TEMA
: PEMANASAN GLOBAL
PEMANASAN GLOBAL DAN EMISI KARBON
AKIBAT PEMBUKAAN HUTAN YANG TIDAK
BIJAK
1. Efek Rumah Kaca
Efek
rumah caca dapat divisualisasikan sebagai sebuah proses. Pada kenyataannya, di
lapisan atmosfer terdapat selimut gas. Rumah kaca adalah analogi atas bumi yang
dikelilingi gelas kaca. Panas matahari masuk ke bumi dengan menembus gelas kaca
tersebut berupa radiasi gelombang pendek. Sebagian diserap oleh bumi dan
sisanya dipantulkan kembali ke angkasa sebagai radiasi gelombang panjang.
Namun, panas yang seharusnya dapat dipantulkan kembali ke angkasa menyentuh
permukaan gelas kaca dan terperangkap di dalam bumi. Layaknya proses dalam
rumah kaca di pertanian dan perkebunan, gelas kaca memang berfungsi menahan
panas untuk menghangatkan rumah kaca. Masalah timbul ketika aktivitas manusia
menyebabkan peningkatan konsentrasi selimut gas di atmosfer (gas rumah kaca)
sehingga melebihi konsentrasi yang seharusnya. Maka, panas matahari yang tidak
dapat dipantulkan ke angkasa akan meningkat pula. Semua proses tersebut disebut
efek rumah kaca. Pemanasan global dan perubahan iklim merupakan dampak dari
efek rumah kaca.
Efek
rumah kaca terjadi alami karena memungkinkan kelangsungan hidup semua makhluk
di bumi. Tanpa adanya gas rumah kaca, seperti karbondioksida (CO2), metana
(CH4), atau dinitro oksida (N2O), suhu permukaan bumi akan 33 derajat celcius
lebih dingin. Sejak awal jaman industrialisasi, awal akhir abad ke-17,
konsentrasi gas rumah kaca meningkat drastis. Di perkirakan pada tahun 1880
temperatur rata-rata bumi meningkat 0.5 – 0.6 derajat celcius akibat emisi gas
rumah kaca yang dihasilkan dari aktivitas manusia.
Yang
termasuk dalam kelompok gas rumah kaca adalah karbondioksida (CO2), metana
(CH4), dinitro oksida (N2O), hidrofluorokarbon (HFC), perfluorokarbon (PFC),
sampai sulfur heksafluorida (SF6). Jenis GRK yang memberikan sumbangan paling
besar bagi emisi gas rumah kaca adalah karbondioksida, metana, dan dinitro
oksida. Sebagian besar dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi
dan batu bara) di sektor energi dan transport, penggundulan hutan, dan
pertanian. Sementara, untuk gas rumah kaca lainnya (HFC, PFC, SF6 hanya
menyumbang kurang dari 1%.
Sumber-sumber emisi
karbondioksida secara global dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil
(minyak bumi dan batu bara):
·
36% dari industri energi (pembangkit listrik/kilang minyak, dll)
·
27% dari sektor transportasi
·
21% dari sektor industri
·
15% dari sektor rumah tangga & jasa
·
1% dari sektor lain-lain.
2. Pemanasan Global
Pemanasan
global adalah meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi akibat peningkatan
jumlah emisi gas rumah kaca di atmosfer. Pemanasan global akan diikuti dengan
perubahan iklim, seperti meningkatnya curah hujan di beberapa belahan dunia
sehingga menimbulkan banjir dan erosi. Sedangkan, di belahan bumi lain akan
mengalami musim kering yang berkepanjangan disebabkan kenaikan suhu.
Pemanasan
global dan perubahan iklim terjadi akibat aktivitas manusia, terutama yang
berhubungan dengan penggunaan bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara)
serta kegiatan lain yang berhubungan dengan hutan, pertanian, dan peternakan.
Aktivitas manusia di kegiatan-kegiatan tersebut secara langsung maupun tidak
langsung menyebabkan perubahan komposisi alami atmosfer, yaitu peningkatan
jumlah gas rumah kaca secara global, salah satunya gas karbon.
Akan
tetapi sesungguhnya, gas karbon dioksida bukanlah suatu masalah. Gas karbon
dioksida adalah salah satu yang menunjang kehidupan di atas bumi. Tanpa gas
karbon dioksida didalam atmospir, bumi tidak bisa mendukung kehidupan sebab
temperatur bumi akan terlalu dingin dan semua air akan membeku. Gas karbon
dioksida adalah suatu peredam kuat sinar inframerah, gas karbon dioksida akan
menyerap panas yang dipancarkan bumi dan dipantulkan kembali. Ini adalah
sebagai efek rumah kaca. Proses tersebut merupakan suatu proses alami yang
sangat penting bagi terbentuknya kehidupan di bumi. Bagaimanapun, ketika ada
terlalu banyak gas karbon dioksida didalam atmospir, efek rumah kaca
diintensifkan, hal tersebut akan menyebabkan suatu masalah bagi lingkungan.
Sebelum masa revolusi industri, konsentrasi gas karbon dioksida didalam
atmospir adalah 280 ppm. Sejak tahun 1880, akibat dari peningkatan pembakaran
bahan bakar fosil sebagai suatu sumber energi, konsentrasi CO2 telah dengan
mantap bangkit sebanyak kira-kira 1,5 ppm/tahun sehingga kandungan gas karbon
dioksida dalam atmosfir pada saat ini mencapai 365 ppm.
Konsentrasi
gas karbon dioksida akan terus meningkat kecuali jika emisi/pancaran dari bahan
bakar fosil dibatasi atau dihentikan bersama-sama. Sedangkan emisi karbon
dioksida umumnya berasal dari minyak bumi, terutama dari gas alam, minyak bumi
dan batubara, dari tahun ke tahun sebagai penyumbang terbanyak emisi gas CO2
dimuka bumi ini.
Intergovernmental Panel
on Climate Change (IPCC) memperkirakan konsentrasi gas
karbon dioksida didalam atmosfir akan naik menjadi sekitar 540 - 940 ppm pada
tahun 2100. Kenaikan rata-rata konsentrasi gas CO2 akan mengakibatkan kenaikan
suhu rata-rata di bumi, hal tersebut mengakibatkan efek pemanasan global, yang
akan mempengaruhi perubahan iklim setempat di bumi, pada akhirnya tentu akan
mempengaruhi kehidupan di bumi.
Kenaikan
suhu bumi rata-rata secara global akan mempengaruhi cuaca dan iklim setempat di
bumi yang mengakibatkan kenaikan suhu ekstrim di wilayah tertentu, dampaknya
tentu terhadap kehidupan di wilayah tersebut.
Efek
rumah kaca adalah penyebab, sementara pemanasan global dan perubahan iklim
adalah akibat. Efek rumah kaca menyebabkan terjadinya akumulasi panas (atau
energi) di atmosfer bumi. Dengan adanya akumulasi yang berlebihan tersebut,
iklim global melakukan penyesuaian. Penyesuaian yang dimaksud salah satunya
peningkatan temperatur bumi, kemudian disebut pemanasan global dan berubahnya
iklim regional, pola curah hujan, penguapan, pembentukan awan disebut perubahan
iklim.
Adapun
dampak yang dapat ditimbulkan akibat perubahan iklim secara global adalah
sebagai berikut:
·
Musnahnya berbagai jenis keanekragaman
hayati
·
Meningkatnya frekuensi dan intensitas
hujan badai, angin topan, dan banjir
·
Mencairnya es dan glasier di kutub
·
Meningkatnya jumlah tanah kering yang
potensial menjadi gurun karena kekeringan yang berkepanjangan
·
Kenaikan permukaan laut hingga
menyebabkan banjir yang luas. Pada tahun 2100 diperkirakan permukaan air laut
naik hingga 15 - 95 cm.
·
Kenaikan suhu air laut menyebabkan
terjadinya coral bleaching dan kerusakan terumbu karang di seluruh dunia
·
Meningkatnya frekuensi kebakaran hutan
·
Menyebarnya penyakit-penyakit tropis,
seperti malaria, ke daerah-daerah baru karena bertambahnya populasi serangga
(nyamuk)
·
Daerah-daerah tertentu menjadi padat dan
sesak karena terjadi arus pengungsian.
Pada
tahun 1988, Badan PBB untuk lingkungan (United Nations Enviroment Programme)
dan organisasi meteorologi dunia (World Meteorology Organization) mendirikan
sebuah panel antar pemerintah untuk perubahan iklim (Intergovernmental Panel on
Climate Change/IPCC) yang terdiri atas 300 lebih pakar Perubahan Iklim dari
seluruh dunia. Pada tahun 1990 dan 1992, IPCC menyimpulkan bahwa penggandaan
jumlah gas rumah kaca di atmosfer mengarah pada konsekuensi serius bagi masalah
sosial, ekonomi, dan sistem alam di dunia. Selain itu, IPCC menyimpulkan bahwa
emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari aktivitas manusia juga memberikan
kontribusi pada gas rumah kaca alami dan akan menyebabkan atmosfer bertambah
panas. IPCC memperkirakan penggandaan emisi gas rumah kaca akan menyebabkan
pemanasan global sebesar 1,5 – 4,5 derajat celcius.
El
Nino adalah fenomena alami yang telah terjadi sejak berabad-abad yang lalu,
walaupun tidak selalu dengan pola yang sama. El Nino merupakan gelombang panas
di garis ekuator Samudera Pasifik. Kini, El Nino muncul setiap 2 – 7 tahun,
lebih kuat dan berkontribusi pada peningkatan temperatur bumi. Dampaknya dapat
dirasakan di seluruh dunia dan menunjukkan bahwa iklim di bumi benarbenar
berhubungan. Para ilmuwan menguji bagaimana pemanasan global yang diakibatkan
oleh aktivitas manusia dapat mempengaruhi El Nino: akumulasi gas rumah kaca di
atmosfer “membantu” menyuntikkan panas ke Samudera Pasifik. Oleh karena itu, El
Nino muncul lebih sering dan lebih ganas dari sebelumnya.
Masalah
lingkungan dan kesehatan manusia yang terkait dengan penipisan lapisan ozon
sesungguhnya berbeda dengan resiko yang dihadapi manusia dari akibat pemansan
global. Walaupun begitu, kedua fenomena tersebut saling berhubungan. Beberapa
polutan (zat pencemar) memberikan kontribusi yang sama terhadap penipisan
lapisan ozon dan pemansan global. Penipisan lapisan ozon mengakibatkan masuknya
lebih banyak radiasi sinar ultraviolet (UV) yang berbahaya masuk ke permukaan
bumi. Namun, meningkatnya radiasi sinar UV bukanlah penyebab terjadinya
pemansan global, melainkan kanker kulit, penyakit katarak, menurunnya kekebalan
tubuh manusia, dan menurunnya hasil panen. Penipisan lapisan ozon terutama
disebabkan oleh chlorofluorcarbon (CFC). Saat ini negara-negara industri sudah
tidak memproduksi dan menggunakan CFC lagi. Dan, dalam waktu dekat, CFC akan
benar-benar dihapus di seluruh dunia. Seperti halnya karbondioksida, CFC juga
merupakan Gas rumah kaca dan berpotensi terhadap pemansan global jauh lebih
tinggi dibanding karbondioksida sehingga dampak akumulasi CFC di atmosfer
mempercepat laju pemansan global. CFC akan tetap berada di atmosfer dalam waktu
sangat lama, berabad-abad. Artinya, kontribusi CFC terhadap penipisan lapisan
ozon dan perubahan iklim akan berlangsung dalam waktu sangat lama.
3. Pemanasan Global , Emisi Karbon
Dan Perubahan Iklim
Pemanasan
global terjadi ketika ada konsentrasi gas-gas tertentu yang dikenal dengan gas
rumah kaca, yg terus bertambah di udara, Hal tersebut disebabkan oleh tindakan
manusia, kegiatan industri, khususnya CO2 dan chlorofluorocarbon. Yang terutama
adalah karbon dioksida, yang umumnya dihasilkan oleh penggunaan batubara,
minyak bumi, gas dan penggundulan hutan serta pembakaran hutan. Asam nitrat
dihasilkan oleh kendaraan dan emisi industri, sedangkan emisi metan disebabkan
oleh aktivitas industri dan pertanian.
Chlorofluorocarbon
(CFC) merusak lapisan ozon seperti juga gas rumah kaca menyebabkan pemanasan
global, tetapi sekarang dihapus dalam Protokol Montreal. Karbon dioksida,
chlorofluorocarbon, metan, asam nitrat adalah gas-gas polutif yang terakumulasi
di udara dan menyaring banyak panas dari matahari. Sementara lautan dan
vegetasi menangkap banyak CO2, kemampuannya untuk menjadi “atap” sekarang
berlebihan akibat emisi. Ini berarti bahwa setiap tahun, jumlah akumulatif dari
gas rumah kaca yang berada di udara bertambah dan itu berarti mempercepat pemanasan
global.
Sepanjang
seratus tahun ini konsumsi energi dunia bertambah secara spektakuler. Sekitar
70% energi dipakai oleh negara-negara maju; dan 78% dari energi tersebut
berasal dari bahan bakar fosil. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan yang
mengakibatkan sejumlah wilayah terkuras habis dan yang lainnya mereguk
keuntungan. Sementara itu, jumlah dana untuk pemanfaatan energi yang tak dapat
habis (matahari, angin, biogas, air, khususnya hidro mini dan makro), yang
dapat mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, baik di negara maju maupun
miskin tetaplah rendah, dalam perbandingan dengan bantuan keuangan dan
investasi yang dialokasikan untuk bahan bakar fosil dan energi nuklir.
Penggundulan hutan yang mengurangi penyerapan karbon oleh pohon, menyebabkan emisi
karbon bertambah sebesar 20%, dan mengubah iklim mikro lokal dan siklus
hidrologis, sehingga mempengaruhi kesuburan tanah.
Pencegahan
perubahan iklim yang merusak membutuhkan tindakan nyata untuk menstabilkan
tingkat gas rumah kaca sekarang di udara sesegera mungkin; dengan mengurangi
emisi gas rumah kaca sebesar 50%, demikian Panel Inter Pemerintah. Jika tidak
melakukan apa-apa maka hal-hal berikut akan membawa dampak yang merusak.
Sejumlah
konsekuensi pun akan dapat kita rasakan akibat pemanasan global tersebut.
Adapun konsekuensinya adalah seperti berikut :
·
Kenaikan permukaan laut yang membawa
dampak luas bagi manusia; terutama bagi penduduk yang tinggal di dataran
rendah, di daerah pantai yang padat penduduk di banyak negara dan di
delta-delta sungai. Negara-negara miskin akan dilanda kekeringan dan banjir.
Salah satu perkiraan adalah bahwa sekitar tahun 2020 sekitar _ penduduk dunia
terancam bahaya kekeringan dan banjir. Negara-negara miskin akan menderita luar
biasa akibat perubahan iklim – sebagian karena letak geografisnya dan juga
karena kekurangan sumber alam untuk penyesuaian dengan perubahan dan melawan
dampaknya.
·
Manusia dan spesies lainnya di planet
sudah menderita akibat perubahan iklim. Proyeksi ilmiah menunjukkan adanya
peluasan dan peningkatan penderitaan, misalnya, tekanan panas, bertambahnya dan
berkembangnya serangga yang menyebabkan penyakit tropis baik di utara maupun
selatan katulistiwa. Juga adanya rawan pangan yang makin menignkat.
·
Biaya tahunan untuk menangkal pemanasan
global dapat mencapai 300 miliar dollar, 50 tahun ke depan jika tidak diambil
tidakan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Jika pemimpin politik kita dan
pembuat kebijaksanaan politik tidak bertindak cepat, dunia ekonomi akan
menderita kemunduran serius. Selama dekade lalu bencana alam telah mengeruk
dana sebesar 608 milliar dollar.
·
Wakil PBB untuk Program Lingkungan Hidup
mengemukakan pada Konvensi Kerangka Kerja PBB pada Konferensi Perubahan Iklim
ke-7 di Maroko November 2001 bahwa panen makanan pokok seperti gandum, beras
dan jagung dapat merosot sampai 30% seratus tahun mendatang akibat pemanasan
global. Mereka cemas bahwa para petani akan beralih tempat olahan ke pegunungan
yang lebih sejuk, menyebabkan terdesaknya hutan dan terancamnya kehidupan di
hutan dan terancamnya mutu serta jumlah suplai air. Penemuan baru ini
menunjukkan bahwa sebagian besar dari rakyat pedesaan di negara berkembang
sudah mengalami dan menderita kelaparan dan gizi buruk tersebut.
4. Hubungan Kebakaran Hutan, Emisi
Karbon, Pemanasan Global dan Perubahan Iklim
Di
saat kompleksitas ekosistem global sedikit demi sedikit dimengerti, interaksi
antara satu kejadian alam dengan yang lainnya menjadi lebih jelas. Hal ini
berlaku pada fenomena perubahan iklim global dengan penyebab sekaligus dampak
yang menyertainya di Indonesia, yaitu kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran
hutan dan lahan seakan sudah menjadi tradisi tahunan di Indonesia, terutama
setiap kali musim kemarau datang. Pada kejadian kebakaran berskala besar di
tahun 1997-98, diestimasi sekitar 10 juta hektar lahan yang rusak atau
terbakar, dengan kerugian untuk Indonesia terhitung 3 milyar dollar Amerika.
Kejadian ini sekaligus melepaskan emisi gas rumah kaca (GRK) sebanyak 0,81-2,57
Gigaton karbon ke atmosfer (setara dengan 13-40% total emisi karbon dunia yang
dihasilkan dari bahan baker fosil per tahunnya) yang berarti menambah
kontribusi terhadap perubahan iklim dan pemanasan global.
Dampak
penting dari kebakaran hutan dan lahan sangat dirasakan terutama oleh
masyarakat yang menggantungkan hidupnya kepada hutan, satwa liar (seperti
gajah, harimau, dan orang utan) yang kehilangan habitatnya, sektor transportasi
karena terganggunya jadwal penerbangan, dan juga masyarakat secara keseluruhan
yang terganggu kesehatannya karena terpapar polusi asap dari kebakaran.
Tercatat sekitar 70 juta orang di enam negara di ASEAN terganggu kesehatannya
karena menghirup asap dari kebakaran di Indonesia pada tahun 1997-1998. Seperti
terdapat dalam satu lingkaran, selain berkontribusi terhadap akumulasi GRK di
atmosfer dengan bertambahnya emisi karbon dunia, kebakaran hutan dan lahan juga
dipicu oleh meningkatnya pemanasan global itu sendiri – dengan penyebab utama
tetap merupakan akibat ulah manusia yang melakukan pembakaran dalam upaya
pembukaan hutan dan lahan untuk hutan tanaman industri/HTI, perkebunan,
pertanian, dll (lihat Gambar 1). Kemarau ekstrim, yang seringkali dikaitkan
dengan pengaruh iklim El NiƱo, memberikan kondisi ideal terjadinya kebakaran
hutan dan lahan.
Setiap
tahunnya dalam musim kemarau, hampir berturut-turut, kejadian kebakaran hutan
dan lahan berulang dengan berbagai tingkatan. Pada tahun 2002 dan 2005,
kebakaran hutan dan lahan terjadi kembali dengan skala yang cukup besar
terutama diakibatkan oleh konversi hutan di lahan gambut. Dari data yang
terkumpul terhitung sejak 1997-1998, rata-rata 80% kebakaran hutan dan lahan
terjadi di lahan gambut. Data yang dianalisis WWF-Indonesia menunjukkan bahwa
di Provinsi Kalimantan Tengah mayoritas kejadian kebakaran hutan dan lahan pada
tahun 2002-2003 terjadi di lahan gambut. Sedangkan, di Provinsi Riau dalam
periode tahun 2001-2006, sekitar 67% kebakaran terjadi di lahan gambut (CRISP,
2005).
Hutan
pada lahan gambut mempunyai peranan penting dalam penyimpanan karbon (30%
kapasitas penyimpanan karbon global dalam tanah) dan moderasi iklim sekaligus
memberikan manfaat keanekaragaman hayati, pengatur tata air, dan pendukung
kehidupan masyarakat. Indonesia memiliki 20 juta hektar lahan gambut yang
terutama terletak di Sumatera (Riau memiliki 4 juta hektar) dan Kalimantan.
Pondasi utama dari lahan gambut yang baik adalah air. Bila terjadi pembukaan
hutan gambut maka hal ini akan mempengaruhi unit hidrologinya. Dengan sifat
gambut yang seperti spons (menyerap air), maka pada saat pohon ditebang, akan
terjadi subsidensi sehingga tanah gambut yang sifatnya hidropobik tidak akan
dapat lagi menyerap air dan kemudian mengering. Dalam proses ini, terjadilah
pelepasan karbon dan sekaligus mengakibatkan lahan gambut rentan terhadap
kebakaran yang pada gilirannya dapat menyumbangkan pelepasan emisi karbon lebih
lanjut.
Menurut
data Kementerian Lingkungan Hidup, diperkirakan lahan gambut di Riau saja
menyimpan kandungan karbon sebesar 14.605 juta ton. Bila pembukaan lahan gambut
dibiarkan, apalagi diikuti dengan pembakaran hutan dan lahan, maka dapat
dibayangkan berapa banyak karbon yang terlepas ke atmosfer dan pemanasan global
ataupun perubahan iklim menjadi lebih cepat terjadi, sekaligus dampak ikutan
seperti asap dan lainnya akan terus dirasakan oleh masyarakat setiap tahunnya.
Untuk
itu, pihak pemerintah, swasta dan masyarakat luas bersama-sama harus dapat
mencegah kejadian kebakaran hutan dan lahan terutama:
·
Pembukaan lahan gambut harus dihentikan
dan semua lahan gambut harus dilindungi dan dikelola secara seksama dengan
memperhatikan tata hidrologi secara makro dan potensi lepasnya emisi karbon ke
atmosfer.
·
Sektor swasta harus menerapkan praktek
pengelolaan lestari dan bertanggung jawab, termasuk meniadakan pembakaran lahan
dan melindungi daerah-daerah yang memiliki keanekaragaman hayati di sekitar
konsesi mereka.
·
Harus ada mekanisme terpadu untuk
mengkoordinasi pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan, mensinergikan dan
menerapkan peraturan terutama terkait perlindungan lingkungan.
·
Masyarakat setempat harus diberdayakan
oleh pemerintah dan sektor swasta dalam pengelolaan lahan yang lestari,
terutama membantu petani/ pekebun skala kecil dalam proses transfer ilmu dan
teknologi untuk menerapkan pembukaan lahan tanpa bakar.
5. Peran Hutan Dalam Pengendalian
Pemanasan Global
Beberapa
tahun terakhir ini penjarahan hutan atau penebangan liar di kawasan hutan makin
marak terjadi dimana-mana seakan-akan tidak terkendali. Ancaman kerusakan hutan
ini jelas akan menimbulkan dampak negatif yang luar biasa besarnya karena
adanya efek domino dari hilangnya hutan, terutama pada kawasan-kawasan yang
mempunyai nilai fungsi ekologis dan biodiversitas besar. Badan Planologi
Departemen Kehutanan melalui citra satelit menunjukkan luas lahan yang masih
berhutan atau yang masih ditutupi pepohonan di Pulau Jawa tahun 1999/2000 hanya
tinggal empat persen saja. Kawasan ini sebagian besar merupakan wilayah
tangkapan air pada daerah aliran sungai (DAS). Akibat dari kejadian ini tidak
saja hilangnya suatu kawasan hutan yang tadinya dapat mendukung kehidupan
manusia dalam berbagai aspek misal kebutuhan akan air, oksigen, kenyamanan
(iklim mikro), keindahan (wisata), penghasilan (hasil hutan non kayu dan kayu),
penyerapan carbon (carbon sink), pangan dan obat-obatan akan tetapi juga hilanglah
biodiversity titipan generasi mendatang. Saat ini di dunia internasional telah
berkembang trend baru melalui perdagangan karbon (CO2).
Perdagangan
karbon diawali dengan disepakatinya Kyoto Protocol bahwa negara-negara
penghasil emisi karbon harus menurunkan tingkat emisinya dengan menerapkan
teknologi tinggi dan juga menyalurkan dana kepada negara-negara yang memiliki
potensi sumberdaya alam untuk mampu menyerap emisi karbon secara alami misalnya
melalui vegetasi (hutan). Indonesia dengan luas hutan tersebar ketiga di dunia,
bisa berperan penting untuk mengurangi emisi dunia melalui carbon sink. Hal ini
bisa terjadi jika hutan yang ada dijaga kelestariannya dan melakukan penanaman
(afforestasi) pada kawasan bukan hutan (degraded land). Serta melakukan perbaikan
kawasan hutan yang rusak (degraded forest) dengan cara penghutanan kembali
(reforestasi).
Hutan
Pinus di Indonesia sebagai salah satu hutan tanaman yang memiliki nilai ekonomi
strategis dan persebarannya yang cukup luas saat ini diandalkan sebagai
penghasil produk hasil hutan non kayu melalui produksi getahnya. Nilai ekonomi
hutan Pinus dianggap masih rendah apabila hanya dihitung dari nilai getah dan
kayunya saja, sudah saatnya dilakukan upaya penghitungan manfaat hutan sebagai
penyedia jasa lingkungan yang diharapkan mampu memberikan nilai ekonomi lebih
tinggi dengan mengetahui berbagai kemampuannya dalam menyediakan sumberdaya
air, penyerap karbon, penghasil oksigen, jasa wisata alam, satwa, biodiversitas
dan sebagainya.
Hutan
dengan penyebarannya yang luas, dengan struktur dan komposisinya yang beragam
diharapkan mampu menyediakan manfaat lingkungan yang amat besar bagi kehidupan
manusia antara lain jasa peredaman terhadap banjir, erosi dan sedimentasi serta
jasa pengendalian daur air. Peran hutan dalam pengendalian daur air dapat
dikelompokkan sebagai berikut :
1.
Sebagai pengurang atau pembuang cadangan air di bumi melalui proses :
a)
Evapotranspirasi
b)
Pemakaian air konsumtif untuk pembentukan jaringan tubuh vegetasi.
2.
Menambah titik-titik air di atmosfer.
3.
Sebagai penghalang untuk sampainya air di bumi melalui proses intersepsi.
4.
Sebagai pengurang atau peredam energi kinetik aliran air lewat :
a)
Tahanan permukaan dari bagian batang di permukaan
b)
Tahanan aliran air permukaan karena adanya seresah di permukaan.
5.
Sebagai pendorong ke arah perbaikan kemampuan watak fisik tanah untuk
memasukkan air lewat sistem perakaran, penambahan bahan organik ataupun adanya
kenaikan kegiatan biologik di dalam tanah.
Siklus
karbon di dalam biosfer meliputi dua bagian siklus penting, di darat dan di
laut. Keduanya dihubungkan oleh atmosfer yang berfungsi sebagai fase antara.
Siklus karbon global melibatkan transfer karbon dari berbagai reservoir. Jika
dibandingkan dengan sumber karbon yang tidak reaktif, biosfer mengandung karbon
yang lebih sedikit, namun demikian siklus yang terjadi sangat dinamik di alam
(Vlek, 1997).
Sejumlah
besar kalsium karbonat dalam lebih dari 10 juta tahun yang lalu telah terlarut
dan tercuci dari permukaan daratan. Sebaliknya, dalam jumlah yang sama telah
terpresipitasi dari air laut ke dalam lantai dasar laut. Waktu tinggal
(residence time) karbon di dalam atmosfer dalam pertukarannya dengan hidrosfer
berkisar antara 5 – 10 tahun, sedangkan dalam pertukarannya dengan sel tanaman
dan binatang sekitar 300 tahun. Hal ini berbeda dalam skala waktu dibandingkan
dengan residence time untuk karbon terlarut (ribuan tahun) dan karbon dalam
sedimen dan bahan bakar fosil (jutaan tahun) (Vlek, 1997 dalam Herman Widjaja,
2002). Dari hasil inventarisasi gas-gas rumah kaca di Indonesia dengan
menggunakan metoda IPCC 1996, diketahui bahwa pada tahun 1994 emisi total CO2
adalah 748,607 Gg (Giga gram), CH4 sebanyak 6,409 Gg, N2O sekitar 61 Gg, NOX
sebanyak 928 Gg dan CO sebanyak 11,966 Gg. Adapun penyerapan CO2 oleh hutan
kurang lebih sebanyak 364,726 Gg, dengan demikian untuk tahun 1994 tingkat
emisi CO2 di Indonesia sudah lebih tinggi dari tingkat penyerapannya. Indonesia
sudah menjadi net emitter, sekitar 383,881 Gg pada tahun 1994. Hasil
perhitungan sebelumnya, pada tahun 1990, Indonesia masih sebagai net sink atau
tingkat penyerapan lebih tinggi dari tingkat emisi. Berapapun kecilnya
Indonesia sudah memberikan kontribusi bagi meningkatnya konsentrasi gas-gas
rumah kaca secara global di atmosfer (Widjaja, 2002).
Banyak
pihak yang beranggapan bahwa melakukan mitigasi secara permanen melalui
penghematan pemanfaatan bahan bakar fosil, teknologi bersih, dan penggunaan
energi terbarukan, lebih penting daripada melalui carbon sink. Hal ini dikarenakan
hutan hanya menyimpan karbon untuk waktu yang terbatas (stock). Ketika terjadi
penebangan hutan, kebakaran atau perubahan tata guna lahan, karbon tersebut
akan dilepaskan kembali ke atmosfer (Rusmantoro, 2003).
Carbon sink
adalah istilah yang kerap digunakan di bidang perubahan iklim. Istilah ini
berkaitan dengan fungsi hutan sebagai penyerap (sink) dan penyimpan (reservoir)
karbon. Emisi karbon ini umumnya dihasilkan dari kegiatan pembakaran bahan
bakar fosil pada sektor industri, transportasi dan rumah tangga. Pada kawasan
hutan Pinus di DTA Rahtawu dengan umur tegakan 30 tahun mempunyai potensi
penyimpanan karbon sebesar 147,84 ton/ha dengan prosentase penyimpanan terbesar
pada bagian batang (73,46%), kemudian cabang (16,14%), kulit (6,99%), daun
(3,17%) dan bunga-buah (0,24%). Dari data diatas dapat diprediksi kemampuan
hutan pinus dalam menyimpan karbon melalui pendekatan kandungan C-organik dalam
biomas memiliki potensi penyimpanan mencapai 44% dari total biomasnya. Sehingga
DTA Rahtawu dengan luasan 101,79 ha memiliki potensi penyimpanan karbon dalam
tegakan sebesar 15.048,5 ton, penyimpanan karbon dalam seresah sebesar 510 ton
dan dalam tumbuhan bawah sebesar 91 ton karbon. (Suryatmojo, H., 2004)
TEMA : GULMA


1.
Pengertian
Gulma
Menurut
Sukman (2002) gulma merupakan tumbuhan yang tumbuh pada waktu, tempat, dan
kondisi yang tidak diinginkan manusia. Gulma yang tumbuh pada tempat tanaman
berasal dari biji gulma itu sendiri yang ada di tanah. Jenis-jenis gulma yang mengganggu
pertanaman tanaman perlu diketahui untuk menentukan cara pengendalian yang
sesuai. Selain jenis gulma, persaingan antara tanaman dan gulma perlu pula
dipahami, terutama dalam kaitan dengan waktu pengendalian yang tepat. Jenis
gulma tertentu juga perlu diperhatikan karena dapat mengeluarkan senyawa
allelopati yang meracuni tanaman (Monaco, 2002).
Gulma
adalah suatu tumbuhan lain yang tumbuh
pada lahan tanaman budidaya, tumbuhan yang tumbuh disekitar tanaman pokok
(tanaman yang sengaja ditanam) atau semua tumbuhan yang tumbuh pada tempat
(area) yang tidak diinginkan oleh sipenanam sehingga kehadirannya dapat
merugikan tanaman lain yang ada di dekat
atau disekitar tanaman pokok tersebut (Ashton, 1991). Pendapat para ahli gulma yang lain ada yang mengatakan bahwa gulma disebut juga sebagai tumbuhan
pengganggu atau tumbuhan yang belum
diketahui manfaatnya, tidak diinginkan dan menimbulkan kerugian.
2.
Klasifikasi
Gulma
Pengklasifikasian
gulma dapat digunakan untuk membantu manusia mengenal dan mengetahui jenis
gulma rumputan, daun lebar, dan tekian, melakukan analisis vegetasi gulma, dan
dapat melakukan aplikasi herbisida secara tepat. Seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya, berdasarkan morfologi dan botaninya, gulma dapat diklasifikasikan
menjadi:
a. Golongan rumput (grasses)
Gulma
golongan rumput termasuk dalam familia Gramineae/Poaceae dengan ciri batang
bulat atau agak pipih, kebanyakan berongga, daun-daun soliter pada buku-buku,
tersusun dalam dua deret, umumnya bertulang daun sejajar, terdiri atas dua
bagian yaitu pelepah daun dan helaian daun. Daun biasanya berbentuk garis
(linier), tepi daun rata, lidah-lidah daun sering kelihatan jelas pada batas
antara pelepah daun dan helaian daun. Dasar karangan bunga satuannya anak bulir
(spikelet) yang dapat bertangkai atau tidak (sessilis). Masing-masing anak
bulir tersusun atas satu atau lebih bunga kecil (floret), di mana tiap-tiap
bunga kecil biasanya dikelilingi oleh sepasang daun pelindung (bractea) yang
tidak sama besarnya, yang besar disebut lemna dan yang kecil disebut palea.
Buah disebut caryopsis atau grain. Gulma dalam kelompok ini berdaun sempit
seperti teki tetapi menghasilkan stolon. Stolon ini di dalam tanah berbentuk
jaringan rumit yang sulit diatasi secara mekanik. Contohnya yaitu:
1. Cynodon dactylon (L.) Pers. (kakawatan,
gigi rintingan, suket grinting).
2. Eleusine indica (L.) Gaena (rumput
kelulang, cerulang, jukut jampang).
3. Imperata cylindrica (L.) Beauv
(alang-alang, carulang, jukut jampang).
4. Echinochloa crus-galli (L.)
Cerv(jajagoan).
5. Echinochloa colanum (L.) Cerv (jajagoan
leutik).
6. Panicum repens L. (lulampuyangan,
jajahean).
b. Golongan teki (sedges)
Gulma
golongan teki termasuk dalam familia Cyperaceae. Batang umumnya berbentuk segitiga,
kadang-kadang jaga bulat dan biasanya tidak berongga. Daun tersusun dalam tiga
deretan tidak memiliki lidah-lidah daun (ligula). Ibu tangkai karangan bunga
tidak berbuku-buku. Bunga sering dalam bulir (spica) atau anak bulir, biasanya
dilindungi oleh suatu daun pelindung. Buahnya tidak membuka. Kelompok
teki-tekian memiliki daya tahan luar biasa terhadap pengendalian mekanis,
karena memiliki umbi batang di dalam tanah yang mampu bertahan berbulan-bulan.
Contohnya adalah:
1. Cyperus berviplius (jukut pendul).
2. Cyperus rotundus L (teki).
3. Cyperus difformia L (jukut papayungan).
4. Cyperus hal Pan L. (papayungan).
5. Cyperus iria L. (jekeng, lingih alit).
6. Cyperus kyllingia Endl .(jukut pendul
bodas, teki, tekibodot, teki pendul).
7. Fimbristylis littoralis geidlah
(F.Miliacea (L) Cahl (panon munding, tumbaran).
8. Scirpus grossius L.F (waligi, wlingen,
lingi. mensing).
c. Golongan berdaun lebar (broad leaves)
Gulma
berdaun lebar umumnya termasuk Dicotyledonea dan Pteridophyta daun lebar dengan
tulang daun berbentuk jala. Gulma ini biasanya tumbuh pada akhir masa budidaya.
Kompetisi terhadap tanaman utama berupa kompetisi cahaya. Contohnya yaitu:
1. Salvinia molesta D. S Mit het (kimbang,
kayambang janji, lukut cai, lukut)
2. Marsilea crenata presl(semangi,
samanggen).
3. Azolla pinnata R. Br (kaya apu dadak).
4. Limnocharis flava(L. Buch (genjer,
centong).
5. Ageratum conyzoides L. (bebadotan,
wedusan).
6. Borreria alata (Aubl. DC (kabumpang
lemah, goletrak, letah hayam, rumput setawar).
7. Stachyarpheta indica(L.) Vahl (jarong,
gajhan).
8. Amaranthus spinosus L (bayamduri,
bayemeri, senggang cucuk).
9. Synedrella nodiflora(L) Gaentn.
(babadotan lalakina. jotang, jotang kuda).
3. Perbanyakan Gulma
a. Secara generatif
1. Biji: Echinochloa colonum, Cyperus
compressus, Amaranthus spinosus
2. Spora: Marsilea quadrifolia, Dryopteris
aridus
b. Secara vegetatif
1.
Stolon: batang menjalar di permukaan
tanah, pada setiap buku/ruas dapat tumbuh tunas dan akar menjadi individu baru. Contoh: Cynodon
dactylon & Centrosema pubescens
2.
Rimpang: batang menjalar dalam tanah, pada setiap buku/ruas dapat tumbuh
tunas dan akar menjadi individu
baru. Contoh: Imperata cyllindrica, Scirpus grossus
3.
Stem Tuber/umbi batang: Pangkal batang membesar terdapat cadangan
makanan dan tunas. Contoh: Typhonium trillobatum.
4.
Root Tuber/umbi akar: pembesaran akar terdapat makanan cadangan dan
calon tunas. Contoh: Cyperus rotundus.
5.
Bulbus/Umbi lapis: Pelepah daun yang menebal dan berlapis-lapis, di
antara lapisan terdapat tunas. Contoh: Allium veneale
6.
Corm: Batang yang gemuk pendek berdaging dilapisi daun-daun yang
meredusir seperti sisik. Contoh: Ranunculus bulbosus
7.
Runner: Stolon yang internodianya sangat panjang pada ujungnya tumbuh
tunas. Contoh: Pistia stratiotes, Elephantopus scaber, dan Eichhornia
crassipes.
4. Penyebaran Gulma
a. Autochory:
1.
Letusan/ledakan buah: Euphorbia geniculata dan Impatien balsamina.
2.
Polong tua pecah: Calopogonium mucunoides, Crotalaria incana, C. retusa
(Leguminoceae)
b. Anemochory: Biji dilengkapi kabu-kabu atau
parasut: Imperata cyllindrica, Chromolaena odorata, Erectites valerianifolia,
Erigeron sumatrensis
c. Hydrochory:
1. Biji tipis dan ringan: Limnocharis flava
2. Fragmentasi batang: Salvinia molesta dan
Pistia stratiotes
d. Ornithochory: Daging buah manis dan
lekat: Loranthus pentapetales dan Ficus
benghalensis
e. Zoochory:
1.
Endozoochory: biji tidak bisa dicerna Ć Paspalum conjugatum, Hypericum
perforatum, dan Cynodon dactylon
2.
Extozoochory: biji ada alat pengait Ć Andropogon aciculatus, Tryumfetta laputa, dan Desmodium
heterophyllum
f. Anthropochory:
1.
Kesengajaan manusia: Lantana camara,
Eichhornia crassipes, Salvinia molesta, dan Mimosa invisa
2.
Biji ada alat pengait: Stachytarfetta indica
5. Pengendalian Gulma
Gulma
yang selalu tumbuh di sekitar pertanaman mengakibatkan penurunan laju
pertumbuhan serta hasil akhir. Adanya gulma tersebut membahayakan bagi
kelangsungan pertumbuhan dan menghalangi tercapainya sasaran produksi
pertanaman pada umumnya. Pengendalian gulma hendaknya dilaksanakan jika kita
telah memiliki pengetahuan tentang gulma itu. Dengan pengalaman pengetahuan
tersebut, pengendailan gulma dapat dibagi menjadi beberapa golongan, yaitu
dengan cara mekanik, kimiawi, biologis, preventif, kultur teknis, ekologis, dan
terpadu (Moenandir, 1988).
a. Pengendalian secara kimiawi
Pengendalian
gulma secara kimia dilakukan dengan penggunaan herbisida. Zat kimia untuk
mengendalikan gulma disebut herbisida. Herbisida berasal dari kata herba
(gulma) dan sida (membunuh). Dari kata tersebut dapat diartikan bahwa herbisida
adalah zat kimia yang dapat menekan pertumbuhan gulma dan bahkan dapat
mematikannya. Herbisida digunakan sebagai salah satu sarana pengendalian
tumbuhan “asing” ini.
Menurut
Purba (2009) cara kerja herbisida terbagi atas: herbisida kontak, herbisida
sistemik atau ditranslokasikan, dan sterilan tanah. Pemberian herbisida dapat
dibedakan menjadi: perlakuan merata (broadcast treatment dan blanket spray),
perlakuan jalur (band treatment), penyemprotan terarah (directed spray), dan
perlakuan setempat (spot treatment).
1. Herbisida Kontak
Herbisida
kontak adalah herbisida yang langsung mematikan jaringan-jaringan atau bagian
gulma yang terkena larutan herbisida ini, terutama bagian gulma yang berwarna
hijau. Herbisida jenis ini bereaksi sangat cepat dan efektif jika digunakan
untuk memberantas gulma yang masih hijau, serta gulma yang masih memiliki
sistem perakaran tidak meluas. Contoh-contoh herbisida kontak pada umumnya yang
digunakan adalah sebagai berikut: Gramoxone, Herbatop dan Paracol.
2. Herbisida Sistemik
Herbisida
sistemik adalah herbisida yang cara kerjanya ditranslokasikan ke seluruh tubuh
atau bagian jaringan gulma, mulai dari daun sampai keperakaran atau sebaliknya.
Cara kerja herbisida ini membutuhkan waktu 1-2 hari untuk membunuh tanaman
pengganggu tanaman budidaya (gulma) karena tidak langsung mematikan jaringan
tanaman yang terkena, namun bekerja dengan cara menganggu proses fisiologi
jaringan tersebut lalu dialirkan ke dalam jaringan tanaman gulma dan mematikan
jaringan sasarannya seperti daun, titik tumbuh, tunas sampai ke perakarannya.
Contoh-contoh herbisida sistemik pada umumnya yang digunakan adalah sebagai
berikut: Glifosat, Sulfosat, Polaris, Round up, Touch Down, dan lain-lain.
3. Sterilan tanah
Sterilan
Tanah merupakan zat yang berfungsi untuk mensterilkan tanah dari jasad renik
atau biji gulma.
b. Pengendalian secara mekanis
Pengendalian
mekanis merupakan usaha menekan pertumbuhan gulma dengan cara merusak bagian-bagian
sehingga gulma tersebut mati atau pertumbuhannya terhambat. Teknik pengendalian
ini hanya mengandalkan kekuatan fisik atau mekanik. Cara ini umumnya cukup baik
dilakukan pada berbagai jenis gulma setahun, tetapi pada kondisi tertentu juga
efektif bagi gulma-gulma tahunan (Sukman dan Yakup, 1991).
1. Manual
Cara
manual maksudnya adalah pencabutan dengan tangan atau disebut penyiangan dengan
tangan merupakan cara yang praktis, efesien, dan terutama murah jika diterapkan
pada suatu area yang tidak luas, seperti di halaman, dalam barisan dan guludan
di mana alat besar sulit untuk mencapainya dan di daerah yang cukup banyak
tenaga kerja.
2. Pengolahan Tanah
Pengolahan
tanah dengan menggunakan alat-alat seperti cangkul, garu, bajak, traktor dan
sebagainya pada umumnya juga berfungsi untuk memberantas gulma.
3. Pembabatan (Pemangkasan)
Pembabatan
umumnya hanya efektif untuk mematikan gulma setahun dan relatif kurang efektif
untuk gulma tahunan. Efektivitas cara ini tergantung pada waktu pemangkasan,
interval (ulangan) dan sebagainya.
4. Penggenangan
Penggenangan
efektif untuk memberantas gulma tahunan. Caranya dengan menggenangi sedalam 15
cm - 25 cm selama 3 minggu hingga 8 minggu. Gulma yang digenangi harus cukup
terendam, karena bila sebagian daunnya muncul di atas air maka gulma tersebut
umumnya masih dapat hidup.
5. Pembakaran
Suhu
kritis yang menyebabkan kematian pada kebanyakan sel adalah 450C-550C, tetapi
biji-biji yang kering lebih tahan daripada tumbuhannya yang hidup. Kematian
dari sel-sel yang hidup pada suhu di atas disebabkan oleh koagulasi pada proto
plasmanya.
6. Mulsa (Penutup Seresah)
Penggunaan
mulsa dimaksudkan untuk mencegah cahaya mata hari sampai ke gulma, sehingga
gulma tidak dapat melakukan fotosintesis, akhirnya akan mati dan pertumbuhan
yang baru (perkecambahan) dapat dicegah. Bahan-bahan yang dapat digunakan untuk
mulsa antara lain jerami, pupuk hijau, sekam, serbuk gergaji, kertas, dan
plastik.
c. Preventif (Pencegahan)
Pengendalian
gulma secara preventif dapat dilakukan melalui mencegah invasi gulma mencegah
menetapnya gulma, dan/atau mencegah menyebarnya suatu species gulma ke suatu
daerah yang sebelumnya tidak perbah ditumbuhi gulma tersebut.
·
Tindakan preventif :
Ć Menanam
benih bebas dari biji gulma
Ć Menggunakan
pupuk kandang yang bebas gulma
Ć Menggunakan
alat panen yang bersih dan bebas gulma
Ć Memberantas
gulma yang tumbuh dan menyebar di sekitar daerah irigasi dan areal tanam.
·
Semua tindakan diatas akan lebih efektif
bila diikuti oleh:
Ć Program
pendidikan
Ć Penelitian
Ć Regulasi
dan/atau karantina
d. Pengendalian gulma secara terpadu
Yang
dimaksud dengan pengendalian gulma secara terpadu yaitu pengendalian gulma
dengan menggunakan beberapa cara secara bersamaan dengan tujuan untuk mendapatkan
hasil yang sebaik-baiknya.
Walaupun
telah dikenal beberapa cara pengendalian gulma antara lain secara budidaya,
fisik, biologis dan kimiawi serta preventif, tetapi tidak satupun cara-cara
tersebut dapat mengendalikan gulma secara tuntas. Untuk dapat mengendalikan
suatu species gulma yang menimbulkan masalah ternyata dibutuhkan lebih dari
satu cara pengendalian. Cara-cara yang dikombinasikan dalam cara pengendalian
secara terpadu ini tergantung pada situasi, kondisi dan tujuan masing-masing,
tetapi umumnya diarahkan agar mendapatkan interaksi yang positif, misalnya
paduan antara pengolahan tanah dengan pemakaian herbisida, jarak tanam dengan
penyiangan, pemupukan dengan herbisida dan sebagainya, di samping cara-cara
pengelolaan pertanaman yang lain.
e. Pengendalian gulma secara biologis/
hayati.
Pengendalian
dengan cara hayati ini merpkn suatu cara pengendalian gulma dengan
mempergunakanorganisme hidup, yang berupa tumbuhan,serangga/binatang, ikan,
dll.
f. Pengendalian gulma secara kultur teknis.
Pengendalian
gulma secara kultur teknis merupakan tindakan yang didasarkan pada segiekologis
tanaman dan gulma. Tujuannya adalah membuat lingkungan yang menguntungkan
bagipertumbuhan tanaman sehingga tanaman dapat bersaing dengan gulma, di lain pihak
tindakanyang diterapkan tersebut dapat mengurangi atau menekan pertumbuhan
gulma menjadiseminimum mungkin. Pengendalian secara kultur teknis merupakan
cara yang efektif dan efisiendi negara sedang berkembang yang belum menggunakan
herbisida secara meluas karena harga herbisida relatif mahal.
TEMA :KEPUNAHAN HEWAN
Secara
garis besar, ada dua opini utama tentang penyebab kepunahan hewan di muka bumi.
Yang pertama yaitu karena adanya perubahan iklim, sedangkan yang kedua karena ulah
manusia (overkill-perburuan yang tidak terkendali). Pendukung teori perubahan
iklim percaya bahwa kepunahan adalah akibat dari perubahan iklim yang
dramatis—terkait dengan zaman es yang terakhir. Namun, pendukung teori overkill
berargumen bahwa manusialah penyebab kepunahan hewan di muka bumi.
Pendukung
teori overkill, Prof. Paul Martin, mengemukakan hipotesis Blitzkrieg yang
menyatakan bahwa kepunahan terjadi nyaris bersamaan dengan kedatangan manusia
di wilayah tersebut. Alasannya adalah bahwa hewan besar dan burung yang tidak
dapat terbang merupakan target perburuan yang mudah karena tidak menganggap
manusia sebagai predator mereka.
Selain
dua teori tersebut, ada teori ketiga yang muncul belakangan, yaitu teori yang
menggabungkan keduanya. Teori penengah ini percaya bahwa bersamaan dengan saat
manusia mulai memburu hewan, iklim di bumi mulai berubah sedemikian rupa
sehingga hewan-hewan tidak bisa bertahan. Akan tetapi teori ini memiliki celah
yang diperdebatkan karena ada yang menganggap bahwa teori ini tidak jauh beda
dengan teori kepunahan yang disebabkan oleh manusia.
Terlepas
dari adanya teori penengah tersebut, hipotesis bahwa iklimlah penyebab
kepunahan masih merupakan topik debat yang tidak kunjung usai. Hipotesis ini
tergantung pada asumsi bahwa perubahan di zaman es terjadi sangat cepat yang
membuat air di muka bumi berubah menjadi es secara simultan. Hal inilah yang
menyebabkan banyak area mengalami kekeringan. Selain itu, temperatur pun
menurun drastis dan cenderung kering. Dengan minimnya air dan suhu yang sangat
rendah, tidak banyak vegetasi yang sanggup bertahan. Kekeringan pulalah yang
menyebabkan hewan besar—yang diasumsikan memerlukan asupan air yang sangat
banyak—tidak bisa bertahan. Selain itu, perubahan iklim yang sangat cepat memungkinkan
hewan tidak sempat beradaptasi, begitu pula tanaman.
Akan
tetapi, asumsi-asumsi tersebut dinilai memiliki banyak kelemahan. Pertama, 16
dari 17 zaman es di muka bumi terjadi tanpa kepunahan massal, jadi zaman es
yang ke-17 pun memiliki kemungkinan yang sama dengan 16 zaman es sebelumnya.
Kedua, waktu kepunahan hewan tersebut meleset dari zaman es dan tidak terjadi
secara bersamaan. Puncak zaman es terjadi sekitar 25.000-15.000 tahun yang
lalu, tetapi ada kepunahan yang terjadi sejak 35.000 tahun yang lalu bahkan
terjadi “baru” pada abad ke-12 sampai abad ke-16 Masehi. Ketiga, ada spesies
yang secara teori seharusnya tidak terpengaruh ternyata punah, dan spesies yang
seharusnya punah ternyata bertahan. Dengan adanya tiga lubang besar tersebut,
Tim Flanery berusaha membuktikan bahwa hipotesis kedualah, kepunahan karena
ulah manusia, yang lebih masuk akal.
Pada
dasarnya, hipotesis bahwa punahnya hewan disebabkan oleh manusia mendapat
sandungan yaitu asumsi bahwa perilaku hewan liar saat ini sama persis dengan
perilaku hewan liar zaman dulu. Akan tetapi, asumsi ini dapat dipatahkan dengan
fakta-fakta yang menunjukkan bahwa perilaku hewan liar zaman dulu sangat
berbeda dengan hewan liar saat ini.
Pertama,
catatan Charles Darwin tentang hewan-hewan di Pulau Galapagos—yang pada saat
itu belum dirambah manusia—menunjukkan adanya dua kura-kura Galapagos yang
tidak takut dengan dirinya. Kedua, Cowley menyatakan bahwa merpati di Galapagos
berani hinggap di lengan atau topi pengunjung. Ketiga, di Pulau Kangaroo dan Pulau
King tahun 1801-1803, FranƧois PƩron menyatakan bahwa saat itu wombat berani
dekat dengan manusia, padahal saat ini wombat dikenal sebagai binatang pemalu
yang saat didekati pun akan kabur. Contoh lain yang disebutkan FranƧois PƩron
adalah gajah laut yang sangat mudah didekati bahkan dibunuh. Keempat, Matthew
Flinders menulis bahwa kangguru di Pulau Kangaroo sangat jinak bahkan dapat
dibunuh hanya dengan menggunakan tongkat.
Mudahnya
hewan liar didekati terjadi karena secara fisik manusia tidak menunjukkan
ciri-ciri ataupun perilaku predator sehingga hewan-hewan tersebut tidak merasa
takut atau terancam. Bahkan, proses inisiasi “manusia adalah predator” pada
spesies tersebut mungkin sangat sulit terjadi, khususnya di Australia,
mengingat predator di Australia rata-rata reptil yang jelas-jelas sangat
berbeda dari manusia. Selain itu, tidak diketahui berapa lama waktu yang
diperlukan bagi suatu spesies untuk belajar menghindari manusia. Oleh karena
itu, hewan liar zaman dulu lebih mudah dekat dengan manusia sehingga lebih
mudah diburu.
Selain
bukti tertulis tersebut, juga ada bukti arkeologis yaitu situs “dapur” bangsa
Maori yang dipenuhi sisa-sisa moa. Situs semacam ini sangat banyak ditemukan,
diantaranya adalah situs Kaupokonui.
Di
situs yang terdapat di gurun pasir Kaupokonui, Distrik Taranaki, ditemukan
sisa-sisa paling tidak 3 spesies moa dan 55 spesies burung. Sementara di satu
situs dekat Wairau Bar, diperkirakan sekitar 9.000 moa terbunuh dan sekitar
2.400 butir telur diperkirakan dikonsumsi. Angka tersebut belum seberapa jika
dibandingkan dengan situs Waitaki Mouth di Distrik Otago. Di situs ini moa yang
terbunuh diperkirakan antara 30.000-90.000 ekor.
Dari
situs-situs tersebut dapat diperkirakan bahwa banyaknya daging moa yang
terbuang percuma—mencapai sepertiganya—menunjukkan bahwa moa mudah diburu,
karena jika sulit diburu maka pasti akan dimanfaatkan sebaik mungkin. Selain
itu, semakin banyak jumlah moa yang terbunuh di suatu situs menunjukkan bahwa
tempat itu tadinya dihuni banyak orang, yang diperkirakan menyusut seiring
dengan punahnya moa. Moa punah sekitar 300-400 tahun sejak kedatangan bangsa
Maori. Katakanlah bangsa Maori yang pertama datang hanya beberapa ratus orang.
Dengan pertumbuhan konstan 1% per tahun misalnya, maka dalam waktu 400 tahun
akan berkembang menjadi puluhan ribu, dan hal ini sebanding dengan tahun
punahnya moa.
Fakta-fakta
tersebut semuanya mengacu pada kepunahan hewan besar (megafauna). Tetapi,
selain kepunahan megafauna, kepunahan mamalia berukuran sedang di Australia yang
terjadi sekitar 30-40 tahun belakangan ini juga menarik perhatian. Ada asumsi
bahwa hewan tersebut punah karena keberadaan predator alami (rubah, kucing)
atau kalah bersaing dengan herbivora lain (kelinci), yang dua-duanya dibawa
oleh bangsa Eropa. Akan tetapi, spesies yang punah hanya yang berbobot antara
50 gram sampai 5 kilogram dan berhabitat di daerah kering, itu pun setengahnya
adalah spesies pengerat yang dikenal mudah beradaptasi. Selain itu, kepunahan
tidak berpengaruh terhadap hewan yang berukuran sama di daerah hutan atau
basah, mamalia yang lebih besar atau kecil di daerah kering, serta burung,
reptil, dan katak.
Baru-baru
ini, berdasar riset Dr. Ken Johnson dan Dave Gibson, diketahui bahwa kepunahan
tersebut terjadi sekitar tahun 1960an, mengikuti kepergian suku Aborigin dari
daerah tersebut. Mereka menyebutkan bahwa pertanian dengan sistem patch burning
(pembakaran sebagian) yang dilakukan oleh bangsa Aboriginlah yang menjaga
keberadaan spesies mamalia berukuran sedang tersebut.
Sistem
patch burning hanya membakar sebagian kecil dari suatu wilayah. Hal ini memberi
keuntungan bagi mamalia ukuran sedang. Area yang tidak dibakar bisa menjadi
tempat berlindung, dan tempat yang dibakar kaya akan makanan. Diperkirakan
sistem ini muncul untuk mencegah kebakaran alami yang biasanya bersifat luas
dan periodik. Ada asumsi bahwa mungkin dulu pernah terjadi kebakaran liar yang
memunahkan spesies yang ada dan berpengaruh pada suku Aborigin yang bergantung
pada spesies tersebut. Saat suku tersebut pergi, kebakaran alami bisa terjadi
dengan mudah, terutama di daerah kering karena tidak ada penghalang api yang
menjalar. Tetapi, masalah justru terjadi pasca-kebakaran. Mamalia mencari makan
di daerah bekas terbakar yang terbuka, dan hal ini menarik perhatian predator.
Dengan adanya area yang tidak terbakar, predator mudah untuk bersembunyi.
Dari
uraian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa Flanery mendukung pendapat
bahwa kepunahan terjadi akibat ulah manusia. Data yang disajikan pun dapat
mengungkapkan alasan kepunahan yang tidak terjadi secara bersamaan, yaitu
karena kedatangan manusia tidak terjadi secara serentak. Namun, di sisi lain,
ada juga upaya Aborigin untuk melindungi spesies tertentu walau itu demi
keuntungan mereka, dan justru dengan kepergian merekalah kepunahan terjadi.
FOSIL
Pengertian
fosil adalah sisa-sisa tumbuhan, hewan, dan bekas kerangka manusia yang sudah
membatu. Fosil sangat berfungsi bagi sejarah peradaban manusia dan seluruh
kehidupan dibumi ini, karna dengan kita mendapatkan atau menemukan fosil-fosil
hewan, tumbuhan dan kerangka manusia membuat kita mengetahui asal usul
kehidupan dibumi ini, dan proses terbentuknya bumi ini. Fosil juga berfungsi
memperkirakan kehidupan manusia purba tersebut, fosil memberi petunjuk tentang
keadaan dan kehidupan manusia purba sering disebut dengan fosil pandu atau
leitfosil. Di Indonesia banyak ditemukan fosil-fosil kerangka manusia purba,
dimana kepulauan indonesia banyak dikunjungi oleh para ahli untuk menyelidiki
keadaan manusia purba. beberapa ahli yang meneliti fosil-fosil manusia purba
seperti, Von, Rietschoten, Eugene Dubois, Cokrohandoyo, Ter haar dan
Oppennorth, dari penemuan-penemuan dari para ahli tersebut telah menjadi
sejarah bagi peradaban manusia sampai sekarang ini, dan banyak pula penemuan-penemuan
tentang jenis-jenis manusia purba, dan berkat penemuan-penemuan yang menemukan
tentang hewan-hewan purba yang membuat sejarah peradaban hewan dibumi.
TEMA : KEBAKARAN HUTAN
Prinsip Dasar Kebakaran Hutan Dan
Lahan
Faktor-faktor
terjadinya suatu kebakaran hutan dan lahan adalah karena adanya unsur panas,
bahan bakar dan udara/oksigen. Ketiga unsur ini dapat digambarkan dalam bentuk
segitiga api. Pada prinsipnya, pengendalian kebakaran hutan dan lahan adalah
menghilangkan salah satu atau lebih dari unsur tersebut.
Penyebaran
api bergantung kepada bahan bakar dan cuaca. Bahan bakar berat seperti log,
tonggak dan cabang-cabang kayu dalam keadaan kering bisa terbakar, meski lambat
tetapi menghasilkan panas yang tinggi. Bahan bakar ringan seperti rumput dan
resam kering, daun-daun pinus dan serasah, mudah terbakar dan cepat menyebar,
yang selanjutnya dapat menyebabkan kebakaran hutan/lahan yang besar.
Unsur-unsur
cuaca yang penting dalam kebakaran hutan dan lahan adalah angin, kelembaban dan
suhu. Angin yang bertiup kencang meningkatkan pasokan udara sehingga
mempercepat penyebaran api. Pada kasus kebakaran besar, angin bersifat
simultan. Semakin besar kebakaran, tiupan angin semakin kencang akibat
perpindahan massa udara padat di sekitar kebakaran ke ruang udara renggang di
tempat kebakaran.
Kadar
air/kelembaban bahan bakar juga penting untuk dipertimbangkan dalam
pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Pada keadaan normal, api menyala
perlahan pada malam hari karena kelembaban udara diserap oleh bahan bakar.
Udara yang lebih kering pada siang hari dapat menyebabkan kebakaran yang cepat.
Oleh sebab itu, secara teknis pada malam hari akan lebih mudah mengendalikan
kebakaran hutan/lahan daripada siang hari. Namun demikian tidak lantas berarti,
bahwa pengendalian kebakaran secara serius tidak dilakukan pada siang hari.
Kenyataannya karena berbagai pertimbangan, kebakaran lebih banyak ditanggulangi
pada siang hari. Suhu udara juga mempengaruhi para pemadam kebakaran, dalam
keadaan udara yang panas, daya tahan dan kemampuan kerja pemadam kebakaran
menurun.
Dampak Kebakaran Hutan Dan Lahan
Dampak Terhadap Bio-Fisik
Dampak
buruk dari kebakaran hutan dan lahan sangat banyak. Kerusakan dapat berkisar
dari gangguan luka-luka bakar pada pangkal batang pohon/tanaman sampai dengan
hancurnya pepohonan/tanaman secara keseluruhan berikut vegetasi lainnya. Dengan
hancurnya vegetasi, yang paling dikhawatirkan adalah hilangnya plasma nutfah
(sumber daya genetik pembawa sifat keturunan) seiring dengan hancurnya vegetasi
tersebut. Selain itu kebakaran dapat melemahkan daya tahan tegakan terhadap
serangan hama dan penyakit. Batang pohon yang menderita luka bakar meskipun
tidak mati, seringkali pada akhirnya terkena serangan penyakit/pembusukan atau
menjadi merana.
Kebakaran
hutan juga dapat mengurangi kepadatan tegakan dan merusak hijauan yang
bermanfaat bagi hewan serta mengganggu habitat satwa liar. Rusaknya suatu
generasi tegakan hutan oleh kebakaran, berarti hilangnya pengorbanan dan waktu
yang diperlukan untuk mencapai taraf pembentukan tegakan tersebut.
Kebakaran
hutan dan lahan dapat merusak sifat fisik tanah akibat hilangnya humus dan
bahan-bahan organik tanah, dan pada gilirannya tanah menjadi terbuka terhadap
pengaruh panas matahari dan aliran air permukaan. Tanah menjadi mudah tererosi,
perkolasi dan tingkat air tanah menurun. Kebakaran yang berulang-ulang di
kawasan yang sama dapat menghabiskan lapisan serasah dan mematikan
mikroorganisme/jasad renik yang sangat berguna bagi kesuburan tanah.
Dampak
lainnya dari kebakaran hutan adalah rusaknya permukaan tanah dan meningkatnya
erosi. Kawasan yang terbakar di lereng-lereng di daerah hulu DAS cenderung
menurunkan kapasitas penyimpanan air di daerah-daerah di bawahnya. Dari hasil
pengamatan menunjukkan bahwa penurunan mutu kawasan karena kebakaran yang
berulang-ulang menyebabkan erosi tanah dan banjir, yang menimbulkan dampak
lanjutan berupa pendangkalan terhadap saluran air, sungai, danau dan bendungan.
Dampak Terhadap Sosial Ekonomi
Perubahan
bio-fisik terhadap sumber daya alam dan lingkungan akibat kebakaran hutan dan
lahan, mengakibatkan penurunan daya dukung dan produktivitas hutan dan lahan.
Pada keadaan serupa ini akan menurunkan pendapatan masyarakat dan negara dari
sektor kehutanan, pertanian, perindustrian, perdagangan, jasa wisata dan
lainnya yang terkait dengan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungannya.
Dampak Terhadap Lingkungan
Di
samping dapat menimbulkan kerugian material, kebakaran hutan dan lahan juga
menimbulkan akumulasi asap yang besar. Kebakaran hutan dan lahan pada tahun
1994 dan tahun 1997 telah menarik perhatian dunia, karena adanya suatu kondisi
cuaca tertentu yaitu asap dari kebakaran hutan dan lahan terperangkap di bawah
suatu lapisan udara dingin atmosfir di atas wilayah Indonesia dan negara
tetangga, menyebabkan penurunan visibilitas (daya tembus pandang) sehingga
mengganggu kelancaran transportasi darat, laut dan udara.
Sumber Api Kebakaran Hutan Dan
Lahan
Kejadian
kebakaran hutan dan lahan di Indonesia meningkat selama dekade terakhir ini.
Sebagian besar kebakaran tersebut disebabkan oleh kelalaian manusia. Di samping
itu, meningkatnya masalah kebakaran hutan juga akibat adanya kondisi sangat
kering yang secara periodik terjadi oleh pengaruh perubahan iklim global/makro
yang melanda beberapa daerah di Indonesia.
Kebakaran
hutan bisa terjadi karena ketidaksengajaan maupun karena kesengajaan. Beberapa
di antara penyebab dari ketidaksengajaan adalah kelengahan dari para perokok,
wisatawan, petualang, pekerja di hutan dan para pengumpul hasil hutan. Dalam
banyak kasus, kebakaran hutan berawal dari kesengajaan menggunakan api oleh
pembangunan HTI, pembangunan perkebunan, perambah hutan dan peladang yang
mempersiapkan lahannya, pengembala/pemburu yang ingin merangsang pertumbuhan
rerumputan, pemburu yang menggiring satwa buruan, pengumpul madu yang mengusir
lebah dari sarangnya, dan sebagainya.
Kegiatan
budidaya dan faktor lainnya yang dapat menjadi sumber api kebakaran hutan dan
lahan adalah sebagai berikut:
Pertanian
Sebagian
besar kebakaran hutan dan lahan berasal dari kegiatan pembakaran pada sistem
pengolahan lahan di pedesaan. Pembukaan kawasan hutan untuk membuka suatu areal
baru bagi tanaman pangan sudah lama berlangsung. Setelah 2 atau 3 tahun
ditanami tanaman pangan, lahan tersebut biasanya menjadi miskin hara dan
ditinggalkan. Selanjutnya pembukaan kawasan hutan yang lainnya terjadi lagi
untuk maksud yang sama. Demikian terus-menerus, bahkan meningkat sejalan dengan
meningkatnya jumlah penduduk. Pembakaran juga dilakukan pada lahan pertanian
menetap untuk menghilangkan sisa-sisa panenan, serta pada lahan calon
perkebunan dalam kegiatan persiapan lahan tanam. Karena kebakaran biasanya
dilakukan pada musim kemarau dan tidak atau kurang diawasi, maka api dengan
mudah merambat kekawasan hutan/lahan di sekitarnya dan menyebabkan kebakaran
hutan/lahan yang merugikan secara ekonomis dan ekologis.
Pembuatan
Tanaman Hutan
Dalam
kegiatan penanaman hutan terutama dengan sistem tebang habis permudaan buatan
atau bahkan kegiatan reboisasi, api digunakan untuk pembersihan pada persiapan
lahan tanam. Seringkali karena keteledoran, api merambat ke kawasan hutan dan
lahan di sekitarnya dan menyebabkan kebakaran hutan.
Pembalakan/logging
Kebakaran
hutan akibat pembalakan/logging biasanya diakibatkan oleh kelalaian dari para
pembalak pada musim kering. Sebagai contoh percikan api dari saluran gas
buangan/knalpot chain saw jatuh mengenai bahan kering menimbulkan bara,
selanjutnya menjadi nyala api yang merembet pada bahan-bahan lain di lantai
hutan.
Api
Batubara
Kebakaran
batubara merupakan suatu masalah unik seperti yang terjadi di Kalimantan Timur.
Lapisan batubara yang terbakar akibat kebakaran hebat pada tahun 1993 masih
membara di bawah tanah. Pada musim penghujan keadaan ini hampir tidak ada
masalah, karena bara tersembunyi di bawah permukaan tanah. Tetapi pada musim
kemarau kadar air tanah turun menyebabkan tanah kering dan retak-retak merekah.
Demikian pula karena kebakaran lapisan batubara terus berlangsung menyebabkan
longsoran-longsoran pada bibir lubang/sumur api. Akibat rekahan dan longsoran
ini api batubara menyentuh bahan bakar dari vegetasi yang telah kering
(terlebih dahulu mati akibat panas api batubara) selanjutnya merembet ke segala
jurusan di lantai hutan.
Saat
ini masih terdapat banyak titik-titik api batubara yang membara dan sangat
potensial sebagai penyebab kebakaran hutan di Kalimantan Timur. Keadaan serupa
itu dapat pula terjadi di tempat-tempat lain yang mempunyai lapisan batubara
dangkal di bawah permukaan tanah.
Kejadian
Alam
Sumber
api kebakaran hutan dan lahan yang berasal dari kejadian alam, walaupun jarang
terjadi tetapi kemungkinan tetap ada yaitu dari halilintar/petir. Karena
terjadinya pada musim penghujan, biasanya hanya berakibat kecil dan kurang
berarti. Tetapi apabila petir menyambar pohon dengan tajuk yang mudah terbakar
dalam keadaan basah (pinus), hal ini akan menimbulkan kebakaran tajuk yang
hebat pada hutan pinus.
TEMA : SUSU
Susu
didefinisikan sebagai sekresi normal kelenjar mamari/ambing mamalia, atau
cairan yang diperoleh dari pemerahan ambing sapi sehat tanpa dikurangi atau
ditambah sesuatu (Soeparno, 1992; Syarief dan Irawati, 1988). Susu adalah hasil
ekskresi kelenjar susu binatang menyusui, yang dipandang dari segi gizi merupakan
bahan makanan yang hampir sempurna (Buckel et al., 1987). Definisi susu menurut
Hadiwiyoto (1983) adalah hasil pemerahan sapi atau hewan menyusui lainnya yang
dapat dimakan atau dapat digunakan sebagai bahan makanan yang aman dan sehat
serta tidak dikurangi komponen-komponennya atau ditambahkan bahan-bahan lain.
Komponen-komponen
Susu
Komponen
susu selain air merupakan total solid (TS) dan total solid tanpa komponen lemak
atau solid non fat (SNF). Total Solid (TS) yang terkandung dalam susu rata-rata
13% dan solid non fat (SNF) rata-rata 9,5%
(Rahman et al., 1992). Menurut Adnan (1984), zat-zat yang ada di dalam
air susu seperti air, lemak, protein, gula dan
mineral berada dalam tiga keadaan yang berbeda: 1) sebagai larutan
sejati, misalnya: hidrat arang, garam-garam organik, vitamin dan
senyawa-senyawa nitrogen bukan protein; 2) sebagai larutan koloidal, terutama
partikel-partikel yang besar yang dapat memberikan efek Tyndal, dalam golongan
ini termasuk protein dan enzim; 3) sebagai emulsi, seperti: lemak dan
senyawa-senyawa yang mengandung lemak yang terdapat sebagai emulsi berbentuk
globula-globula.
Air.
Air merupakan komponen terbanyak dalam susu. Jumlahnya mencapai 84-89%. Air
merupakan tempat terdispersinya komponen-komponen susu yang lain. Komponen-komponen yang terdispersi secara molekuler adalah
laktosa, garam-garam mineral dan beberapa vitamin. Protein-protein kasein,
laktoglobulin dan albumin terdispersi secara koloidal, sedangkan lemak
merupakan emulsi (Hadiwiyoto, 1994).
Karbohidrat.
Laktosa merupakan karbohidrat yang menyebabkan susu berasa manis. Kandungan
laktosa dalam susu adalah 4,5% (Rutgers
dan Ebing, 1992). Hadiwiyoto (1994),
menjelaskan bahwa k omposisi susu
sangat lengkap seperti karbohidrat, laktosa, protein, lemak, vitamin dan air terdapat dalam susu.
Lemak.
Air susu merupakan suatu emulsi lemak dalam air yang di dalamnya terkandung
gula, garam-garam mineral dan protein dalam bentuk suspensi koloidal (Varnam
dan Sutherland, 1994). Lemak susu terdapat di dalam susu dalam bentuk jutaan
bola kecil berdiameter antara 1-20 μm dengan garis tengah rata-rata 3 μm (Buckle et al.,
1987).
Protein.
Susu merupakan salah satu sumber protein hewani yang memiliki daya cerna tinggi
dan kaya akan protein, laktosa, mineral dan vitamin (Buckle et al,. 1987;
Varnam dan Sutherland, 1994). Protein susu terdiri atas kasein, laktalbumin dan
laktoglobulin. Kasein merupakan protein yang terbanyak jumlahnya daripada
laktalbumin dan laktoglobulin. Namun di samping ketiga jenis protein tersebut
terdapat pula protein lainnya sebagai enzim dan immunoglobulin (Hadiwiyoto,
1994). Protein dalam susu dapat dibedakan menjadi dua kelompok utama yaitu
kasein (protein yang dapat diendapkan oleh asam dan enzim rennin) dan protein
whey (protein yang dapat terdenaturasi oleh panas dengan suhu sekitar 650C)
(Buckle et al,. 1987).
Enzim.
Susu mengandung beberapa enzim diantaranya : lipase, fosfatase, peroksidase,
katalase, galaktose, dehidrogenase dan
lactose (Hadiwiyoto, 1994). Enzim utama yang normal terdapat di dalam susu
adalah: laktoperoksidase, ribonuklease, antinoksidase, katalase, aldolase,
laktase dan kelompok fosfatase, lipase,
esterase, protease, amilase dan
oksidase (Daulay, 1990). Enzim-enzim yang berfungsi sebagai indikator
panas adalah fosfatase dan peroksidase dan
enzim yang menyebabkan kerusakan adalah lipase (Buckle et al., 1987).
Vitamin.
Umumnya vitamin yang terdapat dalam susu adalah vitamin yang larut dalam lemak
seperti vitamin A, D, E, K dan vitamin yang larut dalam air seperti vitamin B
dan C (Daulay, 1990). Susu, tinggi akan
kandungan vitamin A yang terlarut dalam lemak (Winarno, 1993).
Komponen
susu sapi

Nutrisi
dalam susu sapi memang didesain untuk kebutuhan anak sapi. Di dunia alami,
setiap bayi spesies mamalia menyusu kepada induknya sendiri, minum susu
spesiesnya sendiri, karena susu itu pasti cocok dengan kebutuhan tumbuh
kembangnya. Inilah cara kerja alam. Hanya manusia yang dengan sengaja mengambil
susu dari spesies lain, mengolahnya, dan meminumnya. Padahal, yang penting bagi
pertumbuhan anak sapi belum tentu berguna bagi manusia. Ini bertentangan dengan
hukum alam.
Secara
umum, jenis nutrisi susu sapi dengan ASI sepertinya mirip. Ada protein, lemak,
laktosa, zat besi, kalsium, fosfor, natrium, kalium, dan vitamin. Namun,
kualitas dan jumlah nutrisi keduanya sangat berbeda. Misalnya saja, kandungan
laktoferinnya. Zat antioksidan ini berguna untuk memperkuat fungsi sistem
kekebalan tubuh, terdapat baik dalam susu sapi maupun ASI. Namun, rasio
laktoferin dalam ASI adalah 0,15% sementara laktoferin susu sapi hanya 0,01%.
Contoh lain, kandungan laktosa dalam ASI sekitar 7%, sementara dalam susu sapi
hanya 4,5%. Tampaknya bayi-bayi yang baru lahir dari spesies yang berbeda
membutuhkan jumlah dan rasio nutrisi yang berbeda pula.
Susu Sapi Sulit Dicerna Manusia
Karena
bentuknya cair, orang-orang sering meminum susu bagaikan air saat mereka haus.
Ini sebuah kesalahan besar. Komponen protein utama (sekitar 80%) susu sapi
bernama kasein. Protein ini langsung menggumpal menjadi satu begitu memasuki
lambung manusia, jadi sangat sulit dicerna oleh sistem pencernaan kita.
Kandungan
susu sapi akan semakin sulit dicerna oleh manusia yang sudah dewasa. Memang di
alam bebas, hewan yang minum susu hanyalah bayi yang baru lahir. Bahkan, ASI
dari spesies manusia pun sebetulnya tidak didesain untuk konsumsi manusia
dewasa. Laktoferin, contohnya. Zat ini akan terurai begitu terkena asam
lambung. Bayi dapat mengkonsumsi banyak nutrisi laktoferin karena lambungnya
belum sempurna dan produksi asam lambungnya baru sedikit.
Contoh
lain adalah laktosa, zat gula yang terdapat dalam susu mamalia. Untuk mencerna
laktosa, kita butuh enzim laktase. Enzim ini banyak dimiliki oleh tubuh bayi,
namun jumlah enzim ini akan berkurang seiring usia. Jika setelah minum susu
kita merasakan gejala perut bergemuruh atau diare, itu adalah akibat
ketidakmampuan tubuh kita mencerna laktosa. Menghilangnya enzim laktosa saat
kita beranjak dewasa merupakan cara alam untuk mengatakan bahwa susu bukanlah
untuk diminum orang dewasa.
Susu Sapi Komersial Buruk Bagi
Tubuh
Susu
sapi dalam bentuknya yang segar saja sudah sulit dicerna manusia, apalagi
setelah menjadi susu sapi komersial. Proses pengolahan susu sapi komersial
membuat susu sapi bukan hanya sulit dicerna, tapi bahkan berbahaya dan berdampak
buruk bagi tubuh.
Pertama,
susu sapi komersial mengalami proses homogenisasi. Jika susu sapi segar
dibiarkan, lemaknya lama-kelamaan akan mengapung di permukaan. Di pabrik, lemak
ini diaduk dengan mesin sampai kadarnya merata di seluruh susu, tidak akan
terpisah lagi seperti saat masih segar. Dampak proses ini adalah terjadi
perikatan lemak susu dengan oksigen menjadi lemak teroksidasi
(terhidrogenisasi). Jika diminum, susu homogen ini mengacaukan lingkungan dalam
usus, meningkatkan jumlah bakteri jahat dan merusak keseimbangan flora usus
kita. Akibatnya, racun-racun seperti radikal bebas, hidrogen sulfida, dan
amonia terproduksi.
Kedua,
setelah dihomogenisasi, susu sapi komersial masih melewati proses pasteurisasi.
Proses ini tujuannya menekan perkembangbiakan berbagai kuman dan bakteri.
Metode yang paling banyak digunakan adalah pasteurisasi suhu tinggi waktu
singkat (HTST: lebih dari 72◦C selama 15 detik lebih) atau suhu sangat tinggi
waktu singkat (UHT: lebih dari 120-130◦C selama 2 detik atau sampai dengan
150◦C selama 1 detik). Enzim-enzim yang berharga dalam susu mulai terurai pada
suhu 48◦C dan pada suhu 115◦C sudah hancur seluruhnya. Oleh karena itu,
terlepas dari lama waktu pemrosesan, pada suhu pasteurisasi mencapai 130◦C,
enzim telah hampir seluruhnya rusak. Susu itu menjadi makanan yang mati, tidak
mempunyai daya hidup lagi. Selain itu, efek samping pasteurisasi suhu tinggi
adalah meningkatknya kadar lemak teroksidasi serta berubahnya kualitas protein
susu. Laktoferin, yang sensitif terhadap panas, juga rusak. Itu sebabnya Dokter
Shinya menegaskan: “Susu sapi yang dijual di supermarket seluruh dunia tidak
baik bagi Anda.”
Minum Susu Terlalu Banyak
Menyebabkan Osteoporosis
Anggapan
bahwa minum susu dapat mencegah osteoporosis adalah suatu miskonsepsi alias
mitos! Kadar kalsium dalam darah manusia biasanya terpatok pada 9-10 mg. Saat
minum susu, konsentrasi kalsium dalam darah tiba-tiba meningkat. Tubuh berusaha
mengembalikan keadaan abnormal ini menjadi normal kembali dengan membuang
kalsium dari ginjal melalui urine. Dengan kata lain, kalau kita minum susu
dengan harapan mendapatkan kalsium, hasilnya justru berkebalikan: jumlah total
kalsium dalam tubuh kita justru menurun. Tak heran, dari empat negara peminum
susu terbesar (Amerika-Swedia-Denmark-Finlandia), ditemukan banyak sekali kasus
retak tulang panggul dan osteoporosis. Sebaliknya, hampir tidak ada kasus
osteoporosis di Jepang semasa rakyat Jepang tidak minum susu. Konsumsi kalsium
yang mereka peroleh dari ikan-ikan kecil dan rumput laut yang walaupun tidak
cepat terserap dalam darah ternyata dalam jangka panjang justru berdampak baik.
Risiko-risiko Lain Minum Susu Sapi
Dokter
Shinya sendiri menyaksikan dampak buruk konsumsi susu sapi dan produk-produk
susu pada anak-anaknya semasa mereka masih kecil. Yang sulung menderita
dermatitis atopik (ruam kulit parah), yang kecil mengalami gejala-gejala awal
kolitis ulserativa (radang parah dengan tukak di dalam usus besar) seperti
diare dan kotoran berdarah. Namun, setelah konsumsi dihentikan, semua penyakit
itu menghilang dengan sendirinya. Secara medis, sudah banyak laporan yang
menguatkan pendapat Dokter Shinya bahwa konsumsi susu sapi dan produk-produk
susu bisa memicu berbagai jenis alergi dan penyakit gaya hidup, termasuk
diabetes, pada anak. Jika wanita hamil minum susu, anak-anak yang ia lahirkan
juga lebih mudah terjangkit alergi-alergi itu.
Pengaruh Suhu Dan Waktu
Pasteurisasi Terhadap Mutu Susu Selama
Penyimpanan

Dapat
disimpulkan bahwa susu pasteurisasi baik dengan metode HTST maupun LTLT masih
baik dikonsumsi sampai umur penyimpanan 15-21 jam pada suhu penyimpanan 27,5
C (suhu kamar). Kadar air susu pasteurisasi tidak
dipengaruhi oleh metode pasteurisasi, tapi dipengaruhi oleh lama waktu
penyimpanan. Kadar lemak susu tidak dipengaruhi oleh lama penyimpanan pada
metode pasteurisasi LTLT, tetapi dipengaruhi pada metode HTST. Masa simpan susu
lebih lama pada pasteurisasi dengan HTST, namun kadar protein lebih tinggi pada
pasteurisasi dengan LTLT (suhu 65C).
TEMA : ANTIBIOTIKA
Penyakit
infeksi bisa disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, atau parasit. Antibiotik
adalah obat yang digunakan untuk mengobati penyakit infeksi yang disebabkan
oleh bakteri. Jika digunakan secara tepat, antibiotik dapat menyelamatkan
banyak nyawa. Namun, jika digunakan secara tidak tepat (tidak rasional),
antibiotik akan menyebabkan bakteri menjadi resisten atau kebal terhadap
antibiotik tersebut. Akibatnya, hal tersebut akan memperlama waktu sakit,
meningkatkan biaya kesehatan, angka kesakitan, dan angka kematian.
Bakteri
yang resisten terhadap antibiotik adalah bakteri yang bermutasi atau berubah menjadi
kebal terhadap antibiotik sehingga antibiotik tidak mampu lagi menghambat
pertumbuhan bakteri ataupun mematikannya. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri
yang resisten ini lebih sulit disembuhkan karena bakteri ini menghasilkan enzim
atau protein yang bisa menghancurkan antibotik.
Proses
resistensi antibiotik sebenarnya merupakan proses normal. Artinya, jika
antibiotik digunakan secara terus menerus, bakteri akan melakukan upaya untuk
mempertahankan diri sehingga lama kelamaan mempunyai kemampuan untuk kebal
terhadap antibiotik tersebut. Namun, proses resistensi ini bisa dipercepat
apabila antibiotik digunakan secara tidak tepat alias berlebihan.
Contoh
penggunaan antibiotik yang tidak tepat adalah antibiotik digunakan pada kondisi
yang seharusnya tidak memerlukan antibiotik. Hal ini sering terjadi pada
penyakit infeksi yang disebabkan virus. Harap diingat kembali bahwa antibiotik
adalah obat untuk mengobati infeksi karena bakteri. Virus berbeda dengan
bakteri. Penyakit infeksi virus adalah self-limited disease, yakni infeksi ini
bisa sembuh sendiri dan tidak memerlukan antibiotik.
Contoh
lain penggunaan antibiotik yang tidak tepat adalah saat antibiotik memang
diperlukan, tetapi dipakai secara tidak tepat. Misalnya, kita menghentikan
pemakaian antibiotik saat merasa penyakit sudah membaik tanpa menghabiskannya
sesuai anjuran dokter. Bisa juga kita membeli antibiotik sendiri tanpa resep
dokter (over the counter/otc), meminum antibiotik dengan dosis yang tidak
tepat, menyimpan antibiotik untuk persediaan bila sakit, atau memakai resep
orang lain untuk membeli antibiotik tanpa konsultasi dengan dokter.
Mengapa
penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan masalah?
Penggunaan
antibiotik yang tidak tepat akan menyebabkan antibiotik menjadi kurang efektif
dan mungkin tidak akan bekerja saat Anda menggunakannya lagi. Selain itu,
apabila tidak digunakan dengan tepat, antibiotik dapat memperbanyak munculnya
bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Bakteri yang resisten ini bisa
menyebar dari satu orang ke orang yang lain yang pada akhirnya menyebar ke
masyarakat.
Bakteri
yang resisten ini lebih sulit dimatikan dan biasanya memerlukan antibiotik yang
lebih kuat untuk membunuhnya. Bahkan pada kasus yang ekstrem akan terjadi
bakteri yang resisten terhadap bermacam-macam antibiotik (bakteri yang
multiresisten terhadap antibiotik), yang menyebabkan semakin sulitnya mengatasi
penyakit infeksi akibat bakteri ini. Infeksi akibat bakteri yang resisten ini
bisa menyerang siapa saja dan fenomena ini umum terjadi.
Apa
penyakit-penyakit di masyarakat yang umumnya diobati dengan antibiotik?
1.
Infeksi saluran pernapasan akut bagian atas (selanjutnya disingkat ISPA)
Contoh
ISPA adalah flu atau infeksi batuk pilek biasa yang disertai demam (sering
disebut radang tenggorokan). Infeksi ini sering sekali diberikan antibiotik.
Banyak yang beranggapan setiap ada gejala demam harus meminum antibiotik.
Padahal dikatakan dalam penelitian bahwa penyebab terbanyak ISPA adalah akibat
virus. Terutama pada anak-anak di bawah usia 8 tahun, dikatakan 80% penyebabnya
adalah virus.
Jika
infeksi ini ditandai dengan gejala demam, batuk, pilek dengan ingus yang encer,
dan di sekitar orang sakit tersebut banyak yang menderita sakit serupa, sangat
mungkin infeksi ini adalah akibat virus yang bisa sembuh sendiri sehingga tidak
memerlukan pengobatan antibiotik. Pada infeksi saluran napas akibat virus,
antibiotik tidak mengurangi lama sakit dan tidak mengurangi gejala. Gejala akan
sembuh sendiri apabila kekebalan tubuh sudah membunuh virus tersebut.
Orang
yang sakit ISPA memerlukan lebih banyak minum dan istirahat, bukan antibiotik.
Minum perlu diperbanyak karena pada saat demam (suhu tubuh lebih dari {\rm
37,5}^\circ{\rm C}) banyak cairan tubuh yang menguap. Selain itu, dengan banyak
minum, lendir di saluran napas menjadi lebih encer sehingga mudah diserap oleh
tubuh. Akhirnya, batuk akan lebih cepat reda.
Berdasarkan
hal tersebut, hal yang paling penting adalah biarkan dokter yang memutuskan
apakah infeksi saluran napas yang diderita disebabkan oleh virus atau bakteri,
serta kapan orang sakit memerlukan antibiotik untuk penyakitnya. Antibiotik
juga tidak berguna untuk mencegah penularan penyakit karena infeksi virus
biasanya menyebar dari satu orang ke orang yang lain mulai sejak belum munculnya
gejala, yaitu sebelum orang tersebut merasa bahwa dirinya sakit.
3. Diare
Virus
adalah penyebab diare karena infeksi yang paling sering. Infeksi tersebut
ditandai dengan adanya berak atau feses yang konsistensinya lebih encer dan
lebih sering dari biasanya serta berak tanpa disertai darah. Lagi-lagi,
antibiotik tidak diperlukan pada kasus ini. Pemberian antibiotik malah bisa
menyebabkan matinya kuman baik atau flora normal di usus sehingga kuman yang
tidak baik akan bisa berkembang biak dengan leluasa. Ini akan membuat diare
makin parah dan lama sembuh.
Hal-hal
yang perlu dilakukan pada diare adalah minum yang cukup untuk mencegah
terjadinya dehidrasi atau kurangnya cairan, makan diteruskan untuk mengganti
sel mukosa usus yang rusak, pemberian mikronutrien seng (zink), dan menjaga
kehigienisan (harus mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir atau
alkohol sebelum dan setelah berhubungan dengan feses penderita). Antibiotik
hanya diperlukan pada kasus diare yang disertai dengan darah.
Antibiosis dan Antibiogram
Antibiosis
adalah interaksi antarorganisme dimana salah satu organisme menghasilkan zat
antibiotik atau racun yang berbahaya bagi organisme lainnya,Misalnya interaksi
antara jamur Penicillium dengan jenis mikroorganisme lain,jamur Penicillium
mengeluarkan antibiotik yang dapat menghambat atau mematikan mikroorganisme
lain yang hidup di sekitarnya.
Untuk
memilih antibiotika yang baik dan tepat adalah dengan mengetahui bakteri
penyebab infeksi dan juga berdasarkan hasil uji sensitivitas Antibakteri. Sehingga
dalam terpai pengobatan terbagi ke dalam dua bagian, yaitu secara empiris dan
secara klinis. Arti empiris adalah dengan mengamati diagnosa ppenyakit dan
tanda gejala yang mucul, kemudian ditentukan diagnosa penyakit kemungkinan
disebabkan oleh bakteri apa. Misalnya saja pasien mengalami gejala di bawah
ini:
Pilek
yang berlangsung lama.
kepala
terasa sangat sakit, terutama jika
sedang menunduk.
Kadang
pendengaran berkurang dan badan meriang, sementara ingus terus mengalir.
Kehilangan
nafsu makan dan indera penciuman menjadi lemah.
Beberapa
gejala ini , yang diungkapkan oleh pasien, bisa jadi didiagnosis sinusitis, dan
biasanya diakibatkan oleh Streptococcus pneumoniae dan Haemo philus influenzae
yang ditemukan hampir pada 70 % kasus. Sehingga dokter akan memberikan
antibiotika berdasarkan data empiris dari hasil
gejala pasien, dan memberikan obat sesuai dengan Antibiogram.

Kalau dilihat
dari Antibiogram di atas, pada pasien normal, dewasa, maka dokter akan
memilih obat yang memiliki nilai sensitivitas yang tinggi seperti tertera
diatas, Contoh Levofloksasin atau tetracycline. Selain itu, Dokter akan
menentukan AB pilihan tergantung dari beberapa faktor seperti umur pasien ,
alergi obat , kombinasi dengan penyakit lain dan terapi terapi obat yang
sedang dilalui.
Dapat disimpulkan
dengan Antibiogram merupakan salah satu cara untuk memilih antibiotik
secara empiris. Dan dari Antibogram pula kita mengetahui dengan jelas, tidak
bisa satu AB membunuh semua bakteri patogen, karena AB memiliki sifat dan
kekhasannya sendiri untuk membunuh bakteri yang mana.
TEMA : PERCOBAAN ABIOGENESIS
Lazzaro
Spallanzani (1768), pada percobaannya menggunakan air rebusan dari daging (air
kaldu). Air kaldu tersebut dimasukkan ke
dalam dua labu, kemudian dipanaskan. Setelah dipanaskan, labu I dibiarkan
terbuka. Sementara itu, setelah air kaldu dalam labu II dipanaskan, labu
kemudian ditutup rapat menggunakan gabus.
Setelah
beberapa hari, air kaldu dalam labu I menjadi keruh dan berbau busuk yang disebabkan
oleh aktivitas mikroorganisme. Mikroorganisme tersebut berasal dari udara bebas
yang masuk ke labu I karena tidak ditutup. Pada labu II, ternyata tidak ada
perbedaan dari sebelumnya. Air kaldu tetap jernih. Jernihnya air kaldu ini
disebabkan tidak adanya udara yang masuk ke dalam labu. Percobaan Spallanzani
menunjukkan bahwa pada labu terbuka terdapat kehidupan yang berasal dari
mikroorganisme yang ada di udara. Pada labu yang ditutup tidak terdapat
kehidupan. Berdasarkan hal tersebut, Spallanzani berkesimpulan bahwa kehidupan
bukan berasal dari air kaldu, tetapi berasal dari makhluk hidup lainnya. Akan
tetapi, para penganut abiogenesis menyanggah penelitian ini dan mengatakan
bahwa mikroorganisme tidak tumbuh karena tidak terdapat udara. Udara dibutuhkan
untuk menyokong kehidupan.

TEMA
: POPULASI BURUNG
POPULASI
BURUNG MERAK HIJAU (Pavo muticus Linnaeus, 1766) DI EKOSISTEM SAVANA, TAMAN
NASIONAL BALURAN, JAWA TIMUR
(Population
Phoenix Birds (Pavo muticus Linnaeus, 1766) in Savanna Ecosystem, Baluran
National Park, East Java)*)
Data

Tabel
4 menunjukkan bahwa sex ratio burung merak hijau di TN Baluran cenderung
memiliki sistem perkawinan yang monogami, padahal secara naluri sistem
perkawinan burung merak hijau poligami yang berarti satu ekor jantan dapat
melayani 4-5 ekor betina (Hernowo, 1995).
Hal ini memberi indikasi bahwa populasi burung merak hijau di TN Baluran
kurang sehat, karena populasi burung merak hijau betina sangat kurang apabila
dibandingkan dengan burung merak hijau jantan, sehingga akan berpengaruh
terhadap pola reproduksi karena ada burung merak hijau jantan yang tidak
mendapat pasangan.
Hal
ini menyebabkan burung merak hijau jantan yang tidak mendapat pasangan akan
mengganggu telur-telur burung merak hijau dalam sarang, bahkan dapat memecahkan
telur-telur tersebut, sehingga pada akhirnya penetasan telur berkurang. Selain itu, apabila burung merak hijau betina
terlalu sedikit, maka burung merak hijau jantan akan saling berkelahi untuk
memperebutkan burung merak hijau betina, sehingga burung merak hijau betina
tidak sempat dikawini tetapi bisa bertelur dan telur yang dihasilkan t idak dibuahi
(infertile). Namun sex ratio dan
struktur umur dapat pula dipengaruhi oleh gangguan seperti penangkapan atau
perburuan terhadap burung merak hijau betina.
Populasi
burung merak hijau menurun dari tahun ke tahun, baik pada habitat savana Bekol
maupun Bama. Banyak faktor yang
mempengaruhi penurunan populasi tersebut, antara lain meningkatnya perburuan
dan predator serta kerusakan habitat yang merupakan tempat makan, bersarang,
dan tidur bagi burung merak hijau.
Selama pengamatan berlangsung, terlihat masyarakat bebas memasuki
kawasan melalui pintu masuk savanna Bekol dan pantai Bama dengan tujuan mencari
kayu bakar dan menangkap ikan. Terlihat
truk yang keluar-masuk di dalam kawasan sebanyak 9-12 buah dalam sehari
mengangkut kayu Acacia nilotica untuk dijadikan sebagai kayu bakar dan
arang. Hal ini akan memudahkan
masyarakat melakukan aktivitas lain di luar tujuan semula termasuk berburu
rusa, burung merak dewasa, telur dan anaknya (piyik) apabila tanpa pengawasan
ketat. Hernawan (2003) menyebutkan, keberadaan
burung merak hijau sangat terancam dengan adanya penangkapan anakan yang dijual
sebagai burung piaraan (pet). Hal ini
terjadi karena faktor fisik (aksesibilitas), faktor ekonomi (harga jualnya
sangat tinggi), dan faktor budaya.
Keberadaan populasi burung
merak hijau di savana Bekol dan Bama juga terancam dengan adanya predator,
seperti biawak (Varanus salvator), ular sanca atau phyton (Pyton raticulatus),
ganggarangan (Herpestes javanicus), dan babi hutan (Sus scrofa) yang dapat
memangsa burung dewasa, muda bahkan anak dan telur burung merak hijau.
Tingginya tingkat kehilangan telur dan anak merak hijau dari habitat dapat
menyebabkan berkurangnya merak muda.
Data
pada Tabel 4 dan Tabel 5 menunjukkan bahwa burung merak hijau paling banyak
ditemukan yakni di savana Bekol. Hal ini
disebabkan di savana Bekol merupakan tempat burung merak hijau mencari pakan
dan melakukan aktivitas lain, seperti kawin dan mandi abu. Selain di savana, burung merak hijau juga
ditemukan di pohon kesambi (S. oleosa),
gebang (C. utan), dan walikukun (S. ovata). Di Bama, lebih banyak
dijadikan sebagai tempat tidur, bersarang, dan berkembangbiak.
Tabel
6 menggambarkan bahwa berdasarkan uji F pada t ingkat 5% populasi burung merak
hijau di savana Bekol tidak berpengaruh nyata terhadap populasi di Bama (Fhit<F). Penurunan populasi burung merak hijau secara
keseluruhan juga disebabkan oleh adanya invasi A. nilotica, sehingga tumbuhan bawah di
sekitarnya sulit tumbuh sedangkan tumbuhan bawah tersebut merupakan pakan dan
sebagai tempat hidup serta berkembangbiaknya burung merak hijau. Tingginya tingkat penangkapan atau perburuan,
predator, dan kerusakan habitat burung merak hijau menyebabkan keberadaan
populasinya di TN Baluran mengalami gangguan, bahkan dapat menyebabkan kepunahan
apabila t idak segera diatasi.
Pemanfaatan
waktu sesuai dengan perjumpaan burung merak hijau dan aktivitas harian yang
dilakukannya adalah pagi hari (pukul 05.00-10.00) berkokok, mencari makan, dan
minum; siang hari (pukul 10.00-14.00) istirahat atau bertengger, mandi abu,
kawin; sore hari (pukul 15.00-18.00) kembali mencari makan dan minum sebentar;
dan malam hari (18.00-05.00) berkokok mencari tempat tidur dan tidur di dahan
pohon.
C. Sistem Pengelolaan
Savana
merupakan habitat yang disukai burung merak hijau sebagai tempat mencari makan
dan melakukan beberapa aktivitas. Namun
habitat ini sudah terinvasi ± 90% oleh spesies A. nilotica, sehingga
rumput-rumput dan tumbuhan bawah lainnya yang menjadi sumber pakan burung merak
hijau, pertumbuhannya menjadi terhambat.
Sistem
pengelolaan terhadap perkembangan pertumbuhan invasif spesies A. nilotica yang
dilakukan oleh pihak pengelola TN Baluran adalah melalui kerjasama dengan
masyarakat lokal. Masyarakat diperbolehkan untuk menebang, membakar, dan
memanfaatkan sebagai arang dan kayu bakar.
A.nilotica ditebang hingga ke pangkal, ranting-rant ingnya yang
berukuran kecil dibakar di lokasi kemudian batang-batang berukuran 10-20 cm
dijadikan arang. Sistem pengelolaan terhadap kawasan yang dilakukan oleh TN
Baluran merupakan upaya untuk mempertahankan keaslian ekosistem dengan menjaga
kelestarian keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya tetapi dengan
memperhatikan kebutuhan hidup masyarakat lokal di sekitarnya.
TEMA : BAKTERI DALAM SUSU
Pertumbuhan
merupakan proses perubahan bentuk yang semula kecil kemudian menjadi besar.
Pertumbuhan menyangkut pertambahan volume dari individu itu sendiri.
Pertumbuhan pada umumnya tergantung pada kondisi bahan makanan dan juga
lingkungan. Apabila kondisi makanan dan lingkungan cocok untuk mikroorganisme
tersebut, maka mikroorganisme akan tumbuh dengan waktu yang relatif singkat dan
sempurna.
Pertumbuhan
mikroorganisme yang bersel satu berbeda dengan mikroorganisme yang bersel
banyak (multiseluler). Pada mikroorganisme yang bersel satu (uniseluler)
pertumbuhan ditandai dengan bertambahnya sel tersebut. Setiap sel tunggal
setelah mencapai ukuran tertentu akan membelah menjadi mikroorganisme yang
lengkap, mempunyai bentuk dan
sifat
fisiologis yang sama. Pertumbuhan jasad hidup, dapat ditinjau dari dua segi,
yaitu pertumbuhan sei secara individu dan pertumbuhan kelompok sebagai satu
populasi.
Pertumbuhan
sel diartikan sebagai adanya penambahan volume serta bagian-bagian sel lainnya,
yang diartikan pula sebagai penambahan kuantiatas isi dan kandungan didalam
selnya. Pertumbuhan populasi merupakan akibat dari adanya pertumbuhan individu,
misal dari satu sel menjadi dua, dari dua menjadi empat ,empat menjadi delapan,
dan seterusnya hingga berjumlah banyak.
Pada
mikroorganisme, pertumbuhan individu (sel) dapat berubah langsung menjadi
pertumbuhan populasi. Sehingga batas antara pertumbuhan sel sebagai individu
serta satu kesatuan populasi yang kemudian terjadi kadang-kadang karena terlalu
cepat perubahannya, sulit untuk diamati dan dibedakan. Pada pertumbuhan
populasi bakteri misalnya, merupakan penggambaran jumlah sel atau massa sel
yang terjadi pada saat tertentu. Kadang-kadang didapatkan bahwa konsentrasi sel
sesuai dengan jumlah sel perunit volume, sedang kerapatan sel adalah jumlah
materi perunit volume.
Penambahan
dan pertumbuhan jumlah sel mikroorganisme pada umumnya dapat digambarkan dalam
bentuk kurva pertumbuhan. Kurva tersebut merupakan penjabaran dari penambahan
jumlah sel dalam waktu tertentu, misal bernilai b, maka:
a.
Pada generasi pertama, b = 1×2
b.
Pada generasi kedua,b = 1×22
c.
Pada generasi ke-n,b = 1x2n sehingga akhirnya: b=a x 2n
Dengan
perhitungan logaritma, persamaan dapat dituliskan menjadi :
Log
b = log 10a + alog 102
=
log 10a + 0,301 n
=
log 10b – log 10a
atau
n = 0,301
Pertumbuhan
bakteri dalam biak statik akan mengikuti kurva pertumbuhan. Jika bakteri
ditanam dalam suatu larutan biak, maka bakteri akan terus tumbuh sampai salah
satu faktor mencapai minimum dan pertumbuhan menjadi terbatas. Pertumbuhan biak
bakteri dengan mudah dapat dinyatakan secara grafik dengan logaritme jumlah sel
hidup terhadap waktu. Suatu kurva pertumbuhan punya bentuk sigmoid dan dapat
dibedakan dalam beberapa tahap pertumbuhan. Ada beberepa tahap pertumbuhan
yaitu : terdapat kurva pertumbuhan atau gambar.
Tahap
ancang-ancang yang mencakup interval waktu antara saat penanaman dan saat
tercapainya kecepatan pembelahan maksimum, lamanya tahap ancang-ancang ini
terutama tergantung dari biak wal, umur bahan yang ditanam dan juga dari sifat
larutan biak.
·
Tahap eksponensial; Pada tahap
pertumbuhan eksponensial terciri oleh kecepatan pembelahan maksimum yang
konstan kecepatan pembelahan diri sepanjang tahap log bersifat spesifik untuk
tiap jenis bakteri dan tergantung lingkungan.
·
Tahap stationer; Tahap ini dimulai kalau
sel-sel sudah tidak tumbuh lagi. Kecepatan pertumbuhan tergantung dari kadar
substrat, menurunnya kecepatan pertumbuhan sudah terjadi ketika kadar subtrat
berkurang sebelum subtrat habis terpakai. Massa bakteri yang dicapai pada tahap
stationer dinamakan hasil atau keuntungan.
·
Tahap kematian; Pada tahap kematian dan
sebab-sebab kematian sel bakteri dalam larutan biak normal masih kurang
diteliti. Ada kemungkinan bahwa sel-sel dihancurkan oleh pengaruh enzim asal
sel sendiri (otolisis)
Pertumbuhan
bakteri dalam biak sinambung tidak akan mengikuti kurva pertumbuhan. Dalam
pertumbuhan bakteri ini terdapat prosedur yang menjadi dasar biak sinambung
yang dilakukan dalam kemostat dan turbidostat
1.
Pertumbuhan dalam kemostat
Kemostat
terdiri dari bejana biak yang dimasuki larutan biak dari bejana persediaan
dengan kecepatan aliran tetap. Diusahakan dalam bejana biak terdapat pemasokan
O2 secara optimum dan supaya selekas mungkin terjadi distribusi merata dari
nutrien yang dialirkan masuk sebagai larutan biak. Kecepatan pertambahan
dinyatakan sebagai μx = dx/dt dan kerapatan bakteri meningkat dengan x = x0 e
μ/t. Biak dalam kemostat dikendalikan subtrat. Stabilitas sistem ini berlandaskan
keterbatasan kecepatan tumbuh oleh konsentrasi subtrat yang diperlukan
pertumbuhan (donor H, sumber N, Sumber S, atau sumber P).
2.
Pertumbuhan dalam turbidostat
Sistem
ini didasarkan pada kerapatan bakteri tertentu atau kekeruhan tertentu yang
dipertahankan konstan. Ada perbedaan mendasar antara biak statik klasik dengan
biak sinambung dalam kemostat biak static harus dilihat sebagai sistem tertutup
(boleh disamakan dengan organisme sial, tahap stationer dan tahap kematian.
Kalau pada biak sinambung merupakan sistem terbuka yang mengupayakan
keseimbangan aliran untuk organisme selalu terdapat kondisi lingkungan yang
sama.
Dalam
pertumbuhan sinkron akan terjadi sinkronisasi pembelahan sel. Hal ini
dimaksudkan agar proses metabolisme siklus pembelahan bakteri dapat dipelajari
disperlukan suspensi sel yang mengalami pembelahan sel dalam waktu sama yaitu
sinkron. Sinkronisasi populasi sel dapat dicapai dengan berbagai tindakan
buatan antara lain dengan merubah suhu rangsangan cahaya, pembatasan nutrien
atau menyaring untuk memperoleh sel-sel yang sama ukurannya. Sinkronisasi
pertumbuhan ini juga dimaksudkan untuk menyediakan stater dengan usia yang
sama.
Gambaran
pertumbuhan mikroorganisme seringkali tidak sesuai seperti yang sudah
diterangkan kalau faktor-faktor lingkungan yang menyertainya tidak memenuhi
persyaratan. Beberapa penyimpangan yang sering terjadi pada gambaran kurva
tersebut dapat diterangkan sebagai berikut :
Pengaruh
lingkungan terhadap kurva pertumbuhan
1.
Kurva A : Menunjukkan terdapatnya fase lag yang cukup lama sebelum
mikroorganisme dapat tumbuh dan bertambah.
2.
Kurva B : Menunjukkan tidak adanya fase lag, karena begitu ditanamkan, maka
pertumbuhan mikroorganisme dapat langsung ke fase logaritmik atau fase
eksponensial pertumbuhan.
3.
Kurva C : Menunjukkan fase lag yang panjang atau lama serta tidak dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang baru (mati).
4.
Kurva D : adalah gambaran suatu kurva pertumbuahan mikroorganisme yang secara
kontinu terus menerus diberi tambahan sumber nutrient, sehingga ada
kesinambungan pertumbuhan walau makin lama mengarah kepada penurunan.
TEMA
: TAMAN HIJAU
Berikut
saran ini yang dikemukakan oleh S. Windiyani Mustiko, alumnus Landscpe Institut
Pertanian Bogor, tentang tips merawat rumput agar lebih hijau dan menyegarkan.
Cara merawat rumput di pekarangan
tetap hijau
Air untuk Rumput
Air
merupakan salah satu elemen penting untuk kesehatan rumput anda. Ada masa di
mana rumput tidak mendapatkan cukup air yang biasanya timbul di musim kemarau,
sehingga diperlukan penyiraman yang lebih intensif di pagi dan sore hari.
Kondisi air berlebih juga tidak dibenarkan, karena akan menyebabkan pembusukan
pada rumput.
Alat Penyiram Rumput
Pemakaian
alat siram rumput seperti gembor dan sprayer akan lebih baik karena air
diberikan secara halus dan merata.
Pemupukan Rumput
Pemupukan
adalah salah satu hal yang perlu dilakukan setidaknya tiga bulan sekali.
Gunakan pupuk NPK dengan perbandingan antara Nitrogen, Fosfor, dan Kalium
1:1:1. Dosis yang digunakan adalah 100 gr/m2. Campurkan sedikit pasir halus
pada pupuk agar sebarannya lebih merata.
Pupuk Organik untuk Rumput
Penggunaan
pupuk organik perlu dilakukan agar tanah tetap gembur dan diharapkan dapat
mempercepat proses penyerapan makanan oleh tanaman. Humus yang halus dan kering
merupakan salah satu pupuk organik yang baik. Sebarkan pupuk organik di atas
permukaan tanah secara merata dengan dosis 1 kg/m2.
Pembersihan Rumput
Bersihkan
rumpus hias anda dari gulma yang mengganggu keindahan dan pertumbuhannya.
Usahakan untuk mencabut gulma sampai ke akar-akarnya, dengan bantuan pisau
kebun.
Pemangkasan Rumput
Lakukan
pemangkasan rumput di pekarangan minimal seminggu sekali. Khusus untuk musim
hujan, biasanya rumput anda akan tumbuh lebih cepat, sehingga pemangkasan harus
lebih sering.
Tinggi Rumput
Pertahankan
tinggi rumput sampai 2,5 – 3 cm, agar rumput tumbuh dengan baik dan tampak
indah. Begitu pula bila pemangkasan terlalu berlebihan akan menyebabkan
kekeringan pada bagian pangkal dan rumbut terlihat botak.
Penyuntikan Rumput
Rumput
yang sering diinjak, tanahnya akan pada dan mengeras. Hal ini akan berpengaruh
pada pertumbuhan rumput. Rumput memerlukan udara untuk pertumbuhannya. Karena
itu perlu dilakukan penyuntikan dengan cara membuat lubang dengan garpu tanaman
sedalam 5 – 10 cm dengan jarak 10 – 3 cm, kemudian isilah dengan pasir atau
humus halus. Lubang-lubang ini akan membantu tanaman untuk dapat menyerap air
dan udara segar ke dalam tanah.
TEMA
: OPERASI JANTUNG

Jantung
mempunyai empat ruang yang terbagi sempurna yaitu dua serambi (atrium) dan dua
bilik (ventrikel) dan terletak di dalam rongga dada sebelah kiri di atas
diafragma. Jantung terbungkus oleh kantong perikardium yang terdiri dari 2
lembar :
a. lamina panistalis di
sebelah luar
b. lamina viseralis
yang menempel pada dinding jantung.
Bagian-bagian jantung
Jantung
memiliki katup atrioventikuler (valvula bikuspidal) yang terdapat di antara
serambi dan bilik jantung yang berfungsi mencegah aliran dari bilik keserambi
selama sistol dan katup semilunaris (katup aorta dan pulmonalis) yang berfungsi
mencegah aliran balik dari aorta dan arteri pulmonalis kiri ke bilik selama
diastole.
Definisi (CABG)
Coronary Artery Bypass Graft (CABG)
merupakan salah satu penanganan intervensi dari Penyakit Jantung Koroner (PJK),
dengan cara membuat saluran baru melewati arteri koroner yang mengalami
penyempitan atau penyumbatan (Feriyawati, 2005).
CABG
Off Pump (OPCAB) yaitu CABG yang dilakukan tanpa menggunakan mesin pintas
jantung-paru atau Cardiopumonary Bypass sebagai pengobatan penyakit jantung
koroner. Off-pompa bypass arteri koroner dikembangkan sebagai alternatif untuk
menghindari komplikasi bypass cardiopulmonary selama operasi jantung. Komunitas
medis percaya cardiopulmonary bypass menyebabkan penurunan kognitif pasca
operasi yang dikenal sebagai sindrom postperfusion, namun penelitian tidak
menunjukkan perbedaan jangka panjang antara on dan off pump CABG
Selain
itu OPCAB dikaitkan dengan manfaat klinis lain seperti penurunan risiko stroke
atau masalah memori, pasien juga biasanya memiliki pemulihan lebih cepat dan
perawatan di rumah sakit yang lebih pendek, lebih sedikit transfusi darah,
serta mengurangi terjadinya masalah imflammatory / masalah respon imun yang tidak
diinginkan. (Wikipedia, 2010)
Pada
teknik CABG off Pump jantung berdenyut normal dan paru – paru pun berfungsi
seperti biasa. Pada teknik operasi ini suhu diturunkan menjadi 280 – 320 C yang
bertujuan untuk menurunkan kebutuhan jaringan akan oksigen seminim mungkin,
heart rate dipertahankan antara 60 – 80 x/mnt, tekanan arteri dipertahankan 70
– 80 mmHg. Suhu diturunkan dengan cara pendinginan topical yaitu dengan cara :
§ Irigasi otot jantung dengan ringer dingin 40
C. jantung direndam dalam cairan.
§ Memakai ringer dingin seperti bubur (ice
slush)
Operasi
bypass jantung disebut juga sebagai operasi Coronary Artery Bypass Graft
(CABG). Operasi bypass jantung merupakan salah satu penanganan operatif pada
Penyakit Jantung Koroner (PJK), yaitu penyakit penyempitan dan penyumbatan
pembuluh darah nadi (arteri) koroner jantung, dengan cara revaskularisasi
(membuat saluran baru) melewati arteri koroner yang mengalami penyempitan atau
penyumbatan sehingga terdapat aliran darah baru yang membawa oksigen dan nutrien
lain ke otot jantung. Saluran baru yang dibuat dapat berasal dari arteri
(pembuluh darah nadi) atau vena (pembuluh darah balik) yang sehat dari tubuh
bagian lain, yang nantinya dicangkokkan/dihubungkan ke arteri koroner yang
menyempit atau tersumbat.
TUJUAN CABG
Pengobatan
penyakit jantung adalah untuk memaksimalkan curah jantung. Melalui pembedahan,
ini dapat dilakukan dengan memperbaiki fungsi otot miokordia dan aliran darah
melalui tandur bypass arteri koroner (CABG) dan atau penggantian katup yang
rusak. Coronary Artery Bypass Grafting (CABG) bertujuan untuk mengatasi
terhambatnya aliran Artety Coronaria akibat adanya penyempitan bahkan
penyumbatan ke otot jantung. Pemastian daerah yang mengalami penyempitan telah
dilakukan sebelumnya dengan melakukan kateterisasi Artery Coronary. Sasaran
operasi bypass adalah mengurangi gejala penyakit arteri koroner (termasuk
angina), sehingga pasien bisa menjalani kehidupan yang normal dan mengurangi risiko serangan jantung
atau masalah jantung lain.
Perlu
diketahui, tidak semua pasien yang menderita PJK memerlukan operasi bypass
jantung, hanya pasien-pasien yang terpilih saja. Penderita PJK yang
diperbolehkan untuk dilakukan operasi bypass jantung adalah penderita PJK yang
sudah mengubah pola hidupnya menjadi baik, yang sudah diterapi dengan
obat-obatan hingga dosis maksimal, dan bukan merupakan kandidat yang baik untuk
menjalani operasi angioplasti (atau disebut juga Percutaneous Transluminal
Angioplasty (PTCA), yaitu operasi pada arteri jantung dimana pada pembuluh
darah yang menyempit dan tersumbat itu dimasukkan suatu balon sehingga arteri
yang tersumbat tersebut mengembang. Kadangkala, operasi angioplasti juga
dilanjutkan dengan operasi bypass jantung untuk lebih meningkatkan aliran darah
arteri koroner jantung), serta yang masih terdapat gejala-gejala PJK, seperti
nyeri dada sebelah kiri yang menjalar. Syarat lainnya untuk dilakukan operasi
bypass jantung adalah terdapat banyak penyempitan atau penyumbatan pada cabang
arteri koroner
Operasi
bypass jantung telah menunjukkan perkembangan yang baik, yaitu bertambahnya
masa kelangsungan hidup yang bersifat jangka panjang pada pasien-pasien di
atasOperasi ini biasanya memakan waktu 3-6 jam. Pasien akan menerima anestesi
umum dan tidur selama operasi. Selama operasi, tulang dada dan rusuk akan
dibuka untuk mempermudah akses ke jantung. Pada saat operasi, detak jantung
akan dihentikan, lalu suhu jantung didinginkan, sementara itu, cairan pengawet
disuntikkan pada arteri jantung. Proses ini bertujuan untuk meminimalisasikan
kerusakan yang diakibatkan oleh penurunan aliran darah selama operasi. Lalu,
sirkulasi darah dan fungsi pernapasan akan diambil alih oleh mesin, yaitu mesin
jantung-paru (dari paru-paru pasien ke mesin jantung) yang disambungkan ke
tubuh pasien agar didapatkan darah yang kaya oksigen dan untuk menjaga darah
dan oksigen tetap mengalir menuju organ-organ tubuh selama operasi. Aorta
(pembuluh darah utama tubuh yang mengalikan darah dari jantung ke organ-organ
tubuh) akan diklem/dijepit selama operasi bypass jantung agat tidak mengalirkan
darah selama operasi berlangsung sehingga darah yang kaya oksigen dialirkan
melalui mesin jantung-paru ke organ-organ tubuh. Kadang, beberapa penyumbatan
atau penyempitan dapat di-bypass dalam satu operasi. Metode ini disebut sebagai
Traditional Coronary Artery Bypass Grafting, yang paling banyak digunakan. Pada
jaman sekarang, operasi bypass jantung dapat dilakukan tanpa menggunakan mesin
jantung-paru, sehingga jantung masih tetap berdetak. Metode ini dikenal dengan Off-Pump
Coronary Artery Bypass Grafting atau Beating Heart Bypass Grafting. Metode ini
meminimalisasikan komplikasi yang dapat terjadi ketika mesin jantung-paru
digunakan dan dapat mempercepat waktu penyembuhan. Terdapat satu lagi metode
terbaru yang mirip dengan metode kedua dalam operasi bypass jantung, yaitu
Minimally Invasive Direct Coronary Artery
Bypass
Grafting. Metode ini hanya memotong sedikit bagian dada pasien (menginvasi
secara minimal) dan biasanya digunakan bila pembuluh darah yang tersumbat itu
berada di depan jantung dan tempat sumbatan hanya berada pada satu arteri
koroner. Karena masih baru, maka prosedur ini masih sedikit dipraktikkan.
Pembuluh
darah cangkokan yang sering digunakan dalam operasi bypass jantung adalah vena
saphena yang terdapat pada tungkai bawah. Vena tersebut dicangkok dan dijahit
ke arteri koroner melewati bagian yang menyempit atau tersumbat. Bagian akhir
dari vena tersebut dilekatkan pada aorta. Peranan vena tersebut dalam
memperdarahi tungkai bawah akan diganti dengan vena-vena kecil yang terdapat
pada tungkai bawah tersebut. Selain vena saphena, pada zaman sekarang, juga
dapat digunakan arteri mamaria internal kiri yang terdapat pada dinding dada.
Arteri ini dipisahkan dari dinding dada dan dihubungkan dengan arteri koroner
dan/atau salah satu cabang arteri koroner yang tersumbat. Kelebihan menggunakan
arteri mamaria internal kiri ini adalah penggunaannya dapat lebih lama.
Sedangkan kekurangannya adalah arteri memiliki panjang yang terbatas, dan hanya
dapat digunakan pada sumbatan atau penyempitannya yang dekat. Selain itu,
kekurangan yang lain adalah dapat memperlama operasi bypass jantung karena akan
dibutuhkan waktu tambahan untuk memisahkan arteri tersebut dari dinding dada.
Oleh sebab itu, arteri ini tidak dapat digunakan pada operasi-operasi bypass
jantung yang bersifat darurat. Sekarang ini, diketahui juga dapat digunakan
pembuluh darah dari tempat lain, misalnya tungkai atas.
Setelah
operasi, pasien biasanya ditempatkan pada ruang ICU (Intensive Care Unit) agar
dapat dipantau dengan ketat fungsi jantung dan tanda-tanda vitalnya selama 1-2
hari. Hampir 25% pasien dapat mengalami gangguan ritme jantung dalam 3 atau 4
hari setelah operasi bypass jantung. Hal ini diakibatkan oleh trauma operasi
pada jantung. Namun, sebagian besar gangguan ritme ini dapat berespon baik
dengan terapi obat-obatan yang dapat mencapai satu bulan. Sekitar 5% pasien
membutuhkan perhatian ketat dalam 24 jam karena risiko perdarahan setelah
operasi. Ketika pemantauan ketat tidak diperlukan lagi, biasanya dalam waktu
2-3 hari setelah operasi, pasien akan dipindahkan ke unit perawatan transisi.
Rata-rata waktu rawat inap pasien yang menjalani operasi bypass jantung sekitar
3-8 hari. Jahitan dilepaskan dari dada atau dari tungkai bawah (jika menggunakan
vena saphena) sekitar 7-10 hari setelah keluar dari rumah sakit. Pasien dapat
sembuh total sekitar 4-6 minggu. Pasien dapat kembali bekerja sekitar 1-2 bulan
setelah operasi.
Setelah
operasi bypass dilakukan, pasien harus memperhatikan beberapa hal, yaitu:
* Karena peranan vena saphena diganti
dengan vena-vena kecil, maka akan timbul pembengkakan pada sisi bersangkutan.
Pasien disarankan untuk menggunakan kaus kaki atau stocking yang elastis selama
1-6 hari setelah operasi dan mengangkat tungkai bawah sisi bersangkutan ketika
duduk. Pembengkakan ini biasanya akan hilang sekitar enam sampai delapan
minggu.
* Penyembuhan tulang dada memakan waktu
sekitar 6-8 minggu dan ini akan membuat pergerakan tubuh pasien menjadi
terbatas. Pasien disarankan untuk tidak mengangkat atau menarik barang lebih
dari 5 kilogram atau melakukan aktivitas-aktivitas berat selama proses
penyembuhan. Pasien juga disarankan untuk tidak melakukan aktivitas yang
bersifat mengerak-gerakkan dada atau yang membuat dada menjadi terbebani,
seperti bersin atau batuk dengan keras, mengendarai kendaraan bermotor atau
melakukan hubungan seksual selama 4-8 minggu pertama untuk menghindari luka
pada dada.
* Pasien juga dianjurkan untuk mengubah
pola hidupnya menjadi sehat untuk menurunkan kemungkinan mendapatkan PJK
kembali, seperti berhenti merokok, menurunkan berat badan, diet rendah lemak,
mengontrol tekanan darah dan kadar gula darah, dan kolesterol.
* Pasien juga dianjurkan untuk rutin
memonitor keadaan pembuluh darah cangkokannya agar masalah pada pembuluh darah
cangkokan dapat diketahui lebih dini.
* Pasien juga diharapkan untuk rutin
mengontrol keadaan luka pasca operasi, baik pada dada maupun tungkai bawah
(jika digunakan vena saphena) agar tidak terjadi infeksi.
*
Pasien juga dapat mengalami nyeri
otot pada bahu dan punggung atas, lemas, perubahan mood atau depresi, sulit
tidur, kehilangan nafsu makan, dan konstipasi. Namun semua keluhan ini akan
hilang 6-12 minggu kemudian. Terdapat studi yang mengatakan bahwa jika dalam
operasi digunakan mesin jantung-paru, diduga pasien juga dapat mengalami hilang
ingatan dan perubahan lainnya, seperti sulit berkonsentrai atau berpikir.
Perubahan ini lebih banyak terjadi pada pasien yang sudah tua, yang mempunyai
penyakit tekanan darah tinggi atau penyakit paru-paru, yang sering minum
minuman beralkohol. Namun, keluhan ini akan membaik dalam beberapa bulan
setelah operasi.
* Akan dilakukan uji latihan rutin yang
dilakukan sejak empat sampai enam minggu setelah operasi dan hasilnya akan
menandakan untuk dimulainya program rehabilitasi jantung. Program rehabilitasi
tersebut terdiri dari program latihan selama 12 minggu yang meningkat secara
bertahap, dimana latihan dilakukan selama satu jam, tiga kali seminggu.
Pengaturan Suhu Tubuh
Hipotermi adalah suatu keadaan dimana suhu tubuh berada
di bawah 35 derajat celcius. Sedangkan Hipotermi menurut Rutter tahun 1999
adalah suhu inti tubuh dibawah 36 derajat celcius.
Hipotermi
terjadi karena penurunan suhu tubuh yang disebabkan oleh berbagai keadaan,
terutama karena tingginya kebutuhan oksigen dan penurunan suhu ruangan. Penurunan
suhu tubuh dalam waktu 15 menit,
sehingga metabolisme jaringan meningkat dan kebutuhan oksigen juga meningkat.
Hipotermi
merupakan suatu tanda bahaya karena dapat menyebabkan terjadinya perubahan
metabolisme tubuh yang akan berakhir dengan kegagalan fungsi jantung paru dan
kematian.
Tujuan
induced hypothermia adalah mencegah kematian sel otak baik akibat langsung
daari iskemia maupun reperfusion injury. Hipothermia menurunkan metabolisme sel
sehingga balans oksigen (pasokan-kebutuhan) lebih baik selain itu menurunkan
kerentanan sel terhadap radikal bebas/mediator yang beredar saat reperfusi
sehingga kematian sel dapat dikurangi. Target tehnis dari tindakan ini adalah
menurunkan suhu otak sampai sekitar 31oC-32oC (suhu inti tubuh 32oC-34oC)
secepat mungkin, tehnik whole body hypothermia dalam waktu kurang dari 6 jam
sejak terjadinya episoda iskemik otak memberikan hasil yang memuaskan.
Tergantung kasus dan status neurologis yang dihasilkan penerapan tindakan ini
dapat berlangsung lebih dari 24 jam.
TEMA
: RADIOTERAPI
Artikel
Kanker
saat ini menjadi penyakit dengan sebaran yang tinggi di samping jantung, dan
penyakit pembuluh darah. Di RSUP Dr Kariadi, Semarang, hampir di setiap bangsal
terdapat pasien dengan penyakit mematikan tersebut. Untungnya, teknologi
kedokteran yang berkembang pesat membuat harapan hidup penderita kanker kini
semakin besar, terutama jika deteksi dilakukan lebih dini.
Salah
satu cara pengobatan kanker adalah dengan radioterapi, yakni metode yang
menggunakan energi pengion (x-ray, zat radioaktif) kepada lokasi tumor atau
kelenjar getah bening. "Pengobatan lain adalah dengan pembedahan dan
kemoterapi. Kombinasi ketiga metode akan memberikan hasil yang lebih
optimal," ujar spesialis Radiologi dari RSUP Dr Kariadi, Semarang, Dr
Christina Hari Nawangsih SpRad.
Pengobatan
dengan radioterapi sudah ada sejak kurang lebih seratus tahun lalu, tidak lama
setelah Prof. Willem Conrad Roentgen menemukan sinar X. Dengan berkembangnya
ilmu kedokteran dan teknologi, metode ini makin mendapat tempat dalam
pengobatan penyakit kanker.
Prinsip
pengobatan ini adalah apabila berkas sinar radioaktif atau partikel dipaparkan
ke jaringan, maka akan terjadi berbagai peristiwa antara lain peristiwa
ionisasi molekul air yang mengakibatkan terbentuknya radikal bebas di dalam sel
yang pada gilirannya akan menyebabkan kematian sel. Lintasan sinar juga
menimbulkan kerusakan akibat tertumbuknya DNA (deoxy ribonucleic acid) yang
dapat diikuti kematian sel.
Sebenarnya
baik sel kanker maupun sel normal akan mengalami peristiwa yang sama, hanya
saja pada sebagian besar jenis kanker memperlihatkan kepekaan yang lebih tinggi
terhadap sinar ini daripada sel-sel normal. Jadi diharapkan, pada pengobatan
penyakit kanker, semua sel kanker telah mengalami kematian sebelum terjadi
cedera yang berlebih pada sel-
UNIT
radiologi RSUP Dr. Kariadi sel normal yang masih hidup. Jadi saat pemberian
radiasi dihentikan, sel normal ini akan kembali sehat seperti sediakala.
Untuk
itu, sinar yang diberikan tidak boleh melewati ambang dosis kemampuan hidup sel
normal. Jaringan yang ikut terpapar radiasi juga tidak boleh terlalu banyak.
Ini berarti makin sedikit jumlah sel kanker yang disinar makin tinggi
kemungkinan penyembuhannya. Jadi, bila benjolan relatif masih kecil maka
pengobatan akan lebih efektif.
Dr
Hari Nawangsih menambahkan, pengobatan radioterapi biasanya diberikan dalam
beberapa minggu. Daerah yang disinari adalah yang tidak bisa dijangkau oleh
pembedahan. Sebagai misal pada kanker nasofaring (daerah di belakang rongga
hidung sampai di bawah atap tulang tengkorak) dan kanker otak.
"Dari
tingkat keganasannya, kanker yang banyak dijumpai di Kariadi adalah leher
rahim, payudara dan nasofaring. Selain itu saat ini mulai banyak yang menderita
kanker paru-paru. Biasanya pasien datang dalam kondisi stadium lanjut karena
kadangkala gejala kanker paru tidak terasa di stadium awal," kata Dr Hari
Nawangsih.
Dalam
penggunaannya, radioterapi bisa diberikan sebelum, bersamaan, ataupun setelah
pengobatan. Hal ini tergantung tujuannya, apakah untuk tujuan kuratif yaitu
kesembuhan atau tujuan paliatif yakni dalam rangka memperbaiki kualitas hidup
penderita.
Meski
teknologi semakin canggih, ditandaskan Dr Hari Nawangsih, paling utama adalah
tetap menjaga kesehatan dengan menjaga pola makan (diet) terutama menghindari
makanan kaya lemak, istirahat yang cukup dan olahraga.
Karena,
sehebat apa pun pengobatan tetap memiliki efek samping. Untuk Radioterapi,
dampak penggunaannya antara lain kulit kemerahan, timbul gelembung, kerusakan
kulit, hingga terjadi ulkus atau jaringan nekrotik. Juga, efek lanjutan seperti
pengerutan jaringan atau fibrosis, mulut kering, dan pendarahan.
TERAPI PROTON
Terapi Proton menawarkan keuntungan
yang mengubah hidup untuk anak-anak dengan kanker.
Sinar energi sangat terfokus menambahkan
dibutuhkan banyak senjata dalam mengobati tumor otak, dengan efek samping yang
lembut
Rumah
Sakit Anak Philadelphia mengumumkan ketersediaan terapi proton, suatu bentuk
yang tepat dari radiasi kanker yang menawarkan berpotensi mengubah hidup
manfaat bagi anak-anak dengan tumor otak dan tumor padat lainnya. Pusat Kanker
Rumah Sakit ini baru-baru mulai menggunakan pengobatan proton pada baru Roberts
Proton Therapy Center, pemotongan-tepi onkologi radiasi fasilitas yang terletak
di seberang jalan dari Rumah Sakit Anak di Penn Kedokteran Perelman Pusat
Kedokteran Lanjutan.
Dengan
seorang anak didiagnosis dengan tumor otak, orang tua sering menghadapi dilema
yang kejam. Radiasi pengobatan konvensional yang menawarkan hidup seringkali
risiko efek samping yang parah, termasuk kerusakan jaringan sehat di
sekitarnya, serta gangguan pendengaran, pertumbuhan visi, dan kognisi.
Setelah-efek dapat menghambat kehidupan sehari-hari anak dan dapat membawa
prospek cacat seumur hidup dan ketergantungan. Bahkan, efek samping yang
berpotensi menghancurkan cukup bahwa terapi radiasi konvensional tidak
diberikan kepada anak di bawah usia dua.
Roberts
Proton Therapy Center adalah fasilitas terapi proton hanya di negara dipahami
dengan pasien anak-anak dalam pikiran dari tahap perencanaan awal. Anak-anak
yang menerima terapi proton dalam $ 140.000.000 negara-of-the-art fasilitas
manfaat dari kolaborasi lama antara Rumah Sakit Anak dan onkologi radiasi di
Penn Kedokteran. Pasien muda pengalaman keluarga yang berfokus pada perawatan
pediatrik dari tim medis yang memahami kebutuhan unik anak-anak dengan kanker,
sambil memberikan dukungan emosional untuk seluruh keluarga. Setiap detail
telah dipertimbangkan - dari penjadwalan perawatan pagi untuk anak-anak yang
tidak bisa makan sebelum anestesi, untuk menawarkan kamar anak yang
berorientasi berdedikasi tunggu dan ruang anestesi pediatrik khusus.
"Ketika
program anak Roberts Proton Therapy Center adalah sepenuhnya operasional,
Cancer Center di Rumah Sakit Anak akan dapat merawat anak-anak lebih banyak
dengan terapi proton daripada semua pusat proton Amerika lainnya digabungkan,
sehingga mengurangi dampak negatif dari terapi kanker untuk anak-anak dari
Philadelphia daerah dan di seluruh negeri "kata John M. Maris, MD, kepala
Onkologi dan direktur Pusat Kanker di Rumah Sakit Anak Philadelphia.
Dengan
program yang luas dari layanan yang komprehensif, Pusat Kanker adalah salah
satu program terbesar kanker pediatrik di Amerika Serikat. Semua perawatan
kanker tersedia di satu lokasi, termasuk kunjungan dokter, praktikum dan
berbagai terapi. Dalam daftar yang paling terakhir, US News & World Report
peringkat Rumah Sakit Anak pertama dalam perawatan kanker antara rumah sakit
anak-anak Amerika itu.
Selain
aplikasi untuk tumor otak, terapi proton juga mungkin cocok untuk kanker kepala
dan leher, dan tumor yang terletak dekat jantung, sumsum tulang belakang dan
paru-paru-situs makin mendekati ke organ vital.
Munculnya
terapi proton memberikan pengurangan dramatis dalam efek samping bila
dibandingkan dengan radiasi konvensional. Karena proton dapat lebih tepat
ditujukan dan berkonsentrasi pada tumor, kurang banyak energi dampak jaringan
normal di depan dan belakang massa kanker. Pada saat yang sama, dokter dapat
meningkatkan dosis radiasi difokuskan pada tumor untuk manfaat optimal.
Proton
bermuatan positif partikel, ditemukan dalam inti setiap atom, namun dibuat
tersedia dalam terapi ini dengan pengupasan elektron dari atom hidrogen.
Meskipun sering dimanipulasi oleh fisikawan energi tinggi akselerator partikel
dalam pengaturan penelitian sejak pertengahan abad ke-20, proton hanya bertahap
menjadi bagian dari praktek medis. Sekarang ini hanya ada tujuh pusat terapi
proton di Amerika Serikat.
TEMA
: HEWAN KARNIVORA
Istilah
Karnivora (satwaboga, atau maging) adalah hewan yang makanannya kebanyakan
adalah daging, baik yang dimakan hidup-hidup atau berasal dari daging hewan
yang sudah mati. Kata karnivora berasal dari bahasa Latin carne yang berarti
daging dan vorare yang berarti "memakan"). Kata ini juga dapat
digunakan untuk menyebut mamalia dalam ordo Carnivora yang pada umumnya sesuai
dengan definisi pertama. Jadi Karnivora adalah jenis binatang yang memakan
makanan yang berasal dari tubuh hewan lainnya seperti daging, darah, dan
sebagainya. Hewan ini disebut juga sebagai hewan predator.
Contoh hewan carnifora
adalah singa, macan, harimau, cheetah, piranha, burung bangkai, burung pemakan
serangga, ikan arwana, dan lain sebagainya.
Gigi
hewan karnivora atau pemakan daging beradaptasi menjadi empat gigi taring besar
dan runcing untuk menangkap mangsa, serta gigi geraham dengan ujung pemotong
yang tajam untuk mencabik-cabik mangsanya.
TEMA
: GANGGANG
PENGARUH UPWELLING TERHADAP LEDAKAN ALGA (BLOOMING ALGAE)
DI LINGKUNGAN PERAIRAN LAUT
Fitoplankton
adalah organisme satu sel
mikroskopik yang hidup di perairan tawar maupun laut. Kebanyakan fitoplankton
tidak berbahaya selama pertumbuhannya normal dan tidak mengganggu ekosistem di
sekitamya karena pada dasamya fitoplankton adalah produsen energi (produsen primer) pada suatu rantai makanan dalam
ekosistem. Tetapi bila pada perairan tertentu
terjadi pertumbuhan alga yang sangat berlimpah yang dikenal dengan nama ledakan alga atau Blooming Algae dan dikenal juga
dengan istilah HABs (Harmful Alga Blooms) karena berlimpahnya nutrien pada
badan air, maka akan berdampak besar terhadap lingkungan perairan tersebut.
Hasil-hasil
penelitian menyebutkan bahwa peledakan alga selain disebabkan
karena buangan domestik yang dibawa aliran air sungai yang masuk ke perairan laut yang
mengakibatkan tingginya konsentrasi nutrien di suatu badan air (seperti
Nitrogen, Fosfor dan Silikat), maka unsur hara yang cukup banyak bisa terkumpul
di suatu kawasan laut yang relatif tenang semisal teluk, akibat pergerakan arus yang memusat dan menuju ke
tempat tertentu. Hal ini dapat diakibatkan
oleh faktor alam (upwelling) dan pengaruh elnino atau lanina atau kurangnya
zooplankton (kopepoda) herbivora yang mengontrol
populasi fitoplankton. Namun, secara umum,
pemicu kejadian ledakan alga adalah kombinasi atau gabungan dari perubahan
beberapa parameter di suatu badan air. Walaupun bukan merupakan faktor utama
dalam terjadinya ledakan alga, tetapi pengaruh
upwelling cukup signifikan bila terjadi bersama sarna dengan pemicu lainnya.
Makalah ini akan membahas pengaruh upwelling terhadap ledakan alga.
UPWELLING
Upwelling
sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi
ledakan alga, dapat didefinisikan sebagai
peristiwa menaiknya massa air laut dari
lapisan bawah ke permukaan (dari kedalaman 150
– 250 meter) karena proses fisik perairan.
Proses upwelling terjadi karena kekosongan
massa air pada lapisan permukaan, akibat
terbawa ke tempat lain oleh arus. Upwelling
dapat terjadi di daerah pantai dan di laut
lepas. Di daerah pantai, upweling dapat
terjadi jika massa air lapisan permukaan
mengalir meninggalkan pantai. Untuk laut
lepas, proses upwelling dapat terjadi karena
adanya pola arus permukaan yang menyebar (divergence), sehingga massa air dari
lapisan bawah permukaan akan mengalir ke atas mengisi
kekosongan yang terjadi karena menyebamya arus. Adanya proses ini ditandai dengan
turunya suhu permukaan laut yang cukup mencolok (sekitar 2°C untuk daerah
tropis, dan > 2°C untuk daerah sub tropis).
Upwelling dapat dibedakan menjadi
beberapa jenis, yaitu:
I. Jenis tetap (stationary
type), yang terjadi sepanjang tahun
meskipun intensitasnya dapat berubah ubah.
Di sini akan berlangsung gerakan
naiknya massa air dari lapisan bawah secara mantap
dan setelah mencapai permukaan, massa air bergerak secara horizontal ke luar, seperti yang terjadi di lepas pantai
Peru.
2. Jenis berkala (periodic
type) yang terjadi hanya selama satu musim saja. Selama air naik, massa air
lapisan permukaan meninggalkan lokasi air naik, dan massa air yang lebih berat
dari lapisan bawah bergerak ke atas mencapai permukaan.
3. Jenis silih berganti (alternating
type) yang terjadi secara bergantian dengan penenggelaman massa air (sinking). Dalam satu musim, air ringan di lapisan permukaan bergerak ke luar dari lokasi terjadinya air naik dan air lebih berat di lapisan bawah bergerak ke atas yang kemudian tenggelam. Di
Indonesia, arus upwelling yang terjadi hanya
jenis berkala dan jenis silih berganti dan hanya ada di perairan tertentu dan
hanya pada musim timur. Oaerah tempat upwelling seperti di Laut Banda sebelah selatan
Pulau Jawa sampai Lombok utara, Pulau Halmahera, Laut Cina Selatan, Laut Maluku
dan Setat Makasar. Selain melandainya suhu permukaan, keberadaan upwelling juga
ditandai oleh naiknya unsur hara atau nutrien
pad a lokasi tersebut, karena massa air bawah permukaan pada umumnya lebih kaya zat hara dibanding dengan lapisan
permukaannya. Nutrien, khususnya pospat dan silikat di zona fotik sangat
berpengaruh terhadap produktivitas fitoplankton, dan oleh karena itu pada
lokasi upwelling akan ditemui fitoplankton dalam jumlah yang besar.
Peningkatan
populasi fitoplankton yang sangat tinggi dan cepat akan berakibat pada beberapa
hal, antara lain : (1). Kematian massal ikan-ikan di laut, (2). Terjadinya kontaminasi
sea food, (3). Problem kesehatan masyarakat (keracunan), dan (4) perubahan
struktur komintas ekosistem.
Fenomena
peningkatan populasi fitoplankton
semata-mata adalah fenomena alami, dan tidak
selalu menimbulkan efek yang berbahaya. Namun,
bila yang terjadi adalah peningkatan populasi
fitoplankton berbahaya, maka perlu diantisipasi kemungkinan
terjadinya salah satu kombinasi dari keempat
hal tersebut.
Keberadaan
HABs secara umum sebenamya dapat diklasifikasikan dalam 2
kelompok penyebab, antara lain (I) organisme fitopI
ankton yang dapat mengeluarkan zat racun spesifik sehingga mengakibatkan
kematian ikan, meskipun densitas
fitoplanktonnya rendah (kelompok deskriminatif), dan (2) organisme yang tidak
mengeluarkan zat beracun, namun karena jumlahnya
(densitas) yang sangat tinggi telah
mengakibatkan terjadinya dampak negatif dan merusak, seperti penurunan kandungan
oksigen terlarut karena proses pembusukan, penyumbatan insang oleh sel sel
fitoplankton dan pengeluaran gas/uap yang mematikan (aerosol) (kelompok non
diskriminatif). Masing-masing dari kelompok ini dapat
mengakibatkan kematian ikan secara masal. Penyebab terjadinya proses HABs masih
belum diketahui dengan pasti, namun merupakan
kombinasi mekanisme biologi, fisika dan kimia yang terjadi di laut. Sekalipun HABs sering dikaitkan dengan proses eutrofikasi,
namun tidak jarang HABs terjadi juga di daerah yang tidak berpenduduk. Selain
aspek eutrofikasi, ada juga kemungkinan
masuknya nutrien dari sungai, air, hujan, atau terbawa arus termasuk di dalamnya arus yang naik ke permukaan yang
disebut juga dengan proses upwelling. terjadi
juga di daerah yang tidak berpenduduk. Selain aspek eutrofikasi, ada juga kemungkinan masuknya nutrien dari sungai, air, hujan,
atau terbawa arus termasuk di dalamnya arus
yang naik ke permukaan yang disebut juga dengan proses upwelling.
TEMA
: PABRIK PENISILIN
A. Sejarah Penemuan Penicillin
Penemu penisilin
adalah Alexander Fleming. Ia adalah seorang ilmuwan berkebangsaan Skotlandia
yang lahir di kota Lochfield, Skotlandia pada 6 Agustus 1881. Fleming
menyelesaikan sekolahnya di Louden Moor School, Darvel School, dan Akademi
Kilmarnock sebelum akhirnya pindah untuk meneruskan kuliahnya di Politeknik. Selepas
menyelesaikan studinya, Fleming sempat bekerja di perusahaan pelayaran. Namun
ia tidak menyukai pekerjaan tersebut. Itulah sebabnya ketika ia memperoleh
bagian harta warisan dari salah seorang saudaranya, ia memutuskan keluar dari
pekerjaannya dan belajar kedokteran di Sekolah Kedokteran Rumah Sakit St. Mary
di London. Setelah lulus, ia bekerja di tempat Almroth Wright yang sangat
meyakini kemanjuran vaksinasi untuk mencegah penyakit. Namun, Fleming berpikir
bahwa mungkin ada cara lain untuk menanggulangi infeksi.
Sewaktu Perang
Dunia I berlangsung (1914-1918), Fleming terinspirasi oleh prajurit-prajurit
yang terluka di medan perang. Imunisasi ternyata tidak mampu menghentikan
infeksi bakteri yang menyerang bagian tubuh yang terluka. Fleming pun bertekad
untuk menemukan sesuatu yang mampu menghancurkan serangan bakteri tersebut.
Pada tahun 1922,
ia menemukan bahwa tubuh manusia sebenarnya mengandung sejumlah enzim dalam air
mata dan lendir yang mampu membunuh dengan cepat bakteri-bakteri tertentu. Pada
tahun 1928, terjadi peristiwa tak disengaja yang mengantarnya menemukan
penisilin. Saat itu sebelum berlibur selama dua minggu, ia meninggalkan piring
berisi bakteri Staphylococcus di bangku laboratoriumnya. Ketika itu, ia sedang
membuktikan teori favoritnya bahwa lendir hidung memiliki efek antibakteri.
Sewaktu ia kembali, sebuah lingkaran kering menyelubungi pertumbuhan jamur
kuning kehijauan yang secara tak sengaja mengontaminasi piring itu. Tanpa
diketahuinya, spora dari jenis Penicillium natatum telah mampir dari
laboratorium mikologi yang berada satu lantai di bawah laboratorium Fleming.
Saat terjadi
musim dingin, jamur dalam lingkaran tadi berkembang. Disaat suhu naik, bakteri
Staphyloccocus telah tumbuh menutupi permukaan piring, kecuali daerah sekitar
jamur. Dengan wawasan pribadi dan penalaran deduktif yang hebat, Fleming
menyimpulkan bahwa jamur Penicilium notatum dapat melepaskan zat kimia yang
mampu menghambat pertumbuhan bakteri.
Penemuan ini
mengubah jalan sejarah. Ramuan aktif pada jamur yang dinamai Penisilin itu,
terbukti sebagai alat penghambat bakteri secara mujarab. Penemuan ini juga
telah mengubah cara penanganan infeksi. Penemuan ini pula yang mengubah industri
farmasi dengan skala besar membuat penisilin sintetis untuk menaklukkan momok paling tua manusia, termasuk sifilis, gangrene,
dan TBC.
B. Pengertian Fermentor
Fermentor
adalah sebuah alat yang digunakan untuk memproduksi mikrobia untuk melakukan fermentasi.
Produk-produk berbasis mikroba seperti biofertilizer, biokontrol, biopestisida,
biodekomposer, ataupun produk biomassa mikroba memerlukan fermentor untuk
memproduksinya. Fermentor untuk memproduksi mikroba ini tidak harus
berteknologi tinggi. Fermentor dapat dibuat dengan peralatan sederhana, namun
fungsional. Bahkan bisa dibuat sendiri dengan biaya yang terjangkau.
Fermentor
terdiri dari beberapa bagian, yaitu:
·
Tabung fermentor, yaitu tabung untuk
menempatkan media. Tabung ini bisa dibuat dari galon air mineral.
·
Penutup tabung, bisa dibuat dari penutup
karet.
·
Pipa inlet. Pipa kaca kecil yang
dihubungkan dengan pompa udara. Pipa kaca ini berukuran panjang hingga hampir
menyentuh dasar tabung. Pipa ini terendam di dalam larutan media.
·
Pipa outlet. Pipa kaca kecil yang lebih
pendek dari pipa inlet dan ujung bagian dalam berada di atas permukaan media.
Ujung selang outlet direndam dalam larutan clorin/pemutih atau alcohol.
·
Selang karet. Selang untuk menhubungkan
pipa-pipa kaca.
·
Millipore. Saringan udara berukuran 0.2
um untuk sterilisasi udara yang masuk ke dalam fermentor.
·
Pompa udara. Pompa udara untuk
memberikan aerasi pada media kultur. Pompa udara bisa menggunakan pompa udara
untuk aquarium.
·
Botol. Botol yang diberi air dan larutan
pemutih (clorin).