. Kurva A : Menunjukkan terdapatnya fase lag yang cukup lama sebelum mikroorganisme dapat tumbuh dan bertambah.
2. Kurva B : Menunjukkan tidak adanya fase lag, karena begitu ditanamkan, maka pertumbuhan mikroorganisme dapat langsung ke fase logaritmik atau fase eksponensial pertumbuhan.
3. Kurva C : Menunjukkan fase lag yang panjang atau lama serta tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang baru (mati).
4. Kurva D : adalah gambaran suatu kurva pertumbuahan mikroorganisme yang secara kontinu terus menerus diberi tambahan sumber nutrient, sehingga ada kesinambungan pertumbuhan walau makin lama mengarah kepada penurunan.


TEMA : TAMAN HIJAU

Berikut saran ini yang dikemukakan oleh S. Windiyani Mustiko, alumnus Landscpe Institut Pertanian Bogor, tentang tips merawat rumput agar lebih hijau dan menyegarkan.
Cara merawat rumput di pekarangan tetap hijau
Air untuk Rumput
Air merupakan salah satu elemen penting untuk kesehatan rumput anda. Ada masa di mana rumput tidak mendapatkan cukup air yang biasanya timbul di musim kemarau, sehingga diperlukan penyiraman yang lebih intensif di pagi dan sore hari. Kondisi air berlebih juga tidak dibenarkan, karena akan menyebabkan pembusukan pada rumput.
Alat Penyiram Rumput
Pemakaian alat siram rumput seperti gembor dan sprayer akan lebih baik karena air diberikan secara halus dan merata.
Pemupukan Rumput
Pemupukan adalah salah satu hal yang perlu dilakukan setidaknya tiga bulan sekali. Gunakan pupuk NPK dengan perbandingan antara Nitrogen, Fosfor, dan Kalium 1:1:1. Dosis yang digunakan adalah 100 gr/m2. Campurkan sedikit pasir halus pada pupuk agar sebarannya lebih merata.
Pupuk Organik untuk Rumput
Penggunaan pupuk organik perlu dilakukan agar tanah tetap gembur dan diharapkan dapat mempercepat proses penyerapan makanan oleh tanaman. Humus yang halus dan kering merupakan salah satu pupuk organik yang baik. Sebarkan pupuk organik di atas permukaan tanah secara merata dengan dosis 1 kg/m2.
Pembersihan Rumput
Bersihkan rumpus hias anda dari gulma yang mengganggu keindahan dan pertumbuhannya. Usahakan untuk mencabut gulma sampai ke akar-akarnya, dengan bantuan pisau kebun.
Pemangkasan Rumput
Lakukan pemangkasan rumput di pekarangan minimal seminggu sekali. Khusus untuk musim hujan, biasanya rumput anda akan tumbuh lebih cepat, sehingga pemangkasan harus lebih sering.



Tinggi Rumput
Pertahankan tinggi rumput sampai 2,5 – 3 cm, agar rumput tumbuh dengan baik dan tampak indah. Begitu pula bila pemangkasan terlalu berlebihan akan menyebabkan kekeringan pada bagian pangkal dan rumbut terlihat botak.
Penyuntikan Rumput
Rumput yang sering diinjak, tanahnya akan pada dan mengeras. Hal ini akan berpengaruh pada pertumbuhan rumput. Rumput memerlukan udara untuk pertumbuhannya. Karena itu perlu dilakukan penyuntikan dengan cara membuat lubang dengan garpu tanaman sedalam 5 – 10 cm dengan jarak 10 – 3 cm, kemudian isilah dengan pasir atau humus halus. Lubang-lubang ini akan membantu tanaman untuk dapat menyerap air dan udara segar ke dalam            tanah.


TEMA : OPERASI JANTUNG

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgxkAWoe9lNfvOWJxnrRskRrFJOWeARxma_yIHIl1axP7SYSAnVpqJkzLG_Q2l8dm-HhlleXEgbn8pG7NftrVfojzMaZNfIn0oq0SDa4Scmr8Pp69qWkcqriUoEweXVMLuxQb5ChppXI5c/s1600/sistem-peredaran-darah-besar-kecil.jpg

Jantung mempunyai empat ruang yang terbagi sempurna yaitu dua serambi (atrium) dan dua bilik (ventrikel) dan terletak di dalam rongga dada sebelah kiri di atas diafragma. Jantung terbungkus oleh kantong perikardium yang terdiri dari 2 lembar :
a. lamina panistalis di sebelah luar
b. lamina viseralis yang menempel pada dinding jantung.

Bagian-bagian jantung
Jantung memiliki katup atrioventikuler (valvula bikuspidal) yang terdapat di antara serambi dan bilik jantung yang berfungsi mencegah aliran dari bilik keserambi selama sistol dan katup semilunaris (katup aorta dan pulmonalis) yang berfungsi mencegah aliran balik dari aorta dan arteri pulmonalis kiri ke bilik selama diastole.
Definisi (CABG)
   Coronary Artery Bypass Graft (CABG) merupakan salah satu penanganan intervensi dari Penyakit Jantung Koroner (PJK), dengan cara membuat saluran baru melewati arteri koroner yang mengalami penyempitan atau penyumbatan (Feriyawati, 2005).
CABG Off Pump (OPCAB) yaitu CABG yang dilakukan tanpa menggunakan mesin pintas jantung-paru atau Cardiopumonary Bypass sebagai pengobatan penyakit jantung koroner. Off-pompa bypass arteri koroner dikembangkan sebagai alternatif untuk menghindari komplikasi bypass cardiopulmonary selama operasi jantung. Komunitas medis percaya cardiopulmonary bypass menyebabkan penurunan kognitif pasca operasi yang dikenal sebagai sindrom postperfusion, namun penelitian tidak menunjukkan perbedaan jangka panjang antara on dan off pump  CABG
Selain itu OPCAB dikaitkan dengan manfaat klinis lain seperti penurunan risiko stroke atau masalah memori, pasien juga biasanya memiliki pemulihan lebih cepat dan perawatan di rumah sakit yang lebih pendek, lebih sedikit transfusi darah, serta mengurangi terjadinya masalah imflammatory / masalah respon imun yang tidak diinginkan. (Wikipedia, 2010)
Pada teknik CABG off Pump jantung berdenyut normal dan paru – paru pun berfungsi seperti biasa. Pada teknik operasi ini suhu diturunkan menjadi 280 – 320 C yang bertujuan untuk menurunkan kebutuhan jaringan akan oksigen seminim mungkin, heart rate dipertahankan antara 60 – 80 x/mnt, tekanan arteri dipertahankan 70 – 80 mmHg. Suhu diturunkan dengan cara pendinginan topical yaitu dengan cara :
§  Irigasi otot jantung dengan ringer dingin 40 C. jantung direndam dalam cairan.
§  Memakai ringer dingin seperti bubur (ice slush)
Operasi bypass jantung disebut juga sebagai operasi Coronary Artery Bypass Graft (CABG). Operasi bypass jantung merupakan salah satu penanganan operatif pada Penyakit Jantung Koroner (PJK), yaitu penyakit penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah nadi (arteri) koroner jantung, dengan cara revaskularisasi (membuat saluran baru) melewati arteri koroner yang mengalami penyempitan atau penyumbatan sehingga terdapat aliran darah baru yang membawa oksigen dan nutrien lain ke otot jantung. Saluran baru yang dibuat dapat berasal dari arteri (pembuluh darah nadi) atau vena (pembuluh darah balik) yang sehat dari tubuh bagian lain, yang nantinya dicangkokkan/dihubungkan ke arteri koroner yang menyempit atau tersumbat.


TUJUAN CABG
Pengobatan penyakit jantung adalah untuk memaksimalkan curah jantung. Melalui pembedahan, ini dapat dilakukan dengan memperbaiki fungsi otot miokordia dan aliran darah melalui tandur bypass arteri koroner (CABG) dan atau penggantian katup yang rusak. Coronary Artery Bypass Grafting (CABG) bertujuan untuk mengatasi terhambatnya aliran Artety Coronaria akibat adanya penyempitan bahkan penyumbatan ke otot jantung. Pemastian daerah yang mengalami penyempitan telah dilakukan sebelumnya dengan melakukan kateterisasi Artery Coronary. Sasaran operasi bypass adalah mengurangi gejala penyakit arteri koroner (termasuk angina), sehingga pasien bisa menjalani kehidupan yang  normal dan mengurangi risiko serangan jantung atau masalah jantung lain.
Perlu diketahui, tidak semua pasien yang menderita PJK memerlukan operasi bypass jantung, hanya pasien-pasien yang terpilih saja. Penderita PJK yang diperbolehkan untuk dilakukan operasi bypass jantung adalah penderita PJK yang sudah mengubah pola hidupnya menjadi baik, yang sudah diterapi dengan obat-obatan hingga dosis maksimal, dan bukan merupakan kandidat yang baik untuk menjalani operasi angioplasti (atau disebut juga Percutaneous Transluminal Angioplasty (PTCA), yaitu operasi pada arteri jantung dimana pada pembuluh darah yang menyempit dan tersumbat itu dimasukkan suatu balon sehingga arteri yang tersumbat tersebut mengembang. Kadangkala, operasi angioplasti juga dilanjutkan dengan operasi bypass jantung untuk lebih meningkatkan aliran darah arteri koroner jantung), serta yang masih terdapat gejala-gejala PJK, seperti nyeri dada sebelah kiri yang menjalar. Syarat lainnya untuk dilakukan operasi bypass jantung adalah terdapat banyak penyempitan atau penyumbatan pada cabang arteri koroner
Operasi bypass jantung telah menunjukkan perkembangan yang baik, yaitu bertambahnya masa kelangsungan hidup yang bersifat jangka panjang pada pasien-pasien di atasOperasi ini biasanya memakan waktu 3-6 jam. Pasien akan menerima anestesi umum dan tidur selama operasi. Selama operasi, tulang dada dan rusuk akan dibuka untuk mempermudah akses ke jantung. Pada saat operasi, detak jantung akan dihentikan, lalu suhu jantung didinginkan, sementara itu, cairan pengawet disuntikkan pada arteri jantung. Proses ini bertujuan untuk meminimalisasikan kerusakan yang diakibatkan oleh penurunan aliran darah selama operasi. Lalu, sirkulasi darah dan fungsi pernapasan akan diambil alih oleh mesin, yaitu mesin jantung-paru (dari paru-paru pasien ke mesin jantung) yang disambungkan ke tubuh pasien agar didapatkan darah yang kaya oksigen dan untuk menjaga darah dan oksigen tetap mengalir menuju organ-organ tubuh selama operasi. Aorta (pembuluh darah utama tubuh yang mengalikan darah dari jantung ke organ-organ tubuh) akan diklem/dijepit selama operasi bypass jantung agat tidak mengalirkan darah selama operasi berlangsung sehingga darah yang kaya oksigen dialirkan melalui mesin jantung-paru ke organ-organ tubuh. Kadang, beberapa penyumbatan atau penyempitan dapat di-bypass dalam satu operasi. Metode ini disebut sebagai Traditional Coronary Artery Bypass Grafting, yang paling banyak digunakan. Pada jaman sekarang, operasi bypass jantung dapat dilakukan tanpa menggunakan mesin jantung-paru, sehingga jantung masih tetap berdetak. Metode ini dikenal dengan Off-Pump Coronary Artery Bypass Grafting atau Beating Heart Bypass Grafting. Metode ini meminimalisasikan komplikasi yang dapat terjadi ketika mesin jantung-paru digunakan dan dapat mempercepat waktu penyembuhan. Terdapat satu lagi metode terbaru yang mirip dengan metode kedua dalam operasi bypass jantung, yaitu Minimally Invasive Direct Coronary Artery
Bypass Grafting. Metode ini hanya memotong sedikit bagian dada pasien (menginvasi secara minimal) dan biasanya digunakan bila pembuluh darah yang tersumbat itu berada di depan jantung dan tempat sumbatan hanya berada pada satu arteri koroner. Karena masih baru, maka prosedur ini masih sedikit dipraktikkan.
Pembuluh darah cangkokan yang sering digunakan dalam operasi bypass jantung adalah vena saphena yang terdapat pada tungkai bawah. Vena tersebut dicangkok dan dijahit ke arteri koroner melewati bagian yang menyempit atau tersumbat. Bagian akhir dari vena tersebut dilekatkan pada aorta. Peranan vena tersebut dalam memperdarahi tungkai bawah akan diganti dengan vena-vena kecil yang terdapat pada tungkai bawah tersebut. Selain vena saphena, pada zaman sekarang, juga dapat digunakan arteri mamaria internal kiri yang terdapat pada dinding dada. Arteri ini dipisahkan dari dinding dada dan dihubungkan dengan arteri koroner dan/atau salah satu cabang arteri koroner yang tersumbat. Kelebihan menggunakan arteri mamaria internal kiri ini adalah penggunaannya dapat lebih lama. Sedangkan kekurangannya adalah arteri memiliki panjang yang terbatas, dan hanya dapat digunakan pada sumbatan atau penyempitannya yang dekat. Selain itu, kekurangan yang lain adalah dapat memperlama operasi bypass jantung karena akan dibutuhkan waktu tambahan untuk memisahkan arteri tersebut dari dinding dada. Oleh sebab itu, arteri ini tidak dapat digunakan pada operasi-operasi bypass jantung yang bersifat darurat. Sekarang ini, diketahui juga dapat digunakan pembuluh darah dari tempat lain, misalnya tungkai atas.
Setelah operasi, pasien biasanya ditempatkan pada ruang ICU (Intensive Care Unit) agar dapat dipantau dengan ketat fungsi jantung dan tanda-tanda vitalnya selama 1-2 hari. Hampir 25% pasien dapat mengalami gangguan ritme jantung dalam 3 atau 4 hari setelah operasi bypass jantung. Hal ini diakibatkan oleh trauma operasi pada jantung. Namun, sebagian besar gangguan ritme ini dapat berespon baik dengan terapi obat-obatan yang dapat mencapai satu bulan. Sekitar 5% pasien membutuhkan perhatian ketat dalam 24 jam karena risiko perdarahan setelah operasi. Ketika pemantauan ketat tidak diperlukan lagi, biasanya dalam waktu 2-3 hari setelah operasi, pasien akan dipindahkan ke unit perawatan transisi. Rata-rata waktu rawat inap pasien yang menjalani operasi bypass jantung sekitar 3-8 hari. Jahitan dilepaskan dari dada atau dari tungkai bawah (jika menggunakan vena saphena) sekitar 7-10 hari setelah keluar dari rumah sakit. Pasien dapat sembuh total sekitar 4-6 minggu. Pasien dapat kembali bekerja sekitar 1-2 bulan setelah operasi.
Setelah operasi bypass dilakukan, pasien harus memperhatikan beberapa hal, yaitu:
*      Karena peranan vena saphena diganti dengan vena-vena kecil, maka akan timbul pembengkakan pada sisi bersangkutan. Pasien disarankan untuk menggunakan kaus kaki atau stocking yang elastis selama 1-6 hari setelah operasi dan mengangkat tungkai bawah sisi bersangkutan ketika duduk. Pembengkakan ini biasanya akan hilang sekitar enam sampai delapan minggu.
*      Penyembuhan tulang dada memakan waktu sekitar 6-8 minggu dan ini akan membuat pergerakan tubuh pasien menjadi terbatas. Pasien disarankan untuk tidak mengangkat atau menarik barang lebih dari 5 kilogram atau melakukan aktivitas-aktivitas berat selama proses penyembuhan. Pasien juga disarankan untuk tidak melakukan aktivitas yang bersifat mengerak-gerakkan dada atau yang membuat dada menjadi terbebani, seperti bersin atau batuk dengan keras, mengendarai kendaraan bermotor atau melakukan hubungan seksual selama 4-8 minggu pertama untuk menghindari luka pada dada.
*      Pasien juga dianjurkan untuk mengubah pola hidupnya menjadi sehat untuk menurunkan kemungkinan mendapatkan PJK kembali, seperti berhenti merokok, menurunkan berat badan, diet rendah lemak, mengontrol tekanan darah dan kadar gula darah, dan kolesterol.
*      Pasien juga dianjurkan untuk rutin memonitor keadaan pembuluh darah cangkokannya agar masalah pada pembuluh darah cangkokan dapat diketahui lebih dini.
*      Pasien juga diharapkan untuk rutin mengontrol keadaan luka pasca operasi, baik pada dada maupun tungkai bawah (jika digunakan vena saphena) agar tidak terjadi infeksi.
*      Pasien juga dapat mengalami nyeri otot pada bahu dan punggung atas, lemas, perubahan mood atau depresi, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, dan konstipasi. Namun semua keluhan ini akan hilang 6-12 minggu kemudian. Terdapat studi yang mengatakan bahwa jika dalam operasi digunakan mesin jantung-paru, diduga pasien juga dapat mengalami hilang ingatan dan perubahan lainnya, seperti sulit berkonsentrai atau berpikir. Perubahan ini lebih banyak terjadi pada pasien yang sudah tua, yang mempunyai penyakit tekanan darah tinggi atau penyakit paru-paru, yang sering minum minuman beralkohol. Namun, keluhan ini akan membaik dalam beberapa bulan setelah operasi.
*      Akan dilakukan uji latihan rutin yang dilakukan sejak empat sampai enam minggu setelah operasi dan hasilnya akan menandakan untuk dimulainya program rehabilitasi jantung. Program rehabilitasi tersebut terdiri dari program latihan selama 12 minggu yang meningkat secara bertahap, dimana latihan dilakukan selama satu jam, tiga kali seminggu.

Pengaturan Suhu Tubuh
Hipotermi  adalah suatu keadaan dimana suhu tubuh berada di bawah 35 derajat celcius. Sedangkan Hipotermi menurut Rutter tahun 1999 adalah suhu inti tubuh dibawah 36 derajat celcius.
Hipotermi terjadi karena penurunan suhu tubuh yang disebabkan oleh berbagai keadaan, terutama karena tingginya kebutuhan oksigen dan penurunan suhu ruangan. Penurunan suhu tubuh   dalam waktu 15 menit, sehingga metabolisme jaringan meningkat dan kebutuhan oksigen juga meningkat.
Hipotermi merupakan suatu tanda bahaya karena dapat menyebabkan terjadinya perubahan metabolisme tubuh yang akan berakhir dengan kegagalan fungsi jantung paru dan kematian.
Tujuan induced hypothermia adalah mencegah kematian sel otak baik akibat langsung daari iskemia maupun reperfusion injury. Hipothermia menurunkan metabolisme sel sehingga balans oksigen (pasokan-kebutuhan) lebih baik selain itu menurunkan kerentanan sel terhadap radikal bebas/mediator yang beredar saat reperfusi sehingga kematian sel dapat dikurangi. Target tehnis dari tindakan ini adalah menurunkan suhu otak sampai sekitar 31oC-32oC (suhu inti tubuh 32oC-34oC) secepat mungkin, tehnik whole body hypothermia dalam waktu kurang dari 6 jam sejak terjadinya episoda iskemik otak memberikan hasil yang memuaskan. Tergantung kasus dan status neurologis yang dihasilkan penerapan tindakan ini dapat berlangsung lebih dari 24 jam.


TEMA : RADIOTERAPI
Artikel
Kanker saat ini menjadi penyakit dengan sebaran yang tinggi di samping jantung, dan penyakit pembuluh darah. Di RSUP Dr Kariadi, Semarang, hampir di setiap bangsal terdapat pasien dengan penyakit mematikan tersebut. Untungnya, teknologi kedokteran yang berkembang pesat membuat harapan hidup penderita kanker kini semakin besar, terutama jika deteksi dilakukan lebih dini.
Salah satu cara pengobatan kanker adalah dengan radioterapi, yakni metode yang menggunakan energi pengion (x-ray, zat radioaktif) kepada lokasi tumor atau kelenjar getah bening. "Pengobatan lain adalah dengan pembedahan dan kemoterapi. Kombinasi ketiga metode akan memberikan hasil yang lebih optimal," ujar spesialis Radiologi dari RSUP Dr Kariadi, Semarang, Dr Christina Hari Nawangsih SpRad.
Pengobatan dengan radioterapi sudah ada sejak kurang lebih seratus tahun lalu, tidak lama setelah Prof. Willem Conrad Roentgen menemukan sinar X. Dengan berkembangnya ilmu kedokteran dan teknologi, metode ini makin mendapat tempat dalam pengobatan penyakit kanker.
Prinsip pengobatan ini adalah apabila berkas sinar radioaktif atau partikel dipaparkan ke jaringan, maka akan terjadi berbagai peristiwa antara lain peristiwa ionisasi molekul air yang mengakibatkan terbentuknya radikal bebas di dalam sel yang pada gilirannya akan menyebabkan kematian sel. Lintasan sinar juga menimbulkan kerusakan akibat tertumbuknya DNA (deoxy ribonucleic acid) yang dapat diikuti kematian sel.
Sebenarnya baik sel kanker maupun sel normal akan mengalami peristiwa yang sama, hanya saja pada sebagian besar jenis kanker memperlihatkan kepekaan yang lebih tinggi terhadap sinar ini daripada sel-sel normal. Jadi diharapkan, pada pengobatan penyakit kanker, semua sel kanker telah mengalami kematian sebelum terjadi cedera yang berlebih pada sel-
UNIT radiologi RSUP Dr. Kariadi sel normal yang masih hidup. Jadi saat pemberian radiasi dihentikan, sel normal ini akan kembali sehat seperti sediakala.
Untuk itu, sinar yang diberikan tidak boleh melewati ambang dosis kemampuan hidup sel normal. Jaringan yang ikut terpapar radiasi juga tidak boleh terlalu banyak. Ini berarti makin sedikit jumlah sel kanker yang disinar makin tinggi kemungkinan penyembuhannya. Jadi, bila benjolan relatif masih kecil maka pengobatan akan lebih efektif.
Dr Hari Nawangsih menambahkan, pengobatan radioterapi biasanya diberikan dalam beberapa minggu. Daerah yang disinari adalah yang tidak bisa dijangkau oleh pembedahan. Sebagai misal pada kanker nasofaring (daerah di belakang rongga hidung sampai di bawah atap tulang tengkorak) dan kanker otak.
"Dari tingkat keganasannya, kanker yang banyak dijumpai di Kariadi adalah leher rahim, payudara dan nasofaring. Selain itu saat ini mulai banyak yang menderita kanker paru-paru. Biasanya pasien datang dalam kondisi stadium lanjut karena kadangkala gejala kanker paru tidak terasa di stadium awal," kata Dr Hari Nawangsih.
Dalam penggunaannya, radioterapi bisa diberikan sebelum, bersamaan, ataupun setelah pengobatan. Hal ini tergantung tujuannya, apakah untuk tujuan kuratif yaitu kesembuhan atau tujuan paliatif yakni dalam rangka memperbaiki kualitas hidup penderita.
Meski teknologi semakin canggih, ditandaskan Dr Hari Nawangsih, paling utama adalah tetap menjaga kesehatan dengan menjaga pola makan (diet) terutama menghindari makanan kaya lemak, istirahat yang cukup dan olahraga.

Karena, sehebat apa pun pengobatan tetap memiliki efek samping. Untuk Radioterapi, dampak penggunaannya antara lain kulit kemerahan, timbul gelembung, kerusakan kulit, hingga terjadi ulkus atau jaringan nekrotik. Juga, efek lanjutan seperti pengerutan jaringan atau fibrosis, mulut kering, dan pendarahan.

TERAPI PROTON

Terapi Proton menawarkan keuntungan yang mengubah hidup untuk anak-anak dengan kanker. Sinar energi sangat terfokus menambahkan dibutuhkan banyak senjata dalam mengobati tumor otak, dengan efek samping yang lembut
Rumah Sakit Anak Philadelphia mengumumkan ketersediaan terapi proton, suatu bentuk yang tepat dari radiasi kanker yang menawarkan berpotensi mengubah hidup manfaat bagi anak-anak dengan tumor otak dan tumor padat lainnya. Pusat Kanker Rumah Sakit ini baru-baru mulai menggunakan pengobatan proton pada baru Roberts Proton Therapy Center, pemotongan-tepi onkologi radiasi fasilitas yang terletak di seberang jalan dari Rumah Sakit Anak di Penn Kedokteran Perelman Pusat Kedokteran Lanjutan.
Dengan seorang anak didiagnosis dengan tumor otak, orang tua sering menghadapi dilema yang kejam. Radiasi pengobatan konvensional yang menawarkan hidup seringkali risiko efek samping yang parah, termasuk kerusakan jaringan sehat di sekitarnya, serta gangguan pendengaran, pertumbuhan visi, dan kognisi. Setelah-efek dapat menghambat kehidupan sehari-hari anak dan dapat membawa prospek cacat seumur hidup dan ketergantungan. Bahkan, efek samping yang berpotensi menghancurkan cukup bahwa terapi radiasi konvensional tidak diberikan kepada anak di bawah usia dua.
Roberts Proton Therapy Center adalah fasilitas terapi proton hanya di negara dipahami dengan pasien anak-anak dalam pikiran dari tahap perencanaan awal. Anak-anak yang menerima terapi proton dalam $ 140.000.000 negara-of-the-art fasilitas manfaat dari kolaborasi lama antara Rumah Sakit Anak dan onkologi radiasi di Penn Kedokteran. Pasien muda pengalaman keluarga yang berfokus pada perawatan pediatrik dari tim medis yang memahami kebutuhan unik anak-anak dengan kanker, sambil memberikan dukungan emosional untuk seluruh keluarga. Setiap detail telah dipertimbangkan - dari penjadwalan perawatan pagi untuk anak-anak yang tidak bisa makan sebelum anestesi, untuk menawarkan kamar anak yang berorientasi berdedikasi tunggu dan ruang anestesi pediatrik khusus.
"Ketika program anak Roberts Proton Therapy Center adalah sepenuhnya operasional, Cancer Center di Rumah Sakit Anak akan dapat merawat anak-anak lebih banyak dengan terapi proton daripada semua pusat proton Amerika lainnya digabungkan, sehingga mengurangi dampak negatif dari terapi kanker untuk anak-anak dari Philadelphia daerah dan di seluruh negeri "kata John M. Maris, MD, kepala Onkologi dan direktur Pusat Kanker di Rumah Sakit Anak Philadelphia.
Dengan program yang luas dari layanan yang komprehensif, Pusat Kanker adalah salah satu program terbesar kanker pediatrik di Amerika Serikat. Semua perawatan kanker tersedia di satu lokasi, termasuk kunjungan dokter, praktikum dan berbagai terapi. Dalam daftar yang paling terakhir, US News & World Report peringkat Rumah Sakit Anak pertama dalam perawatan kanker antara rumah sakit anak-anak Amerika itu.

Selain aplikasi untuk tumor otak, terapi proton juga mungkin cocok untuk kanker kepala dan leher, dan tumor yang terletak dekat jantung, sumsum tulang belakang dan paru-paru-situs makin mendekati ke organ vital.
Munculnya terapi proton memberikan pengurangan dramatis dalam efek samping bila dibandingkan dengan radiasi konvensional. Karena proton dapat lebih tepat ditujukan dan berkonsentrasi pada tumor, kurang banyak energi dampak jaringan normal di depan dan belakang massa kanker. Pada saat yang sama, dokter dapat meningkatkan dosis radiasi difokuskan pada tumor untuk manfaat optimal.
Proton bermuatan positif partikel, ditemukan dalam inti setiap atom, namun dibuat tersedia dalam terapi ini dengan pengupasan elektron dari atom hidrogen. Meskipun sering dimanipulasi oleh fisikawan energi tinggi akselerator partikel dalam pengaturan penelitian sejak pertengahan abad ke-20, proton hanya bertahap menjadi bagian dari praktek medis. Sekarang ini hanya ada tujuh pusat terapi proton di Amerika Serikat.

TEMA : HEWAN KARNIVORA

Istilah Karnivora (satwaboga, atau maging) adalah hewan yang makanannya kebanyakan adalah daging, baik yang dimakan hidup-hidup atau berasal dari daging hewan yang sudah mati. Kata karnivora berasal dari bahasa Latin carne yang berarti daging dan vorare yang berarti "memakan"). Kata ini juga dapat digunakan untuk menyebut mamalia dalam ordo Carnivora yang pada umumnya sesuai dengan definisi pertama. Jadi Karnivora adalah jenis binatang yang memakan makanan yang berasal dari tubuh hewan lainnya seperti daging, darah, dan sebagainya. Hewan ini disebut juga sebagai hewan predator.
Contoh hewan carnifora adalah singa, macan, harimau, cheetah, piranha, burung bangkai, burung pemakan serangga, ikan arwana, dan lain sebagainya.
Gigi hewan karnivora atau pemakan daging beradaptasi menjadi empat gigi taring besar dan runcing untuk menangkap mangsa, serta gigi geraham dengan ujung pemotong yang tajam untuk mencabik-cabik mangsanya.


TEMA : GANGGANG
PENGARUH UPWELLING TERHADAP LEDAKAN ALGA (BLOOMING ALGAE)
DI LINGKUNGAN PERAIRAN LAUT

Fitoplankton adalah organisme satu sel mikroskopik yang hidup di perairan tawar maupun laut. Kebanyakan fitoplankton tidak berbahaya selama pertumbuhannya normal dan tidak mengganggu ekosistem di sekitamya karena pada dasamya fitoplankton adalah produsen energi (produsen primer) pada suatu rantai makanan dalam ekosistem. Tetapi bila pada perairan tertentu terjadi pertumbuhan alga yang sangat berlimpah yang dikenal dengan nama ledakan alga atau Blooming Algae dan dikenal juga dengan istilah HABs (Harmful Alga Blooms) karena berlimpahnya nutrien pada badan air, maka akan berdampak besar terhadap lingkungan perairan tersebut.
Hasil-hasil penelitian menyebutkan bahwa peledakan alga selain disebabkan karena buangan domestik yang dibawa aliran air sungai yang masuk ke perairan laut yang mengakibatkan tingginya konsentrasi nutrien di suatu badan air (seperti Nitrogen, Fosfor dan Silikat), maka unsur hara yang cukup banyak bisa terkumpul di suatu kawasan laut yang relatif tenang semisal teluk, akibat pergerakan arus yang memusat dan menuju ke tempat tertentu. Hal ini dapat diakibatkan oleh faktor alam (upwelling) dan pengaruh elnino atau lanina atau kurangnya zooplankton (kopepoda) herbivora yang mengontrol populasi fitoplankton. Namun, secara umum, pemicu kejadian ledakan alga adalah kombinasi atau gabungan dari perubahan beberapa parameter di suatu badan air. Walaupun bukan merupakan faktor utama dalam terjadinya ledakan alga, tetapi pengaruh upwelling cukup signifikan bila terjadi bersama sarna dengan pemicu lainnya. Makalah ini akan membahas pengaruh upwelling terhadap ledakan alga.
UPWELLING
Upwelling sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi ledakan alga, dapat didefinisikan sebagai peristiwa menaiknya massa air laut dari lapisan bawah ke permukaan (dari kedalaman 150 – 250 meter) karena proses fisik perairan. Proses upwelling terjadi karena kekosongan massa air pada lapisan permukaan, akibat terbawa ke tempat lain oleh arus. Upwelling dapat terjadi di daerah pantai dan di laut lepas. Di daerah pantai, upweling dapat terjadi jika massa air lapisan permukaan mengalir meninggalkan pantai. Untuk laut lepas, proses upwelling dapat terjadi karena adanya pola arus permukaan yang menyebar (divergence), sehingga massa air dari lapisan bawah permukaan akan mengalir ke atas mengisi kekosongan yang terjadi karena menyebamya arus. Adanya proses ini ditandai dengan turunya suhu permukaan laut yang cukup mencolok (sekitar 2°C untuk daerah tropis, dan > 2°C untuk daerah sub tropis).
Upwelling dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu:
I. Jenis tetap (stationary type), yang terjadi sepanjang tahun meskipun intensitasnya dapat berubah ubah.  Di sini akan berlangsung gerakan naiknya massa air dari lapisan bawah secara mantap dan setelah mencapai permukaan, massa air bergerak secara horizontal ke luar, seperti yang terjadi di lepas pantai Peru.
2. Jenis berkala (periodic type) yang terjadi hanya selama satu musim saja. Selama air naik, massa air lapisan permukaan meninggalkan lokasi air naik, dan massa air yang lebih berat dari lapisan bawah bergerak ke atas mencapai permukaan.
3. Jenis silih berganti (alternating type) yang terjadi secara bergantian dengan penenggelaman massa air (sinking). Dalam satu musim, air ringan di lapisan permukaan bergerak ke luar dari lokasi terjadinya air naik dan air lebih berat di lapisan bawah bergerak ke atas yang kemudian tenggelam. Di Indonesia, arus upwelling yang terjadi hanya jenis berkala dan jenis silih berganti dan hanya ada di perairan tertentu dan hanya pada musim timur. Oaerah tempat upwelling seperti di Laut Banda sebelah selatan Pulau Jawa sampai Lombok utara, Pulau Halmahera, Laut Cina Selatan, Laut Maluku dan Setat Makasar. Selain melandainya suhu permukaan, keberadaan upwelling juga ditandai oleh naiknya unsur hara atau nutrien pad a lokasi tersebut, karena massa air bawah permukaan pada umumnya lebih kaya zat hara dibanding dengan lapisan permukaannya. Nutrien, khususnya pospat dan silikat di zona fotik sangat berpengaruh terhadap produktivitas fitoplankton, dan oleh karena itu pada lokasi upwelling akan ditemui fitoplankton dalam jumlah yang besar.
Peningkatan populasi fitoplankton yang sangat tinggi dan cepat akan berakibat pada beberapa hal, antara lain : (1). Kematian massal ikan-ikan di laut, (2). Terjadinya kontaminasi sea food, (3). Problem kesehatan masyarakat (keracunan), dan (4) perubahan struktur komintas ekosistem.
Fenomena peningkatan populasi fitoplankton semata-mata adalah fenomena alami, dan tidak selalu menimbulkan efek yang berbahaya. Namun, bila yang terjadi adalah peningkatan populasi fitoplankton berbahaya, maka perlu diantisipasi kemungkinan terjadinya salah satu kombinasi dari keempat hal tersebut.
Keberadaan HABs secara umum sebenamya dapat diklasifikasikan dalam 2 kelompok penyebab, antara lain (I) organisme fitopI ankton yang dapat mengeluarkan zat racun spesifik sehingga mengakibatkan kematian ikan, meskipun densitas fitoplanktonnya rendah (kelompok deskriminatif), dan (2) organisme yang tidak mengeluarkan zat beracun, namun karena jumlahnya (densitas) yang sangat tinggi telah mengakibatkan terjadinya dampak negatif dan merusak, seperti penurunan kandungan oksigen terlarut karena proses pembusukan, penyumbatan insang oleh sel­ sel fitoplankton dan pengeluaran gas/uap yang mematikan (aerosol) (kelompok non­ diskriminatif). Masing-masing dari kelompok ini dapat mengakibatkan kematian ikan secara masal. Penyebab terjadinya proses HABs masih belum diketahui dengan pasti, namun merupakan kombinasi mekanisme biologi, fisika dan kimia yang terjadi di laut. Sekalipun HABs sering dikaitkan dengan proses eutrofikasi, namun tidak jarang HABs terjadi juga di daerah yang tidak berpenduduk. Selain aspek eutrofikasi, ada juga kemungkinan masuknya nutrien dari sungai, air, hujan, atau terbawa arus termasuk di dalamnya arus yang naik ke permukaan yang disebut juga dengan proses upwelling. terjadi juga di daerah yang tidak berpenduduk. Selain aspek eutrofikasi, ada juga kemungkinan masuknya nutrien dari sungai, air, hujan, atau terbawa arus termasuk di dalamnya arus yang naik ke permukaan yang disebut juga dengan proses upwelling.


TEMA : PABRIK PENISILIN
A.    Sejarah Penemuan Penicillin
Penemu penisilin adalah Alexander Fleming. Ia adalah seorang ilmuwan berkebangsaan Skotlandia yang lahir di kota Lochfield, Skotlandia pada 6 Agustus 1881. Fleming menyelesaikan sekolahnya di Louden Moor School, Darvel School, dan Akademi Kilmarnock sebelum akhirnya pindah untuk meneruskan kuliahnya di Politeknik. Selepas menyelesaikan studinya, Fleming sempat bekerja di perusahaan pelayaran. Namun ia tidak menyukai pekerjaan tersebut. Itulah sebabnya ketika ia memperoleh bagian harta warisan dari salah seorang saudaranya, ia memutuskan keluar dari pekerjaannya dan belajar kedokteran di Sekolah Kedokteran Rumah Sakit St. Mary di London. Setelah lulus, ia bekerja di tempat Almroth Wright yang sangat meyakini kemanjuran vaksinasi untuk mencegah penyakit. Namun, Fleming berpikir bahwa mungkin ada cara lain untuk menanggulangi infeksi.
Sewaktu Perang Dunia I berlangsung (1914-1918), Fleming terinspirasi oleh prajurit-prajurit yang terluka di medan perang. Imunisasi ternyata tidak mampu menghentikan infeksi bakteri yang menyerang bagian tubuh yang terluka. Fleming pun bertekad untuk menemukan sesuatu yang mampu menghancurkan serangan bakteri tersebut.
Pada tahun 1922, ia menemukan bahwa tubuh manusia sebenarnya mengandung sejumlah enzim dalam air mata dan lendir yang mampu membunuh dengan cepat bakteri-bakteri tertentu. Pada tahun 1928, terjadi peristiwa tak disengaja yang mengantarnya menemukan penisilin. Saat itu sebelum berlibur selama dua minggu, ia meninggalkan piring berisi bakteri Staphylococcus di bangku laboratoriumnya. Ketika itu, ia sedang membuktikan teori favoritnya bahwa lendir hidung memiliki efek antibakteri. Sewaktu ia kembali, sebuah lingkaran kering menyelubungi pertumbuhan jamur kuning kehijauan yang secara tak sengaja mengontaminasi piring itu. Tanpa diketahuinya, spora dari jenis Penicillium natatum telah mampir dari laboratorium mikologi yang berada satu lantai di bawah laboratorium Fleming.
Saat terjadi musim dingin, jamur dalam lingkaran tadi berkembang. Disaat suhu naik, bakteri Staphyloccocus telah tumbuh menutupi permukaan piring, kecuali daerah sekitar jamur. Dengan wawasan pribadi dan penalaran deduktif yang hebat, Fleming menyimpulkan bahwa jamur Penicilium notatum dapat melepaskan zat kimia yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri.
Penemuan ini mengubah jalan sejarah. Ramuan aktif pada jamur yang dinamai Penisilin itu, terbukti sebagai alat penghambat bakteri secara mujarab. Penemuan ini juga telah mengubah cara penanganan infeksi. Penemuan ini pula yang mengubah industri farmasi dengan skala besar membuat penisilin sintetis untuk menaklukkan momok paling tua manusia, termasuk sifilis, gangrene, dan TBC.
B.      Pengertian Fermentor
Fermentor adalah sebuah alat yang digunakan untuk memproduksi mikrobia untuk melakukan fermentasi. Produk-produk berbasis mikroba seperti biofertilizer, biokontrol, biopestisida, biodekomposer, ataupun produk biomassa mikroba memerlukan fermentor untuk memproduksinya. Fermentor untuk memproduksi mikroba ini tidak harus berteknologi tinggi. Fermentor dapat dibuat dengan peralatan sederhana, namun fungsional. Bahkan bisa dibuat sendiri dengan biaya yang terjangkau.
Fermentor terdiri dari beberapa bagian, yaitu:
·           Tabung fermentor, yaitu tabung untuk menempatkan media. Tabung ini bisa dibuat dari galon air mineral.
·           Penutup tabung, bisa dibuat dari penutup karet.
·           Pipa inlet. Pipa kaca kecil yang dihubungkan dengan pompa udara. Pipa kaca ini berukuran panjang hingga hampir menyentuh dasar tabung. Pipa ini terendam di dalam larutan media.
·           Pipa outlet. Pipa kaca kecil yang lebih pendek dari pipa inlet dan ujung bagian dalam berada di atas permukaan media. Ujung selang outlet direndam dalam larutan clorin/pemutih atau alcohol.
·           Selang karet. Selang untuk menhubungkan pipa-pipa kaca.
·           Millipore. Saringan udara berukuran 0.2 um untuk sterilisasi udara yang masuk ke dalam fermentor.
·           Pompa udara. Pompa udara untuk memberikan aerasi pada media kultur. Pompa udara bisa menggunakan pompa udara untuk aquarium.
·           Botol. Botol yang diberi air dan larutan pemutih (clorin).